DI SEBUAH rumah sederhana di Kota Palembang, Sumatera Selatan, seorang remaja berusia 18 tahun menghabiskan tiga hingga empat jam setiap malam di depan layar komputer. Bukan untuk bermain game atau berselancar di media sosial, melainkan memburu celah keamanan pada sistem komputer dan website.
Remaja itu bernama Ramos Rizky, pelajar SMKN 5 Palembang yang diam-diam telah menorehkan prestasi di dunia cybersecurity.
Berbekal semangat belajar mandiri, ia berhasil mengantongi sejumlah sertifikasi nasional maupun internasional, termasuk Certified Ethical Hacker (CEH) dari Cisco Networking Academy, sertifikasi bergengsi yang diakui di dunia keamanan siber.
Namun perjalanan Ramos menuju titik itu sama sekali tidak mudah. Ayahnya telah meninggal dunia. Ia tumbuh bersama sang ibu dalam kondisi ekonomi yang sederhana.
Keterbatasan finansial membuatnya tidak pernah mengikuti kursus mahal seperti kebanyakan orang yang ingin mendalami teknologi.
Sebaliknya, Ramos membangun kemampuannya dari nol. YouTube, dokumentasi gratis di internet, serta berbagai program pelatihan tanpa biaya menjadi ‘kampus’ tempat ia belajar setiap hari.
“Saya belajar sendiri dari internet karena rasa penasaran. Hampir semua yang saya pelajari berasal dari YouTube, dokumentasi gratis, dan program pelatihan gratis yang saya temukan sendiri,” tuturnya.
Berawal dari Rasa Penasaran
Ketertarikan Ramos terhadap dunia komputer baru muncul sekitar 2022. Tidak ada guru khusus, tidak pula keluarga yang mengarahkan. Semuanya bermula dari rasa ingin tahu.
Ia mulai mencoba berbagai hal tentang komputer secara otodidak. Semakin banyak belajar, rasa penasarannya justru semakin besar hingga akhirnya memilih mendalami cybersecurity pada 2025.
Baginya, dunia keamanan siber menawarkan tantangan yang berbeda. Ia ingin menjadi seseorang yang mampu menemukan kelemahan sebuah sistem sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Saya suka tantangan dan rasa penasaran ketika mencari tahu bagaimana sebuah sistem bekerja,” katanya.
Belajar dari Perangkat Sederhana
Ramos bukan tipe pelajar yang bergantung pada fasilitas mewah. Ia mengaku belajar menggunakan perangkat sederhana.
Sepulang sekolah, malam hari menjadi waktu favoritnya untuk membaca dokumentasi, mengikuti pelatihan daring, hingga mengerjakan berbagai tantangan keamanan siber.
Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar tiga hingga empat jam untuk belajar. Python menjadi salah satu materi yang paling sulit baginya karena membutuhkan logika pemrograman yang kuat.
Namun setiap kesulitan justru membuatnya semakin tertantang. “Saya harus mengulang materi dari awal sampai benar-benar paham,” ujarnya.
Sertifikat Gratis, Prestasi Mendunia
Meski berasal dari keluarga sederhana, Ramos berhasil mengumpulkan sekitar 11 sertifikat di bidang teknologi dan cybersecurity. Seluruhnya diperoleh tanpa mengeluarkan biaya.
Sertifikat yang paling ia banggakan adalah Certified Ethical Hacker (CEH) dari Cisco Networking Academy.
Untuk mendapatkan sertifikat tersebut, ia harus mempelajari seluruh materi selama lebih dari satu bulan sebelum akhirnya lulus ujian.
Selain CEH, ia juga mengikuti berbagai program dari Digital Talent Scholarship, Dicoding, hingga platform pembelajaran teknologi lainnya.
Menemukan Celah di Website Pemerintah
Kerja keras Ramos mulai membuahkan hasil pada akhir 2025. Saat itu ia berhasil menemukan kerentanan pada website Universitas Madura melalui teknik pencarian yang dikenal sebagai dorking.
Sejak saat itu, ia mulai melakukan pengujian terhadap puluhan website dari sektor pendidikan maupun pemerintahan.
Beberapa temuannya tergolong serius, mulai dari file backup database yang dapat diakses publik hingga panel administrator yang terbuka tanpa autentikasi memadai.
Meski demikian, Ramos menegaskan dirinya tidak pernah memanfaatkan celah tersebut. Sebaliknya, ia memilih melaporkannya kepada instansi terkait agar segera diperbaiki.
“Tujuan saya belajar cybersecurity adalah membantu meningkatkan keamanan sistem, bukan mencari keuntungan dari kelemahan yang ditemukan,” katanya.
Kekecewaan yang Menjadi Motivasi
Di balik sederet prestasi, tersimpan rasa kecewa. Tidak sedikit laporan kerentanan yang ia kirimkan justru tidak mendapat tanggapan.
Padahal, menurut Ramos, setiap laporan membutuhkan waktu panjang untuk mencari, mendokumentasikan, hingga menyusun rekomendasi perbaikan.
Kadang celah yang dilaporkan memang diperbaiki, tetapi tanpa pemberitahuan ataupun ucapan terima kasih kepada pelapor.
Meski demikian, ia memilih terus belajar dan tidak berhenti berkontribusi.
“Saya berharap laporan dari para white hat hacker bisa lebih diperhatikan sehingga mereka tidak merasa diabaikan ketika berusaha membantu meningkatkan keamanan sistem,” ujarnya.
Membahagiakan Ibu
Di luar dunia komputer, Ramos menjalani kehidupan layaknya pelajar pada umumnya. Ia gemar menonton film dan mendengarkan musik.
Namun sebagian besar waktunya tetap dihabiskan untuk belajar. Ada satu impian yang selalu ia simpan.
Suatu hari nanti ia ingin bekerja di perusahaan teknologi global, kemudian membangun platform pembelajaran cybersecurity gratis agar lebih banyak anak muda Indonesia memiliki kesempatan belajar seperti dirinya.
Bagi Ramos, kesuksesan bukanlah soal popularitas atau penghasilan semata.
“Bagi saya, kesuksesan adalah ketika hasil kerja keras dan proses belajar yang saya jalani bisa membantu membahagiakan ibu saya, memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, dan membuat saya bisa hidup dari bidang yang saya sukai,” tuturnya.
Tiga kata yang paling menggambarkan dirinya pun sederhana: gigih, penasaran, dan konsisten. Ketiga prinsip itulah yang kini terus mengantarkan langkah Ramos Rizky, seorang pelajar SMK asal Palembang, mengejar mimpinya menjadi ethical hacker yang mampu memberi manfaat bagi keamanan digital Indonesia.
(**)











