Laporan: Candra Budiman
Palembang, sumselupdate.com – Setelah dilaporkan oleh Suparman (37) ke Polrestabes Palembang atas dugaan perkara kesalahan menyebabkan orang luka berat, di mana jari kelingking anaknya yang masih bayi terputus akibat kelalaian seorang perawat di RS Muhammadiyah Palembang.
Menyikapi hal tersebut, pihak RS Muhammadiyah melalui Wadir SDM dan AIK RSMP Muksin, SSos, IMAg didampingi Wadir Umum ADM dan Keuangan Dr Sunardi, SE, Msi membenarkan adanya peristiwa yang terjadi pada Jumat (3/2/2023) sekitar pukul 10.00 WIB.
Menurut Muksin, kejadian itu merupakan kelalaian dan tidak disengaja oleh satu perawat tetap di RS Muhammadiyah Palembang, ketika hendak memperbaiki infus dari seorang bayi berinisial AA menggunakan gunting, hingga mengakibatkan jari kelingking bayi tersebut putus sedikit.
“Mendengar kejadian itu, pihak RS langsung melakukan tindakan operasi dengan memakan waktu kurang lebih 1,5 jam dan alhamdulillah operasi berjalan dengan baik dan lancar tanpa halangan apapun. Selanjutnya pihak rumah sakit bertanggung jawab memberikan pelayanan prioritas kepada keluarga pasien, awalnya pasien kelas 3, karena ini bentuk tanggung jawab kita, kelalaian dari karyawan kami maka dari selesai operasi langsung dipindahkan ke ruangan VIV, semuanya tanpa biaya atau gratis,” jelas Muksin, saat konfrensi pers di RS Muhammadiyah Palembang pada Sabtu (4/2/2023) sore.
Untuk perawat yang membuat jari bayi tersebut putus yakni berinisial DA, ditegaskan pihak RS sudah dinon aktifkan sambil menunggu proses lebih lanjut.
“DA ini merupakan perawat tetap di RS Muhammadiyah, telah bertugas 18 tahun. Kami berharap proses ini nanti bisa dibicarakan secara kekeluargaan, karena ini merupakan sesuatu yang bukan disengaja tetapi lebih kepada musibah bagi karyawan kami sehingga terjadi kecelakaan tadi,” harapnya.
Ketika ditanya apakah jari bayi tersebut bisa kembali normal setelah dioperasi, Muksin mengatakan, pihaknya belum bisa memberikan jawaban karena dari operasi itu butuh waktu tiga hari baru bisa terlihat.
Namun yang pasti saat ini pihaknya melakukan pengawasan, observasi 3×24 jam, dan juga ditambahkan seorang perawat yang setiap 15 menit melihat kondisi perkembangan bayi.
“Jadi butuh 3 hari kedepan baru bisa melihat hasil operasinya, oleh karenanya kita minta doa rekan-rekan dan masyarakat operasi itu berhasil dengan baik dan lancar,” tuturnya.
Sementara itu, dari tindakan perawat DA sendiri setelah kejadian tersebut, lanjut Muksin, dirinya sudah menunggu kedatangan orangtua bayi karena ingin meminta maaf, namun tidak bertemu.
“Keluarga pasien awalnya meminta ingin bertemu dengan perawat, hingga habis shalat Jumat dan permintaan sudah kami respon dengan menyanggupi untuk bertemu. Namun sampai Magrib kami menunggu kesediaan dari keluarga pasien itu untuk bertemu perawatnya, tapi tidak bertemu juga,” terang Muksin.
Bahkan diakui Muksin, dirinya sendiri juga bolak-balik mendatangi ruang VIV tempat bayi tersebut dirawat, namun ternyata bapak bayi itu tidak ada, dan kedua kalinya di datangi bapak bayi sudah tidur.
“Kemudian menunggu neneknya, tapi neneknya dak bisa hadir. Jadi belum bisa bertemu, sementara perawat itu menunggu hingga Magrib untuk meminta maaf kepada ibu dari pasien,” pungkasnya. (**)











