Palembang, Sumselupdate.com – Sekitar 50.000 bayi di Indonesia diperkirakan mengalami penyakit jantung bawaan (PJB) setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 10.000 hingga 12.500 bayi diperkirakan mengalami kondisi kritis yang membutuhkan penanganan segera.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Rizky Adriansyah, M.Ked (Ped), Sp.A, Subsp. Kardio(K), mengatakan angka tersebut merupakan perkiraan berdasarkan prevalensi global, yakni sekitar satu dari 100 bayi baru lahir mengalami PJB.
Menurut Rizky, penanganan penyakit jantung bawaan di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan jumlah dokter jantung anak dan belum meratanya fasilitas pelayanan kesehatan.
Ia memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 400 dokter jantung anak, sedangkan jumlah tenaga ahli yang tersedia saat ini masih kurang dari 100 orang. Sekitar 60 persen dokter jantung anak tersebut terkonsentrasi di Jakarta dan wilayah Jabodetabek.
“Anak-anak di daerah banyak yang tidak tertangani atau tidak dirujuk karena memang ahlinya tidak ada di sana,” kata Rizky.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan, khususnya bagi pasien yang tinggal jauh dari rumah sakit rujukan dengan fasilitas dan tenaga medis spesialis.
Kenali Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi
Rizky menjelaskan, penyakit jantung bawaan dapat menunjukkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai orang tua. Di antaranya bibir tampak kebiruan, sesak napas, serta berat badan bayi sulit bertambah meskipun telah mendapatkan asupan makanan yang cukup.
Namun, gejala yang muncul dapat berbeda-beda, bergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan jantung yang dialami. Karena itu, pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang sesuai.
Tingkat keberhasilan penanganan juga bergantung pada jenis kelainan. Pada sejumlah kasus sederhana, seperti defek septum atrium (ASD) dan defek septum ventrikel (VSD), Rizky menyebut keberhasilan tindakan dapat mencapai 80 hingga 90 persen. Sementara itu, kasus yang lebih kompleks memerlukan penanganan dan pemantauan khusus.
Untuk mendukung deteksi dini, ia menekankan pentingnya pemeriksaan bayi baru lahir, termasuk skrining saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter.
Meski demikian, skrining saturasi oksigen tidak dapat mendeteksi seluruh jenis penyakit jantung bawaan. Bayi yang menunjukkan gejala atau memiliki indikasi medis tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan sesuai penilaian tenaga kesehatan.
“Kalau semakin banyak kasus terdeteksi, tetapi rumah sakit rujukan tidak mampu menangani pasien dengan cepat, antrean juga akan semakin panjang,” ujarnya.
Dorong Pemerataan Dokter dan Fasilitas Rujukan
Rizky menilai penguatan sistem rujukan perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan rumah sakit dalam menangani pasien PJB. Penambahan jumlah tenaga ahli dan pemerataan fasilitas kesehatan dinilai penting agar anak-anak di daerah memperoleh akses penanganan yang lebih cepat.
Menurutnya, pasien yang harus dirujuk ke kota besar tidak hanya menghadapi antrean tindakan, tetapi juga beban biaya transportasi dan akomodasi bagi keluarga.
Karena itu, ia mendorong pemerintah, BPJS Kesehatan, dan organisasi profesi memperkuat koordinasi untuk meningkatkan ketersediaan dokter spesialis, fasilitas pelayanan, serta akses pengobatan bagi pasien penyakit jantung bawaan, terutama di wilayah Indonesia Timur dan daerah yang masih kekurangan tenaga ahli.
Selain akses layanan kesehatan, Rizky juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama kehamilan. Ibu hamil dianjurkan memenuhi kebutuhan nutrisi, termasuk asam folat dan zat besi, menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta tidak menggunakan obat-obatan tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis.
Paparan asap rokok dan polusi udara, termasuk partikel halus, juga perlu diwaspadai selama kehamilan. Meski demikian, paparan tersebut tidak dapat dianggap sebagai penyebab pasti penyakit jantung bawaan pada setiap bayi.
Rizky berharap penguatan deteksi dini, pemerataan tenaga medis, dan peningkatan kapasitas rumah sakit rujukan dapat membantu mengurangi keterlambatan diagnosis serta meningkatkan peluang bayi dengan penyakit jantung bawaan memperoleh penanganan yang tepat.
(**)







