Cerpen: Perempuan yang Berteman Senja

Foto: https://pxhere.com/id/photo/977117

Senja itu, semilir angin berhembus sepoi. Hembusannya menusuk kalbu para pengunjung Pantai. Keeksotikan pantai memuaskan mata yang memandang.

Sementara di bibir pantai kecipak air laut saling bersahutan meniupkan bunyi harmoni alam yang sangat indah bak orkestra yang memainkan lagu-lagu Mozart.

Read More

Kesepoian semilir angin tak mampu tutupi kegelisahan seorang wanita yang dipanggil teman-temannya dengan Catarina atau Rina. Wajahnya yang cantik tak mampu sembunyikan lara. Ada kedukaan yang sangat mendalam dalam raganya. Tersembunyi dalam jiwanya.

“Ayo Mbak kita pulang. Sebentar lagi azan magrib tiba,” ajak seorang temannya kepada dirinya.

“Iya nih Mbak. Betah amat sih di pantai. Ada yang ditunggu ya,” seloroh temannya ang lain sembari ketawa.

“Ayo. Siapa takut,” sahut Rina sembari bergabung dengan kedua rekannya yang lain.

Malam makin merenta. Serenta bumi yang makin menua. Rembulan enggan bersinar. Hanya lolongan anjing hutan yang masih berdesah mencari mangsanya. Susuri jalanan kecil di hutan yang masih tersisa di perkampungan yang mulai moderen. Dan sergapannya gagal malam ini. Tak ada mangsa. Semuanya sudah bermimpi dalam pelukan impian yang tak nyata.

Rina masih di depan televisi. Sesekali lirikan matanya melirik handphone yang tergeletak di atas meja. Tak ada bunyi. Tak ada suara. Dan tak ada tanda-tanda kan berdering. jam didinding sudah menunjukan angka tiga. Mustahil masih ada dering telepon malam selarut ini. Kecuali ada yang genting.

“Ah, kamu memang bikin aku penasaran,” desisnya dalam hati.

Pertemuannya dengan jurnalis lokal dalam suatu acara perkenalaan produk jamu telah membuat Rina dan lelaki bertubuh atletis itu menjadi karib. Kendati hanya lewat handphone, keduanya bisa akrab dan saling mengisi.

Maklum Rina adalah seorang wanita yang pernah bersuami. Dan wanita single parent itu merasa lelaki yang bernama Timpas itu adalah lelaki sejati yang mampu mengobati kerinduannya. Mampu menorehkan kebahagian sejati. Dan mampu melampiaskan kedahagaannya akan kasih sayang yang hilang dimakan zaman.

Rina sangat bahagia mendengar kabar bahwa Timpas akan datang ke Kotanya untuk sebuah liputan kegiatan. Rina amat menunggu moment spesial itu. Dan ada sesuatu yang ingin dia katakan kepada lelaki brewokan itu bahwa dirinya sangat mencintai lelaki itu. Dan soal apa jawaban lelaki itu, bukanlah persoalan. yang penting dirinya bisa menuntaskan dahaga hatinya.

“Masa sih seorang perempuan menyatakan cinta kepada seorang lelaki? Apa mau kiamat dunia ini,” tanya rekannya.

“Lho. Nggak ada salahnya toh kita yang duluan nyamber. Daripada disamber orang duluan,” sahut Rina yang diriingi tawa rekannya. Dunia seolah bahagia melihat Rina yang ketawa ketiwi bak ABG.

“Berarti ada momen spesial dong,” goda temannya.

“Ah, kamu mau tahu aja urusan orang,” sahut Rina sembari pura-pura cemberut.

Malam itu adalah malam spesial bagi Rina dan Timpas. Usai melakukan liputan, Timpas langsung menemui Rina di sebuah cafe terkenal di Kota itu. Keduanya asyik berbincang. Seolah-olah bak dua insan yang sudah saling kenal secara jiwa.

Dan Rina tak menolak ketika Timpas mengandengnya ke dalam kamar tempatnya menginap. Tak ada rasa sesal malam itu. Tak da. Yang ada cuma kebahagian yang mengaliri raganya.

Keduanya menjadikan malam yang bening itu sebagai malam kegelapan. Keduanya saling membahagiakan. Saling menyatukan diri dalam kesesatan naluri sebagai manusia dewasa.

“Bulan depan saya akan datang lagi ke sini. Dan saya akan berikan surprise buatmu dan anakmu,” ujar Timpas usai keduanya melampiaskan aksi sebagai manusia dewasa.

“Terima kasih Mas. Saya akan menunggumu,” jawab Rina dengan suara penuh kebahagian.

Tanggalan di rumah Rina sudah menunjukan hari yang lewat dari janji yang diucapkan Timpas. Rina masih menunggu. Wanita itu masih memakluminya.

“Mungkin Mas Timpas masih ada pekerjaan,” hiburnya dalam hati. “Jangan-jangan Mas Timpas sedang sakit,” desisnya dengan nada prihatin.

“Atau jangan-jangan,” hatinya jadi bimbang.

Dan ketika tanggalan di rumahnya sudah lewat tiga bulan, Rina berusaha mencari informasi tentang dimana lelaki sejati itu yang telah pernah memberinya semangat hidup berada.

Sayang nomor kontak yang ditinggalkan Timpas tak aktif. Demikian pula ketika mengontak nomor kantor Timpas, tak ada kabar baik yang didapatnya. Semuanya gelap. Semuanya hitam. Tak ada jawaban yang memuaskan hatinya.

” Timpas? Mohon maaf Ibu. Kami tak kenal,” jawab rescepsionis.

Rina mulai kecewa. Ada penyesalan yang mengaliri relung jiwanya. Ada rasa sesal yang menyelimuti raganya. Dan ada rasa benci yang mulai menghantui pikirannya.

“Ah, ternyata semua lelaki sama. Hanya ingin bahagianya saja,” keluhnya.

Tak ada yang menjawab. Tak ada yang merespon keluhannya. Angin pun enggan berdesis. Rembulan malam pun enggan menyinari bumi.

Kini Rina pun mengisi hari-harinya dengan duka. Hanya lara yang menemaninya sepanjang hari. Tak ada bahagia. Tak ada senyuman. Yang ada hanya rasa penyesalan. Yang ada hanya rasa kepedihan.

Dan hanya kepada keindahan pantai wanita itu bercerita. Hanya kepada kecipak air laut dia berbagi rasa. Dan kini, setiap senja dia selalu berada di pantai untuk berbagi cerita kepada alam raya dan semesta, walaupun tanpa jawaban pasti.

Karya: Rusmin Toboali
Pengirim : Rusmin Toboali

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.