Full Day School Tuai Pro dan Kontra, Penerapan Sekolah di Daerah Belum Efektif

Rabu, 14 Juni 2017
Ilustrasi

PALI, Sumselupdate.com – Adanya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2017 tentang kebijakan sekolah selama 5 x 8 jam seminggu atau Full Day School menuai pro dan kontra di kalangan pendidik di Kabupaten PALI.

Seperti yang disampaikan oleh Irwansyah, Kepala SMA Negeri 2 Unggulan Talang Ubi ketika dihubungi via telpon, Rabu (14/6/2017). Menurutnya, Permendikbud tersebut belum tepat dilakukan di sekolah-sekolah di daerah seperti di Kabupaten PALI.

Read More

“Kalau di kita (SMAN 2 Unggulan-red) terkendala fasilitas. Karena saat ini Full Day School belum memungkinkan untuk diterapkan di sini. Kita harus menyiapkan kantin, kemudian ruang belajar, dan pastinya tenaga pendidik,” ucap Irwansyah.

Kendati demikian, jikapun memang kebijakan tersebut sudah diputuskan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel untuk diterapkan, maka pihaknya mengaku akan menyiapkan hal itu.

“Pada prinsipnya kita ikut saja. Karena, kalau memang sudah ditetapkan Disdik Provinsi, ya siap tidak siap kita harus siap melaksanakannya,” tambahnya. Sembari menyebut jika full day school tetap dilaksanakan, maka kegiatan ektrakurikuler siswa pasti akan menjadi korban.

Berbeda halnya dengan Zainul, Kepala SMAN 1 Talang Ubi yang mengaku siap jika diterapkan full day school di sekolahnya yang terletak di Jalan Beringin Talang Subur kelurahan Talang Ubi Selatan Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI.

Menurutnya, fasilitas yang dimiliki sekolahnya sudah pas dan cukup jika FDS memang diterapkan. Lagi pula, kami juga menunggu intruksi dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel.

“Kalau memang diterapkan kami siap. Tetapi, kami tetap menunggu intruksi dari Disdik Provinsi Sumsel. Tetapi, kalau berkaca di SMA atau sekolah yang lain, pasti tidak akan siap. Karena, sekolah tersebut ada yang bergantian jam belajarnya. SMP sekolah pagi, SMA sekolah siang. Ada pula SD yang sekolah pagi, SMA sekolah siang. Kan jadinya tidak mungkin bisa diterapkan,” beber Zainul.

Soal terbenturnya dengan kegiatan ekstrakurikuler siswa, Zainul mengaku sudah ada konsep dan teknis dalam menanggulanginya.

“Bisa saja kegiatan ekskul tersebut diselipkan di lima hari sekolah tersebut. Karena, ekskul juga tidak terlalu menggangu jalannya kegiatan belajar mengajar. Paling dipangkas separuh kegiatan ekskulnya,” ujarnya.

Zainul menambahkan pada dasarnya tidak terjadi perubahan signifikan teknis belajar mengajar ketika saat ini dengan FDS nanti. “Tidak terlalu banyak perubahan, baik dari tata kelola maupun teknis. Yang pasti kita akan menunggu instruksi dari Disdik Provinsi,” tandasnya. (adj)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts