Palembang, Sumselupdate.com – Dosen Universitas Multi Data Palembang (MDP), Dr. M. Rizky Pribadi, S.Kom., M.Kom., mengembangkan website Pantau Api untuk memantau titik panas (hotspot) dan memperkirakan potensi penyebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel).
Website yang dapat diakses melalui pantauapi.my.id tersebut memanfaatkan data satelit, termasuk data dari NASA, yang diolah menggunakan sistem pemrograman dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Rizky yang juga menjabat Kepala Program Studi Informatika Universitas MDP mengatakan, Pantau Api dikembangkan untuk membantu masyarakat memperoleh informasi mengenai potensi kabut asap, terutama di Kota Palembang dan sejumlah wilayah lain di Sumsel.
“Tujuannya, dapat memantau prediksi kabut asap dari data satelit yang diolah dengan AI. Data ini bisa memprediksi potensi asap per jam, terutama untuk Kota Palembang dan kabupaten lain di Sumsel,” katanya.
Ia menjelaskan, pengembangan Pantau Api berawal dari keprihatinannya terhadap kejadian karhutla yang berulang setiap tahun di Sumsel. Penelitian untuk membangun sistem tersebut telah dirintis sejak sekitar satu tahun lalu.
Menurut Rizky, kondisi geografis Sumsel membuat sejumlah wilayah menghadapi risiko karhutla, terutama saat musim kemarau. Lahan gambut yang mengering juga rentan terbakar dan dapat memicu kabut asap yang berdampak pada aktivitas masyarakat.
Melalui Pantau Api, ia berupaya menyajikan informasi titik panas, arah angin, serta potensi pergerakan asap. Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan masyarakat dan pemangku kepentingan dalam melakukan mitigasi lebih awal.
Rizky mencontohkan, titik panas di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) perlu menjadi perhatian karena, bergantung pada arah dan kecepatan angin serta kondisi atmosfer, asap dari wilayah tersebut berpotensi terbawa menuju Kota Palembang.
Informasi perkiraan tersebut diharapkan membantu masyarakat mempertimbangkan waktu beraktivitas di luar ruangan dengan memperhatikan kondisi kualitas udara aktual.
“Jadi kita tahu, udara yang bagus saat kabut asap, jam berapa ke luar rumahnya. Sejauh ini saya baru share di medsos. Data ini diolah dari satelit langsung, termasuk NASA dan data-data publik,” ujarnya.
Meski demikian, pengembangan Pantau Api masih menghadapi keterbatasan. Rizky mengatakan, biaya pengembangan selama ini menggunakan dana pribadi sehingga belum seluruh fitur dan hasil pengolahan data dapat diakses masyarakat secara optimal.
Ia berharap dukungan pendanaan atau hibah dapat membantu pengembangan sistem tersebut agar pemanfaatannya semakin luas, termasuk untuk mendukung upaya mitigasi karhutla oleh pemerintah dan pihak terkait.
“Semua dana sendiri jadi tidak semua bisa terakses. Kalau memang ada dananya, ada hibah, bisa dikembangkan untuk mencegah karhutla berulang dan bisa mitigasi bersama dari berbagai pihak,” katanya.
Rizky berharap Pantau Api dapat menjadi salah satu sarana pendukung mitigasi bencana di Sumsel, khususnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi karhutla dan dampak kabut asap.
“Harapannya, Pantau Api ini bisa membantu siapa pun sebelum titik api datang lagi. Karena semuanya bisa dicegah dengan tindakan dan aksi,” tuturnya.
(**)







