Baturaja, Sumselupdate.com – Tampaknya instruksi Presiden Jokowi terkait harga daging hanya boleh naik setinggi-tingginya Rp80 ribu tak berlaku di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Ini terlihat pada H-1 jelang Idul Fitri 1437 H, sebagian masyarakat di Bumi Sebimbing Sekundang ini menggerutu akibat melambungnya harga daging yang mencapai Rp180 ribu per kilogramnya.
Padahal, Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdrive OKU hampir sepekan melakukan operasi pasar daging seharga Rp95 ribu per kilogram, namun tidak sanggup membendung harga daging di beberapa pasar tradisional, seperti Pasar Atas Baturaja dan Pasar Baru.
Akibatnya sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri pada Selasa (5/7), harga daging meroket hingga tak terjangkau oleh masyarakat.
“Saya sudah keliling, tidak ada yang kurang dari Rp180 ribu per kilogram,” ujar Ita saat dibincangi di Pasar Batu Baturaja pada Selasa (5/7).
Menurutnya, tak hanya itu, harga daging ayam pun melambung dua kali lipat dari biasanya, “Kemarin masih Rp40 ribu, hari ini sudah Rp70 ribu,” cetusnya.
Sementara itu, di Kecamatan Peninjauan dan KPR, warga setempat menyiasati tingginya harga daging dengan cara membeli seekor sapi atau kerbau secara patungan.
“Alhamdulillah bagi kami meskipun harga daging melambung tinggi tidak berpengaruh, tradisi potong kerbau setiap Hari Raya ini sangat meringankan beban naik turunnya harga daging,” kata Rusman (62) Warga Kecamatan KPR.
Dijelaskannya, tradisi arisan daging dalam setiap tahun seperti menyambut Hari Raya Idul Fitri ini, sudah dilakukan semenjak dulu.
“Satu ekor kerbau dibeli seharga Rp12 juta, dibagi 60 orang, rata-rata kebagian dagingnya dua kilogram, dan tulangnya dua kilogram, jika di bandingkan dengan harga pasar tahun ini, kami beli daging hanya Rp100 ribu per kilogram dapat tulang gratis dua kilogram,” bebernya.
Masih kata Rusman, tradisi potong kerbau ini dalam setiap desa bisa 4 sampai 5 ekor baik kerbau maupun sapi, “Kegiatan seperti ini sudah semenjak puluhan tahun lalu,” tukasnya lagi.
Pantauan di lapangan, kegiatan potong kerbau berlangsung sehari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hampir di setiap desa di Kecamatan Peninjauan dan KPR, dan hal ini sudah menjadi tradisi setiap tahun. (yan)











