Ketua DPD RI Berharap Rencana Kenaikan Tarif PPN Dilakukan Usai Pandemi

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

Jakarta, Sumselupdate.com – Rencana pemerintah menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN), mendapat tanggapan dari Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Ia berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi pandemi sebelum merealisasikan rencana itu.

Rencananya pemerintah akan meningkatkan tarif PPN tahun depan. Pembahasan soal rencana kenaikan tarif PPN akan dibawa ke DPR melalui revisi Undang-undang (UU) tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP).

Read More

LaNyalla memahami, kebutuhan pemerintah agar penerimaan pajak mencapai target merupakan hal penting. Apalagi akibat pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), perekonomian negara mengalami kontraksi.

“Kami memahami jika peningkatan tarif PPN, dari yang saat ini berlaku sebesar 10 persen, akan membantu penambahan anggaran. Hanya saja, saya mengimbau agar rencana kenaikan PPN dilakukan setelah pandemi berlalu,” ujar LaNyalla, Jumat (7/5/2021).

Menurutnya, kondisi para pengusaha saat ini belum stabil. Masih banyak perusahaan, termasuk untuk kalangan menengah, yang terdampak pandemi.

Pemerintah memang sudah memberikan sejumlah stimulus bagi kalangan usaha untuk membantu bertahan di tengah pandemi Covid. Namun keadaan yang belum membaik diharapkan menjadi pertimbangan pemerintah untuk menunda rencana kenaikan PPN.

“Ekonomi belum berjalan dengan normal, para wajib pajak perlu waktu untuk mengembalikan kondisi agar lebih baik. Jadi, kami berharap agar pemerintah tidak menambah beban usaha dengan kenaikan PPN saat pandemi,” katanya.

Dia menilai kenaikan tarif PPN merupakan hal yang wajar. Apalagi, pemerintah sudah menurunkan tarif pajak penghasilan (PPh) Badan dari 25 persen menjadi 22 persen.

Kenaikan tarif PPN dinilai akan menjadi kompensasi agar potensi kehilangan sumber pajak korporasi melalui penurunan pajak PPh Badan, bisa didapat dari kenaikan tarif pajak PPN.

“Dalam UU Nomor 42 tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, tarif PPN diisyaratkan berada di kisaran 5-15 persen, jadi kalau ada kenaikan hingga 15 persen bisa diterapkan. Dan memang sudah menjadi kebutuhan. Namun alangkah lebih bijaksana apabila kenaikan tersebut menunggu waktu yang tepat,” tutur LaNyalla.

Senator dari Jatim itu juga menyoroti, bagaimana saat ini perusahaan-perusahaan banyak yang gulung tikar akibat pandemi. Pemerintah diharapkan mendengarkan harapan pengusaha mengenai rencana kenaikan tarif PPN ini.

“Mungkin bisa dilakukan tahap demi tahap. Dimulai dari pencabutan insentif pajak. Lalu saat kondisi pasca-pandemi perekonomian semakin membaik, baru kebijakan kenaikan tarif PPN diterapkan. Karena kalau tidak hati-hati, kenaikan PPN juga bisa berdampak pada daya beli masyarakat, yang saat ini saja masih turun,” paparnya. (duk)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.