Sydney, Sumselupdate.com – Seorang pakar ekologi dan botani asal Australia mengaku segera mengakhiri hidupnya karena tak lagi bahagia pada usia 104 tahun.
David Goodall dengan berat hati meninggalkan kampung halamannya untuk terbang ke Swiss, Rabu (3/5/2018), dan akan dirawat di klinik di Swiss yang memungkinkannya untuk menghembuskan nafas terakhir lebih cepat.
Sebenarnya negara bagian Victoria sejak November lalu sudah menjadi satu-satunya daerah yang melegalkan bantuan bunuh diri di Australia.
Namun dengan syarat bahwa pemohon bantuan bunuh diri itu diharuskan mengidap penyakit parah, yang tak dialami Goodall, yang memutuskan terbang ke Swiss, salah satu negara yang melegalkan bantuan medis untuk kematian.
“Saya sangat menyesal mencapai usia ini,” ujar Goodall pada perayaan hari ulang tahunnya, April lalu, dalam sesi wawancara dengan Australian Broadcasting Corporation (ABC).
“Saya tidak bahagia. Saya ingin mati. Saya sebenarnya tidak sedih. Yang menyedihkan adalah ketika keinginan untuk mati itu dihambat,” kata Goodall.
Hidup aktif
Sebelum terbang ke Swiss, ilmuwan yang lahir di London itu tinggal di salah satu rumah susun di Perth, kawasan Australia barat.
Goodall pensiun dari pekerjaannya tahun 1979, tapi tetap terlibat dalam sejumlah penelitian di bidang yang dikuasainya.
Dari sederet pencapaian akademisnya, Goodall tercatat pernah menyunting 30 jilid buku berjudul Ecosystems of the World dan pengabdiannya untuk ilmu pengetahuan, membuatnya dianugerahi status penduduk berpengaruh di Australia.
Tahun 2016, ketika menginjak usia 102 tahun, Goodall dipersilakan tetap berkantor di Universitas Edith Cowan sebagai peneliti terhormat.
Sebelumnya, atas alasan kesehatan, Goodall diminta bekerja dari rumah saja namun keputusan universitas itu memicu perdebatan di antara kedua pihak.
Carol O’Neill, pegiat lembaga advokasi pemohon eutanasia, Exit International, yang menemani Goodall dalam perjalanan ke Swiss menyebut kondisi psikologis Goodall sangat berpengaruh akibat permasalahan tahun 2016 itu.
Walaupun dia akhirnya memenangkan perselisihan dengan kampus, O’Neill menyebut Goodall tetap dipaksa bekerja di lokasi yang dekat dengan rumah.
Gangguan psikologis itu, menurut O’Neill, juga dirasakan Goodall yang dipaksa berhenti mengendarai mobil dan tak boleh lagi tampil dalam pertunjukan teater.
“Persoalan itu adalah awal dari akhir hidupnya,” kata O’Neil kepada BBC.
“Dia tak lagi berjumpa rekan sejawat dan kawan-kawan di kantor lamanya. Dia kehilangan semangat dan mengepak koleksi bukunya. Itu adalah awal mula kegundahannya.” (adm3/dtc)











