Jakarta, Sumselupdate.com – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI meluncurkan Program Pemilihan Duta DPD RI 2025 sebagai upaya strategis menjaring putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia untuk menjadi jembatan antara lembaga negara dan masyarakat di tingkat akar rumput.
Program ini menjadi bagian dari komitmen DPD RI dalam memperkuat peran daerah dalam pembangunan nasional serta meningkatkan partisipasi generasi muda dalam kehidupan demokrasi.
“Melalui para duta ini, kami ingin menghadirkan wajah baru DPD yang lebih dekat dengan rakyat, terutama generasi muda. Mereka akan menjadi agen literasi konstitusi dan penyambung suara daerah dari lapisan paling bawah,” ujar Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin di Jakarta, Jumat (31/10).
Menurut Sultan, kehadiran Duta DPD RI merupakan langkah inovatif untuk memperluas jangkauan lembaga dalam menangkap aspirasi masyarakat secara langsung. Generasi muda, khususnya generasi Z, kini menjadi kekuatan strategis dalam pembangunan bangsa. Mereka tidak hanya aktif di ruang digital, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap isu sosial, politik, dan ekonomi.
“DPD melihat potensi besar anak muda untuk berperan sebagai katalis perubahan. Karena itu, kita ingin menggerakkan mereka agar tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang berkontribusi nyata,” tambah Sultan.
Program ini diharapkan dapat membantu kantor DPD RI di setiap ibu kota provinsi dalam menjalankan fungsi pelayanan aspirasi masyarakat di daerah. Para duta akan berkolaborasi dengan anggota DPD RI dan kepala kantor DPD di provinsi masing-masing untuk menyosialisasikan peran lembaga serta menampung aspirasi generasi muda di berbagai komunitas.
“Duta DPD akan berperan aktif di daerah, turun ke masyarakat, mengikuti forum-forum komunitas, hingga menjadi role model kepemimpinan muda. Mereka inilah yang akan membantu memastikan suara rakyat benar-benar sampai ke Senayan,” jelas Sultan.
Pemilihan Duta DPD RI 2025 terbuka bagi warga negara Indonesia berusia 18 hingga 24 tahun dengan pendidikan minimal SMA/sederajat. Peserta harus berpenampilan menarik, sehat jasmani dan rohani, memiliki wawasan kebangsaan, serta kemampuan komunikasi publik yang baik.
Para peserta juga diwajibkan membuat video berdurasi dua menit mengenai DPD RI dan ciri khas daerah masing-masing, yang diunggah ke akun Instagram pribadi dengan menandai akun resmi DPD RI dan pimpinan lembaga.
Pendaftaran dibuka pada 27–31 Agustus 2025, dilanjutkan dengan seleksi administrasi dan wawancara di kantor DPD RI provinsi pada awal September. Tiga pasang calon terbaik dari tiap provinsi akan diseleksi kembali secara daring sebelum ditetapkan satu pasang finalis yang mewakili provinsinya di tahap karantina nasional di Jakarta.
Karantina dan grand final akan dilaksanakan pada 1–3 November 2025 di Jakarta, dengan berbagai sesi pembekalan seperti wawasan kebangsaan, kepemimpinan muda, public speaking, etika, dan table manner. Acara puncak digelar di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 3 November, diikuti 38 pasang finalis dari seluruh provinsi di Indonesia.
Dewan juri terdiri dari pimpinan DPD RI, akademisi, publik figur, perwakilan Kementerian Pariwisata, ahli psikologi, dan ahli bahasa. Pada malam grand final akan dipilih Juara 1 hingga 3 serta kategori khusus seperti Duta Favorit, Duta Intelegensi, Duta Persahabatan, dan Busana Terbaik.
“Pemilihan Duta DPD RI bukan sekadar ajang seremonial, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun generasi muda yang memahami konstitusi dan memiliki jiwa kepemimpinan. Mereka akan menjadi garda depan DPD RI dalam menjembatani aspirasi rakyat dari akar rumput hingga ke pusat kebijakan,” tegas Sultan.
Berikut daftar finalis Duta DPD RI 2025:
- Aceh: Muharram Anbiya, Irhamni Malik
- Sumatera Utara: Muhammad Akmal Nasution, Feby Inge Dwiyanti
- Sumatera Barat: Ahmad Zakri, Sutri Yan
- Riau: Deri Wanhar Saputra, Friskhia Hani
- Jambi: M. Dicky Prayama, Najwa Zafirah Dewi Riwanti
- Sumatera Selatan: Muhammad Wahyu Hidayat, Abel Jennyska Laurencia
- Bengkulu: Mohammed Virgil Afghani, Sopia Agnesta
- Kepulauan Bangka Belitung: Faris Adil, Decia Rahmadini Prawira
- Kepulauan Riau: Joan Young, Risma Dwi Salwa Lestari
- Lampung: Wahyuda Pratama, Yolanda Sabrina Putri
- DKI Jakarta: Jagad Febrian Putra, Alya Mukhbita
- Jawa Barat: Febby Cipta, Sifa Salma Sriyani
- Jawa Tengah: Rangga Satria Putra Pratama, Della Rista Setiawan Putri
- DIY Yogyakarta: Fajar Ilham Maulana, Fada Devinza Rigita Maharani
- Jawa Timur: Ahmad Farezi, Nuroniyyah
- Banten: Wendi Juwendi, Harum Fatimah
- Bali: I Made Sila Arta Putra, Maria Febi Vivian Winanda Rambu
- Nusa Tenggara Barat: Roni Hidayat, Ni Komang Ayu Wulan Sari
- Nusa Tenggara Timur: Krisna Kennedy Morits Pascal Adu, Gresia Yuliana Umbu Pati
- Kalimantan Barat: Seprianda Risky, Aura Nafiisah
- Kalimantan Tengah: Hefi, Friska Friscilla
- Kalimantan Selatan: Muhammad Abiyyu Hafizh, Danisya Nayla Azahra
- Kalimantan Timur: Muhammad Fikri Assalam, Novalin Delvia Sari
- Kalimantan Utara: Ahmad Awaludin, Dewi Dwi Zulastri
- Sulawesi Selatan: Arsal Andika, Khaila Thahirah
- Sulawesi Tengah: Moch. Arzan Anugrah, Jihan Al-Amri
- Sulawesi Barat: Muh. Fadel Miftahuddin, Andi Nurya Az Zahra
- Gorontalo: Muhammad Fauzan Tomu, Aura Felita
- Sulawesi Utara: Marcello Sergio Lontokan, Flavia Meraviglia Agusta
- Sulawesi Tenggara: Arwan Pelangi, Alma Fisabillah
- Maluku: Harun Souwakil, Keisya Multi Pieritsz
- Maluku Utara: Irfan Atha Rabal, Nursellah Hi Abdullah
- Papua: Roni Towoly, Patrichia Angelica Bemey
- Papua Barat: Nemesio Bizar Bubun Pegan, Nesty Stella Isir
- Papua Tengah: Obaja Gobai, Sara Agapa
- Papua Pegunungan: Luis Mandala Mabel, Savira Margaretha Kosay
- Papua Barat Daya: Samuel Jouan Gelora Hutabarat, Melani Tebuot Bame
- Papua Selatan: Petrus Leonardo Amotey, Wilhelmina Gereworot Kuruwop
(**)











