Palembang, Sumselupdate.com – Perlambatan ekonomi dan melemahnya permintaan pasar menjadi tantangan bagi sektor properti di Sumatera Selatan (Sumsel). Real Estate Indonesia (REI) Sumsel mengakui target pembangunan 17 ribu unit rumah baru sepanjang 2026 sulit tercapai hingga Oktober.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) REI Sumsel, Zewwy Salim, mengatakan kondisi perekonomian turut memengaruhi minat masyarakat untuk membeli rumah, baik secara tunai maupun melalui skema kredit.
“Dari target awal di 2026 kita membangun 17 ribu unit perumahan baru. Hingga Oktober masih sulit tercapai karena demand juga turun. Berusaha optimistis di kondisi yang sebenarnya pesimistis,” ujar Zewwy.
Menurutnya, penurunan permintaan tidak hanya terjadi pada segmen rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga merambah pasar menengah hingga atas.
Padahal, pengembang yang tergabung dalam REI Sumsel juga membidik pembangunan rumah komersial untuk masyarakat kelas menengah dan atas. Kondisi pasar yang belum kondusif membuat pengembang menghadapi tantangan dalam merealisasikan target pembangunan.
Meski demikian, REI Sumsel masih berupaya mengejar target yang telah ditetapkan. Zewwy mengatakan para pengembang berusaha mempertahankan optimisme di tengah melemahnya permintaan.
“Kami berusaha menepis keraguan (pesimistis). Kami tetap berusaha mengejar target pembangunan baru. Mudah-mudahan bisa ya,” katanya.
Tetap Dukung Program 3 Juta Rumah
Di tengah tantangan pasar properti, REI Sumsel menyatakan tetap mendukung program 3 juta rumah yang menjadi bagian dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Program yang dijalankan melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) tersebut ditujukan untuk mengatasi backlog atau kekurangan rumah serta meningkatkan ketersediaan hunian yang layak bagi masyarakat.
Zewwy mengatakan REI Sumsel terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.
“Ini juga program 3 juta rumah masih kita jalankan, tetap mengupayakan bersama stakeholder. Berusaha bekerja keras untuk tercapai sepanjang kepemimpinan Prabowo Subianto,” ungkapnya.
REI Soroti Akses Kredit bagi Pelaku UMKM
Selain penurunan permintaan, REI Sumsel menilai akses pembiayaan juga menjadi salah satu tantangan dalam memperluas pasar properti.
Zewwy menyebut peluang pasar masih terbuka, termasuk dari kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta wiraswasta yang ingin menjadikan properti sebagai investasi jangka panjang.
Namun, calon pembeli dari kelompok tersebut terkadang menghadapi kendala ketika mengajukan pembiayaan karena tidak memiliki pendapatan tetap bulanan yang dapat dibuktikan melalui dokumen penghasilan seperti pegawai.
Menurutnya, skema pembiayaan yang mempertimbangkan karakteristik pendapatan pelaku usaha berpotensi memperluas akses kepemilikan rumah, selama tetap memperhatikan kemampuan membayar dan prinsip kehati-hatian perbankan.
“Semestinya dengan pangsa yang positif, perbankan bisa menerapkan pembelian properti tanpa pendapatan dengan peluang besar, sehingga nanti perbankan bisa berkompetisi memengaruhi pergerakan ekonomi daerah,” jelasnya.
Zewwy berharap perbankan dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi untuk mendorong pasar properti di Sumsel.
Dengan dukungan pembiayaan yang sesuai dan membaiknya daya beli masyarakat, sektor perumahan diharapkan tetap berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan hunian sekaligus mendukung aktivitas ekonomi daerah.
(**)







