Jakarta, Sumselupdate.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam beberapa pekan ke depan. Bahkan, sejumlah analis memprediksi rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juni 2026.
Dilansir dari media online, pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi kepada wartawan mengungkapkan, bahwa ia memperkirakan pergerakan rupiah saat ini berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.250 per dolar AS. Menurutnya, penguatan dolar AS masih didorong oleh ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda.
Ibrahim menjelaskan, konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan AS dan Iran, serta meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, membuat pasar keuangan global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Selain itu, konflik Rusia dan Ukraina yang belum menemukan titik terang juga turut memperkuat sentimen positif terhadap dolar. Kondisi ini membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar.
Faktor lain yang dinilai berpengaruh adalah kebijakan Bank Sentral AS (The Fed)*. Pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini. Jika hal itu terjadi, dolar AS diperkirakan akan semakin menguat.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak mencerminkan kondisi krisis seperti yang terjadi pada tahun 1997–1998.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat, baik dari sisi fiskal maupun pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh sentimen global jangka pendek daripada masalah mendasar di dalam negeri.
Purbaya optimistis kondisi tersebut dapat diatasi melalui koordinasi yang erat antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia.
Di sisi lain, pelemahan rupiah yang telah menembus level Rp18.000 per dolar AS juga memunculkan kekhawatiran terhadap sektor keuangan nasional. Namun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan dampak langsung terhadap industri perbankan masih relatif terbatas.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan sistem perbankan Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang cukup kuat. Meski demikian, pelemahan rupiah tetap perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan harga barang impor, memicu inflasi, menekan daya beli masyarakat, serta menambah beban fiskal pemerintah.
Pemerintah dan Bank Indonesia pun diharapkan terus menjaga koordinasi untuk meredam tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.











