Kartono Konsisten Menjajakan Minyak Tanah di Tengah Suksesnya Program Konversi Gas

Sabtu, 30 April 2016
Kartono yang menjajakan minyak tanah dengan gerobak dorong dari rumah ke rumah warga di sekitar Bukit Besar Palembang.

Palembang, Sumselupdate.com –Program konversi minyak tanah ke LPG 3 kilogram sudah dicanangkan pemerintah pusat sejak 2007 silam.

Kebijakan ini untuk mengubah kebiasaan masyarakat yang turun termurun dari generasi ke generasi menggunakan minyak tanah beralih ke gas.

Read More

Namun demikian, tujuan program konversi minyak tanah ke LPG sejatinya, untuk mengurangi subsidi. Maklum, minyak tanah, yang biaya produksinya setara dengan avtur.

Sejak dicanangkan program konversi ini, minyak tanah perlahan tapi pasti sulit untuk didapat oleh masyarakat.

Seiring dari itu pedagang eceran yang menjajakan minyak tanah menggunakan gerobak dorong semakin langka untuk dilihat.

Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Kartono (60). Warga yang tinggal di Jalan Mak Rayu, Kecamatan IB II Palembang ini tetap konsisten menjajakan minyak tanah ke sejumlah rumah warga dengan gerobak dorong.

Kartono mengaku, profesi menjajakan minyak tanah sudah dilakoninya mulai tahun 1972. Sebelum program konversi minyak tanah ke gas dicanangkan pemerintah SBY-JK, Kartono mengaku bisa menjual 60-100 liter dalam sehari.

Namun saat ini diakuinya pendapatannya jauh berkurang. Meski demikian, Kartono mengaku masih bisa menjual minyak tanah lebih dari 30 liter per hari dengan harga Rp7.500 untuk satu liternya.

20160429_093318

Menurut Kartono, masih banyak pelanggannya menggunakan minyak tanah, meski kebanyakan warga sudah beralih ke tabung gas 3 kg maupun 12 kg.

Kartono sendiri mengaku, mendapatkan pasokan minyak tanah dari seseorang yang menggunakan sepeda motor. Dia sendiri mengaku tidak tahu dari mana pengemudi sepeda motor itu bisa mendapatkan minyak tanah.

Yang dia tahu, bagaimana menghabiskan minyak tanah yang dibawanya dengan gerobak habis hari itu juga.

Kartono mengaku, terpaksa konsisten menjajakan minyak tanah dari rumah ke rumah warga di sekitar Bukit Besar Palembang, lantaran tidak ada keahlian lain yang dimiliknya untuk bisa menyambung hidup.  (hyd)

 

 

 

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts