Harga Kelapa Banyuasin Anjlok Jadi Rp1.800, PERPEKINDO Dorong Hilirisasi dan Penguatan Petani

Writer: - Sabtu, 19 September 2026
Muhamad Asri bersama sejumlah pengurus Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) usai melakukan pertemuan dengan OJK Sumsel, membahas penguatan sektor kelapa dan akses pembiayaan bagi petani. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Anjloknya harga kelapa di tingkat petani hingga kebutuhan memperkuat hilirisasi menjadi tantangan besar yang dihadapi sektor perkelapaan nasional.

Kondisi tersebut menjadi salah satu isu yang akan dibahas dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) II Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) yang digelar di Palembang-Banyuasin pada 23-24 September 2026.

Mengusung tema “Menyongsong Hilirisasi Industri Kelapa Nasional”, MUNAS II PERPEKINDO akan mempertemukan organisasi petani, pelaku usaha, industri dan pemangku kepentingan sektor kelapa dari berbagai daerah.

Ketua Panitia MUNAS II PERPEKINDO, Muhammad Asri Lambo, mengatakan forum tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persatuan organisasi perkelapaan sekaligus merumuskan langkah menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi petani.

Menurut Asri, persoalan harga, pengembangan industri dan hilirisasi membutuhkan kekuatan organisasi yang lebih solid agar kepentingan petani dapat diperjuangkan secara terarah.

“Saatnya organisasi perkelapaan bersatu. Kita harus membangun kekuatan bersama agar kepentingan petani kelapa dapat diperjuangkan secara lebih terarah, khususnya dalam menghadapi tantangan harga, pengembangan industri, dan hilirisasi kelapa nasional,” ujar Asri.

Persoalan harga kelapa saat ini dirasakan langsung di sejumlah daerah sentra produksi, termasuk Banyuasin, Sumatera Selatan dan Indragiri Hilir (Inhil), Riau.

Di Banyuasin, harga kelapa di tingkat petani dilaporkan mengalami penurunan sepanjang 2026. Pada Agustus 2026, harga kelapa disebut turun dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp1.800 per butir.

Penurunan harga tersebut disebut telah berlangsung sekitar enam bulan dan salah satu faktornya berkaitan dengan melemahnya permintaan ekspor.

Kondisi itu menunjukkan kerentanan pendapatan petani ketika komoditas kelapa masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah dan bergantung pada kondisi pasar.

Banyuasin sendiri memiliki basis perkebunan kelapa yang cukup besar. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Banyuasin, luas perkebunan kelapa rakyat mencapai sekitar 48.266 hektare dengan produksi sekitar 46.927 ton pada 2023.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin juga menyebut daerah tersebut sebagai salah satu kabupaten penghasil kelapa terbesar di Sumatera Selatan.

Potensi tersebut kemudian diarahkan untuk dikembangkan melalui hilirisasi. Pada Juli 2026, Pemkab Banyuasin menawarkan sejumlah peluang investasi pengolahan kelapa, mulai dari minyak kelapa, Virgin Coconut Oil (VCO), arang tempurung, coco fiber hingga coco peat.

Tekanan harga juga terjadi di Indragiri Hilir, Riau. Pada akhir Juli 2026, harga kelapa di daerah tersebut dilaporkan turun hingga sekitar Rp1.800 per kilogram. Angka tersebut berada jauh di bawah harga yang sebelumnya sempat mencapai sekitar Rp7.000 per kilogram.

Pemerintah Provinsi Riau menjelaskan tekanan harga tersebut berkaitan dengan melemahnya permintaan global terhadap produk kelapa dan turunannya, sementara produksi meningkat memasuki musim panen.

Dinas Perkebunan Provinsi Riau pada periode tersebut menyebut harga kelapa jambul yang dipasarkan ke Malaysia berada di kisaran Rp1.700 per kilogram. Sementara harga pembelian PT Pulau Sambu disebut sekitar Rp1.900 per kilogram untuk kelapa jambul dan Rp2.200 per kilogram untuk kelapa licin.

Situasi di Banyuasin dan Inhil memperlihatkan tantangan yang hampir serupa. Ketika permintaan pasar melemah sementara pasokan meningkat, harga di tingkat petani ikut mengalami tekanan.

Namun, kondisi tersebut juga memperlihatkan besarnya potensi ekonomi komoditas kelapa apabila dikembangkan melalui industri pengolahan.

Pemerintah Provinsi Riau pada September 2026 menyebut potensi perkebunan kelapa di Indragiri Hilir mencapai lebih dari 435 ribu hektare dengan produksi sekitar enam juta butir per hari.

Besarnya produksi tersebut mendorong pemerintah daerah mengembangkan industri pengolahan agar kelapa tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat memberikan nilai tambah di daerah asalnya.

Potensi hilirisasi juga mulai dikembangkan di Sumatera Selatan.

Pada Juni 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan meninjau aktivitas pengumpulan, pengolahan dan ekspor kelapa melalui Dermaga Kelapa Musi 2 Palembang. Kelapa asal Sumsel disebut telah diekspor ke sejumlah negara Asia, di antaranya China, Thailand dan Vietnam, dalam bentuk kopra maupun kelapa bulat utuh.

Sementara di Banyuasin, pemerintah daerah mendorong pengembangan industri dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada Januari 2026 menyebut rencana pembangunan pabrik bahan baku Bio-Avtur berbasis kelapa di Banyuasin dengan investasi awal Rp310 miliar dan kapasitas produksi 30.000 ton Crude Coconut Oil (CCO) per tahun. Fasilitas tersebut diproyeksikan mulai beroperasi pada April 2027.

Potensi itu menunjukkan bahwa kelapa tidak hanya memiliki nilai ekonomi sebagai buah segar. Daging kelapa, air, tempurung, sabut hingga minyak dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Namun, bagi organisasi petani, hilirisasi tidak cukup hanya dengan membangun industri pengolahan.

Hilirisasi juga diharapkan mampu menciptakan pasar yang lebih kuat dan berkelanjutan bagi hasil produksi petani. Pada saat yang sama, posisi petani sebagai pemasok bahan baku perlu diperkuat agar mereka memiliki daya tawar dalam rantai pasok komoditas kelapa.

Karena itu, penguatan kelembagaan petani menjadi salah satu agenda penting dalam MUNAS II PERPEKINDO.

Asri menegaskan, persatuan organisasi perkelapaan tidak sekadar berkaitan dengan konsolidasi kelembagaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kelapa nasional yang memberikan manfaat lebih besar bagi petani.

Dengan memilih Palembang-Banyuasin sebagai lokasi MUNAS II, forum tersebut sekaligus menjadi momentum untuk membahas masa depan komoditas kelapa di Sumatera Selatan, terutama di tengah dorongan pengembangan industri hilir dan peluang investasi.

“Bagaimana memastikan ketika harga global berfluktuasi, petani tetap memiliki posisi tawar, pasar tetap tersedia, industri tetap menyerap hasil panen dan nilai tambah dari setiap butir kelapa dapat lebih banyak kembali kepada daerah serta petani,” kata Asri.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts