Kerajinan Tangan dari Ujan Mas Muara Enim, Geliat UMKM Sebuah Asa Bersama JNE

Minggu, 21 Mei 2023
Dadang Rusmanadi Putra saat menganyam rotan dan bambu untuk dijadikan produk kerajinan tangan berupa ambung atau keranjang.

Pandemi Covid-19 justru momentum UMKM kerajinan tangan anyaman rotan dan bambu di Dusun VI, Desa Ulak Bandung, Kecamatan Ujanmas, Kabupaten Muara Enim, kian dikenal luas. Masyarakat cenderung membeli melalui pasar online dan bersamaan itu jasa ekspedisi ikut menggeliat.

Laporan: Edwar Heryadi

Read More

PAGI itu, Jumat (7/1/2023) Dadang Rusmanadi Putra, seperti biasa duduk di sebuah pondok kayu yang sederhana yang berada di samping kediamannya di Dusun VI, Desa Ulak Bandung, Kecamatan Ujanmas, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Jari jemari Dadang bergerak lincah merajut dan menganyam rotan dan bambu untuk dijadikan produk kerajinan tangan.

Setelah beberapa jam bekerja, Dadang menyelesaikan satu produk kerajinan tangan berupa keranjang. Sambil menyeka keringat, Dadang menyerumput kopi yang sudah tak hangat lagi.

Sudah cukup lama Dadang menekuni profesi membuat produk kerajinan tangan berupa ambung atau keranjang, sangkar burung, dan lampion yang terbuat dari anyaman rotan dan bambu.

“Alhamdulillah kita sudah cukup lama memproduksi sangkar burung ini sejak masih kecil. Saat itu masih kelas VI SD dengan belajar secara otodidak. Di mana asalnya sekadar hobi, namun saat itu hanya dibuat untuk pribadi dan warga sekitar sini,” ujar Dadang memulai pembicaraan dengan Sumselupdate.com.

Dadang mengatakan dalam sehari dirinya bisa memproduksi tiga sampai lima kerajinan tangan berupa keranjang, sangkar burung, dan lampion.

Dari kerajinan tangannya itu, Dadang bisa mandiri dan menjadi salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang cukup dikenal di desanya.

“Kalau satu hari untuk sangkar burung standar bisa tiga buah kita buat, lampion lima buah. Kalau yang grade satu bermotif durian dan motif lainnya menghabiskan waktu 4-5 hari,” terangnya.

Mengenai harga, Dadang mengatakan bervariasi dari harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Jika lampion standar dibuka dengan harga Rp50 ribuan per buah, jika grade satu pakai ukiran mencapai Rp2,5 juta per lampion.

Sedangkan sangkar burung dengan grade satu yang terbuat dari kombinasi bambu, kayu, dan rotan, harganya bisa mencapai Rp2,5 juta per buah dan sangkar burung berdiameter 60 sentimeter dengan memakai ukiran, harganya paling murah Rp1 jutaan.

Untuk pemasaran, Dadang mengatakan bisa dibeli di berbagai toko yang ada di Kabupaten Muara Enim maupun dijual secara online.

“Untuk pesanan tiga sampai lima buah per hari untuk sangkar burung dan lampion yang standar. Kalau yang besar paling satu hingga tiga buah dalam sebulan ada yang pesan,” bebernya.

Dadang mengaku pandemi Covid-19 justru penjualan kerajinan tangannya meningkat. Pada masa pandemi, masyarakat cenderung lebih membeli melalui pasar online.

Untuk mengirimkan produk kerajinan tangan kepada pembeli yang memesan secara online, Dadang mengaku memakai jasa JNE.

Tidak hanya itu, Dadang mengaku kerap membeli bahan-bahan produksi melalui e-commerce dan meminta penjual mengirim pesanannya menggunakan jasa ekspedisi JNE.

Dadang mengungkapkan alasannya sering memakai jasa JNE. Selain lebih cepat dari estimasi waktu yang sudah ditentukan, juga ongkos kirim JNE dari jasa pengiriman lainnya, cukup bersaing.

Keunggulan lain, menurut Dadang, JNE memiliki berbagai macam pilihan layanan, mulai dari pengiriman JNE Ekspress, JNE Yes atau Oke maupun JNE Trucking.

“Selain memanfaatkan internet sebagai media pemasaran, saya harus jeli dan cermat memilih jasa ekspedisi pengiriman barang. Maka itu, saya sangat bersyukur saat ini bisa menjual produk-produk saya hingga ke luar daerah dengan memanfaatkan layanan JNE. Selain selalu datang tepat waktu, JNE sering memberikan program diskon ongkir,” bebernya.

Ketelitian dan kesabaran dalam membuat produk, kerajinan tangan hasil karya Dadang Rusmanadi Putra sudah dikenal cukup luas di Kabupaten Muara Enim.

