PALI, Sumselupdate.com – Masih anjloknya harga getah karet di Kabupaten PALI membuat sebagian warganya yang berprofesi sebagai petani karet menambah pekerjaannya. Seperti dengan bersawah padi untuk menopang penghasilan kebutuhan ekonomi mereka.
Hasibuan, warga Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, Kabupaten PALI, satu diantara ratusan petani karet di PALI yang kini juga menggarap sawah. Dirinya saat ini tengah menanam padi di ladang-ladang miliknya juga dilahan sawah baru yang dicetak pemerintah.
“Pagi kami nyadap karet, setelah dari kebun karet kami garap ladang kami dan ditanami padi. Tiap tahun kami lakukan ini dan hasilnya Alhamdulillah bisa bantu perekonomian keluarga, apalagi di tengah harga getah karet yang masih murah,” ujar Hasibuan.
Dirinya juga mengatakan bahwa sejak dibukanya lahan sawah baru oleh pemerintah, petani padi merasa terbantu. Karena, petani bisa memanen padinya dua kali dalam satu tahun.
“Sebelum dibuka lahan sawah baru, kami hanya bisa panen sekali dalam setahun. Tapi setelah dibuka, kami bisa tanam benih padi genjah serta pola tanam juga kami diajari pemerintah untuk menggunakan sistem Jajar Legowo (Jarwo). Dan hasilnya, kami bisa panen dua kali setahun serta produksinya juga lumayan melimpah,” jelasnya.
Hanya saja masih ada kekurangan sarana yang dipinta petani padi yang masih perlu dibantu pemerintah dalam mengatasi banjir saat musim penghujan.
“Kalau kanal sudah ada, tapi belum mampu menampung air ketika musim hujan datang. Kami minta pemerintah memberikan solusi agar banjir tidak lagi terjadi. Sebab, sudah sering kami kebanjiran pasca menebar benih atau setelah baru tanam,” keluhnya.
Sementara itu, Torus Simbolon, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI mengaku pihaknya terus berupaya memberikan solusi atas keluhan petani, agar hasilnya bisa memuaskan.
“Kalau peralatan, benih serta pupuk kita bantu,serta pembangunan sarana, seperti pembuatan kanal, pembuatan petak-petak sawah telah dilakukan,” urai Torus, Kamis (13/7/2017).
Namun, ia melanjutkan, kendala banjir belum bisa dipecahkan, sebab lokasi sawah di Desa Pengabuan merupakan daerah rawa-rawa dan ketika musim hujan air tertampung di sana. “Untuk menyiasatinya, kami sarankan kepada petani agar tidak menanam saat musim hujan,” tandasnya.
Pihaknya juga terus melakukan penyuluhan kepada petani untuk terus meningkatkan produksi padi, agar hasil petani tidak hanya untuk makan keluarganya saja, melainkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat PALI bahkan kedepan diharapkan PALI bisa menjadi salahsatu penghasil padi terbesar di Sumsel.
“Cita-cita itu bukan tidak mungkin dicapai. Sebab, potensi kita punya serta lahan sawah cukup luas. Apabila itu sudah tercapai, maka penghasilan sebagian warga PALI tidak hanya tergantung dari hasil karet,” tandasnya. (adj)











