Palembang, Sumselupdate.com – Kapolda Sumsel Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan bijak dalam menanggapi permasalahan dalam urusan agama belakangan ini. Terlebih, warga Indonesia hidup dalam kemajemukan.
Apalagi dalam urusan keagamaan, khususnya umat Islam, harus lah mencerminkan Islam. “Islam nya Indonesia yang tetap menjunjung tinggi toleransi dan kebhinekaan,” ujar Agung disela acara silaturahmi Kamtibmas di Mapolda Sumsel, Kamis (9/2/2017).
Bahkan demi merawat NKRI dan Pancasila, Polri dan TNI telah menggelar apel tiga pilar bersama pemerintah dan masyarakat lainnya. Hal itu dilakukan guna mencegah terjadinya radikalisme di Kota Palembang khususnya.
Kata Agung, dalam menciptakan NKRI yang utuh masih memerlukan peran masyarakat, terutama dari para ulama dan tokoh masyarakat. Peran media juga sangat besar dalam menciptakan suasana yang kondusif. Terlebih, saat ini adalah era digital dan teknologi canggih. Pemberitaan dapat mengarah ke unsur negatif apabila masyarakat tidak bijak menanggapinya.
“Media sangat penting. Pemberitaan, isu negara dan lainnya dengan cepat dapat menyebar lewat media sosial atau media online. Masyarakat juga hendaknya tidak langsung percaya. Tugas dari pemda dan polres di setiap daerah harus aktif dalam mencegah agar masyarakat tidak mudah terprovokasi,” terangnya.
Dalam mencegah konflik berkepanjangan juga, setiap pihak harus bisa memilah dan memilih tindakan. Seperti saat ini sedang gencar dilakukan ajakan untuk ikut aksi 112 di DKI Jakarta. “Kami mengimbau agar semua elemen dapat mengambil tindakan bijak. Ajakan aksi 112 harus bisa dicermati dan kalau ada ajakan aksi, mari kita berfikir dengan logika,” tandasnya.
Sementara, Panglima Kodam II Sriwijaya Mayjend TNI Sudirman mengatakan saat ini NKRI sedang tidak stabil, begitu banyak permasalahan yang timbul. Untuk mengantipasi dan menanganinya bukan hanya peran TNI atau Polri melainkan juga butuh perhatian dari berbagai pihak.
“Menanggapi masalah di Indonesia saat ini, khususnya gejolak pilkada DKI Jakarta. Peran NU dan Muhammadiyah serta MUI sangat dibutuhkan. Semuanya sangat berperan dalam menjaga kedaulatan NKRI,” tuturnya.
Lanjutnya, apalagi Indonesia tidak hidup sendiri ada banyak negara yang berada disekitar Indonesia. Untuk itu, sebagai warga negara Indonesia, harusnya semua yang ada didalamnya sama-sama konsisten dalam menjaga kemajemukan dan kebersamaan serta kerukunan bangsa. “Jangan sampai ada yang mau menghancurkan bangsa dan kita diam saja. Semuanya harus bersatu demi kedaulatan NKRI,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Nadhlatul Ulama Sumsel, Amri Siregar mengatakan NU adalah organisasi yang sepenuhnya menjaga NKRI. “NU konsisten pada NKRI. NKRI harga mati. Tidak boleh ada yang memecah belah, keutuhan bangsa adalah tugas kita bersama,” jelasnya.
Ditegaskan Amri, NU pada umumnya, dan NU di Sumsel khususnya, tidak akan mengirim massa ataupun ikut aksi pada 112 di DKI Jakarta. “Ini memang tidak bisa dilarang. Tapi NU sendiri tidak akan ikut dalam aksi itu. Tentunya kalaupun ingin membela Islam akan ada opsi lain, tidak dengan menggerakan massa,” terang dia.
Senada dengan NU, Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Sumsel, Purmansyah mengakui Muhammadiyah juga tidak akan turun dalam aksi 112 di DKI Jakarta. “Kami tidak ikut aksi 112,” jelasnya.
Apalagi terkait dengan adanya permintaan untuk pengerahan massa, pihaknya menolak. Pertimbangan yang diambil Muhammadiyah yakni karena momen aksi itu sudah berdekatan dengan pilkada DKI Jakarta.
“Jika ini dilakukan, maka suasananya tidak akan kondusif. Kita harus jaga agar pilkada berjalan demokratis. Harus ada masa jeda untuk masyarakat berfikir. Tapi sebagai masyarakat Indonesia kita tetap menghargai jika aksi. Namun setidaknya aspirasi tidak hanya bisa disampaikan melalui aksi massa, ada cara lain,” tandasnya. (tra)