Hasil kerajinan tangan Dadang ditampilkan dalam pameran pada stand Kecamatan Ujan Mas di kegiatan Dewan Kesenian Daerah (Dekranasda) Kabupaten Muara Enim di Balai Agung Serasan Sekundang pada Senin (1/11/2021).

Pada saat itu, kerajinan tangan hasil olahan Dadang menjadi perhatian PJ Bupati Muara Enim H Nasrun Umar (HNU).

Nasrun Umar sempat ikut belajar menganyam ambung yakni sebuah keranjang yang terbuat dari rotan dan bambu.

Camat Ujan Mas Hasman Hadi mengatakan jika Dadang Rusmanadi Putra, merupakan satu dari ratusan warga Ujan Mas yang mengandalkan sumber pendapatan dari kerajinan tangan menganyam ambung, sangkar burung, dan lampion.

Menurutnya, kerajinan tangan menganyam ambung, sangkar burung, dan lampion merupakan kebiasaan masyarakat Ujan Mas secara turun temurun.

Dadang Rusmanadi Putra menunjukkan sangkar burung hasil produk kerajinan tangannya.

Peran Penting Jasa Ekspedisi Terhadap UMKM

Dua tahun pasca-meredanya pandemi Covi-19, sudah menjadi titik kebangkitan UMKM dapat kembali mengembangkan sayap.

Terbukti kini pasca-pandemi, pertumbuhan ekonomi Indonesia melaju cepat. Bahkan pada tahun 2022 dari data Badan Pusat Statistik menunjukkan angka 5.31 persen.

Oleh karenanya di tahun 2023 menjadi kebangkitan bagi Indonesia, terutama pada sektor usaha mikro yang kembali mendapatkan gairahnya kembali.

Semua itu tak terlepas dari peran penyedia jasa ekspedisi sebagai penyambung antara produsen dan konsumen tanpa mengenal batasan jarak.

Bahkan keberadaan ekspedisi juga dinilai vital selama pandemi Covid-19, di mana menjadi opsi pilihan bagi UMKM tetap berjalan d itengah batasan-batasan yang diterapkan saat itu.

Pengamat Ekonomi Sumsel, Dr Sri Rahayu, SE, MM yang menyebut salah satu contoh industri makanan khas Kota Palembang  seperti pempek, kemplang, dan kerupuk ikan, yang selama pandemi Covid-19 cukup bergantung pada ekspedisi untuk menyalurkan produk mereka.

“Seperti yang kalau saya lihat di JNE, pagi-pagi sudah ramai warga mengantre. Di mana yang saya lihat mereka kirim itu seperti pempek dan kemplang. Dan ya semoga saja ini semakin menggeliat,” kata Sri Rahayu yang juga menjabat Direktur Program Pasca-Sarjana Universitas Muhammadiyah Palembang.

Sri Rahayu juga setuju bahwa keberadaan penyedia jasa ekspedisi ini berperan penting terhadap UMKM kembali menggeliat.

Apalagi padaisaat ini, sudah banyak sekali perusahaan perusahaan ekspedisi yang menawarkan kemudahan terhadap UMKM.

“Saya juga sudah menguji sendiri ada yang sangat murah sekali dengan berat yang sama dan tujuan yang sama tapi berbeda. Tapi kembali lagi brand image-nya ini terjadi sama saya waktu mau ngirim itu lupa sama brand yang baru dan ingatnya dengan yang sudah lama, karena pengalaman kita bagus dengan brand tersebut,” ujar Sri yang kini juga menjabat sebagai Ketua Forum Kebersamaan Wirausaha (Forketas) Sumsel.

Bahkan kini untuk dapat menjadi andalan, Sri Rahayu melihat beberapa penyedia jasa ekspedisi ini juga merangkul pelaku UMKM sebagai binaan maupun CSR dari perusahaan mereka.

“Tinggal nanti penelitian lebih lanjut, sebab ini sangat menarik bagi saya dari akademisi pendekatan yang dilakukan perusahaan ekspedisi kepada UMKM itu sebagai bagian dari biaya iklan mereka atau CSR mereka,” ucapnya.

Terlepas itu, satu kritik yang disampaikan Sri Rahayu terhadap keberadaan perusahaan ekspedisi, yakni dapat membantu UMKM guna mengembangkan sayap hingga ke manca negara.

“Sebab saya pernah ada pengalaman waktu saya mau mengirim cindramata kepada nara sumber saya dari India, rupanya ditolak tanpa ada kejelasan dan dalam waktu yang lama,” jelasnya

Sri Rahayu menyebut penyedia jasa ekspedisi juga harus siap, baik dengan hubungan luar negeri untuk membantu UMKM dapat lebih menggeliat ke pasar global.

“Kalau sampai saat ini ‘kan masih tahap jasa titip, minimal ekpedisi memikirkan hubungan luar negeri untuk dapat masuk ke pasar global,” tuturnya. (**)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts