Baturaja, Sumselupdate.com – Kelesuan sektor ekonomi masih menjadi kendala bagi sebagian besar pedagang makanan, terutama yang menjajakan makanan menggunakan gerobak dorong.
Pasalnya, sejak hampir setahun ini, para pedagang makanan mengaku mengalami kerugian, lantaran pendapatan yang terus menurun. Hal itu berbanding terbalik dengan semakin meningkatnya harga kebutuhan pokok, seperti cabe merah, gula pasir dan telur.
Seperti dikatakan Udin (30), pedagang gorengan di Jalan A Yani, Kemelak mengaku sejak setahun terakhir pendapatannya terus menurun. Namun seiring waktu pendapatannya terus menurun.
Bahkan sejak memasuki akhir 2015, pendapatannya dari menjual gorengan turun drastis.
“Kalau saat ini sehari dapat Rp500 ribu itu sudah sangat besar. Saat ini secara rata-rata perhari saya hanya dapat antara Rp250 ribu/hari.
Sedangkan modal saja bisa mencapai Rp150-200 ribu, Kalau semua stok bahan habis bisa lebih besar,” keluh Udin, saat dibincangi, Jumat (3/2/2017).
Menurunnya omzet penjualan gorengan, menurut sarjana ekonomi ini terjadi sejak harga karet menurun drastis hingga mencapai Rp6000/kg. Selain itu juga disebabkan kebijakan pemerintah yang pro rakyat menengah ke atas.
“Kalau mau dibeberkan banyak faktornya, cuma yang paling terasa itu sejak harga karet turun. Belum lagi kebijakan pemerintah yang makin memberatkan, contohnya, subsidi BBM dicabut. Listrik subsidi juga dicabut. Harga sembako terus naik, sedangkan pendapatan tidak kunjung naik,” paparnya.
Dikatakannya, saat ini sudah menjadi rahasia umum jika uang pecahan Rp100 ribu sudah tidak berharga, alias besar nominalnya saja. Untuk mempertahankan usaha kecilnya ini, pria asli Jawa Barat ini mengaku terpaksa membuat trik dalam berjualan.
“Seperti memberikan bonus ke pembeli yang membeli minimal Rp20 ribu atau pembeli boleh ngutang dulu, asal tidak lebih dari Rp10 ribu dan itupun orangnya sudah saya kenal,” tuturnya.
Tidak hanya Udin, penjual gerobak dorong lainnya, Wansah (45), mengaku sejak setahun belakangan pendapatannya berjualan bakso gerobak turut sepi. Jika beberapa tahun sebelumnya, dia masih dapat mengantungi uang hasil jualan secara kotor mencapai Rp1,5 juta perhari.
Sejak setahun belakangan pendapatannya jauh merosot, yakni perhari hanya berkisar Rp900 ribu.
Pendapatan tersebut berkurang lantaran, harga daging sapi yang melonjak hingga mencapai Rp100-130 ribu dan faktor karena lesu nya perekonomian saat ini.
“Sama, sejak setahun ini sepi benar. Saya ini sehari dapat Rp900 ribu itu sudah sangat mujur, belum dikurangi belanja modal. Hitung-hitung bersih nya paling Rp100 ribu, bahkan tak sampai,” paparnya.
Menurut pria asal Solo ini, tidak hanya dirinya saja, tetapi sebagian besar pedagang kaki lima, terutama yang berjualan menggunakan gerobak sedang ‘kebakaran jenggot’ lantaran sepinya pembeli.
“Teman-teman bakso lainnya sama juga. Memang lagi zamannya mas, semua sedang sepi,” imbuhnya. (yan)











