Cerpen: Pada Suatu Malam, di Kamar Nomor Satu Blok Satu

Ilustrasi/ net

Malam makin membangkrut. Cahaya rembulan malam masih mentemaramkan alam semesta. Sinarnya masih benderang. Dengus anjing hutan liar pun masih mendengus menapaki jalan di hutan kecil pinggir kota mencari mangsa. Desis dedaunan masih berderit. Dan Matliluk pun masih terjaga.Masih terjaga dari rasa kantuknya.

MALAM ini adalah malam ketujuh dirinya menghuni kamar bersama para tahanan lainnya. Degup jantungnya terasa lain. Sungguh terasa berbeda malam ini. Ada sesuatu yang ganjil dalam detak jantungnya. Berdetak tak beraturan. Sementara tatapan bola matanya masih menerawang. Masih menerawang.

Read More

Desah dari para tahanan sekamarnya masih terdengar lirih. Selirih dengan detak jantungnya yang berdetak tak beraturan. Kadang kencang. Kadang melemah. Rembulan tak bercahaya. Awan pun berarak pelan. Semesta tak riang dalam menyambut kedatangan sang mentari pagi.

Sudah seminggu Matliluk mendekam di rumah tahanan, kegelisahan yang tak terperikan melanda sekujur tubuhnya. Kegelisahan yang tak terceritakan. Kegelisahan yang tak ternarasikan. Dan kegelisahan yang tak terkonversikan dengan angpao dan fulus yang selalu menjadi panglima bagi dirinya saat berkuasa.

Baru tujuh hari menghuni kamar nomor 1 blok 1, Matliluk mulai merasakan kepedihan yang tak terkira. Kepedihan yang tak terceritakan. Dan kepedihan yang tak bisa dibayar dengan tunai yang selama ini selalu menjadi trade mark saat dirinya sebagai pimpinan daerah.

Baru seminggu menghuni rutan yang dulu diresmikannya saat masih menjadi pejabat daerah, Matliluk merasa terasing. Terasing dari hingar bingarnya acara seremonial. Terasing dari orang-orang yang pernah dibantunya dan membantunya saat berkuasa. Dan terasing dari hingar bingarnya dunia kebebasan. Sangat terasing.

Dan baru seminggu berada di balik jeruji besi, rasa malu pun mulai melanda keluarga besar Matliluk. Apalagi hampir tiap hari media terus memberitakan tentang tertangkapnya Matliluk. Dan Matliluk kini mulai merasakan bentuk dari rasa malu itu.

Ternyata kehormatan yang hakiki itu adalah ketika seorang manusia begitu berharga karena perbuatan baiknya dan bukan bermartabat karena jabatan tinggi.

Kata orang bijak penyesalan memang tak selalu didepan. Selalu dibelakang. Dan nasehat itu sering diungkapkkannya saat memberikan pengarahan kepada para birokrat di daerahnya.

Matliluk pun menghitung selama 7 hari dirinya menghuni rutan yang terletak di ujung kota, yang datang menjenguk dan melihatnya hanya segelintir orang. Itu pun kebanyakan dari pihak keluarganya. Istri, anak dan saudaranya. Yang lain tak kelihatan batang hidungnya.

Padahal dulunya mereka para birokrat abdi negara yang merengek-rengek minta jabatan sambil membawakan segepok angpao dalam amplop coklat. Para birokrat itu bahkan ada yang menangis bersama istrinya untuk sebuah jabatan.

Kini…? Entah kemana para birokrat gila jabatan itu berada. Barangkali sudah mendekat dan menghamba diri kepada penggantinya biar jabatan mareka aman.

Matliluk masih ingat ketika dirinya berkuasa sebagai pejabat daerah begitu banyak orang yang datang ke rumah dan ke kantornya dengan seribu apologi. Ada yang minta proyek. Ada yang minta naik pangkat.

Ada yang datang bawa proposal. Bahkan ada yang datang sambil berlutut untuk sebuah jabatan. Kini wajah-wajah mareka tak kelihatan. Menghilang bak angin yang datang semilir dikala senja hari saja.

Sebagai pejabat daerah yang dipilih langsung oleh rakyat, Matliluk adalah tipikal pemimpin yang sangat didambakan rakyat. Sederhana dan religius.

Tak heran bila dengan kesederhanaan dan kereligiusannya itu, Matliluk mampu menumbangkan incumbent yang didukung infrastruktur partai dan mesin partai yang kuat dan pendanaan besar.

“Saya yakin ketika negeri ini dipimpin Matliluk maka akan ada rasa damai dihati masyarakat karena beliau seorang yang religius dan tak mengekploitasi amanah kita. Saya yakin dan percaya,” ujar seorang pengurus masjid sebelum masa kampanye usai salat berjamaah di sebuah masjid kepada para jemaah masjid.

Kesederhaan yang menjadikan dirinya bernilai jual tinggi pada saat Pilkada lalu, sehingga sejuta asa diapungkan rakyat dalam relung hatinya. Alhasil dengan senang hati dan rasa gembira rakyat memilih dirinya dalam TPS.

”Matliluk seorang pejabat yang sederhana. Tak mungkinlah berbuat yang neko-neko. Saya yakin dan percaya,” ujar tokoh masyarakat sebelum masa kampanye.

“Lagi pula, sebelum beliau menjadi pejabat daerah, beliau sudah kaya raya,” sambung tokoh masyarakat yang lainnya.

Seiring waktu, harapan rakyat yang demikian besar ternyata tak mampu dijawab Matliluk dengan baik dan rasa tanggungjawab untuk mengedepankan amanah itu. Ketulusan hati rakyat dalam memilihnya justru dijadikan elemen bagi Matliluk tampil sebagai penguasa daerah dan bukan sebagai pemimpin rakyat di daerah.

Matliluk tampil sebagai pemimpin daerah yang bukan hanya tak mampu mengelola daerah sesuai standar pemerintahan, namun justru mengambil banyak keuntungan pribadi dan kelompoknya dalam memimpin daerah.

Tak pelak berbagai predikat buruk selalu dinobatkan buat daerah. Dan yang amat mengherankan Matliluk seolah tak bergeming. Seolah-olah membiarkan atas penobatan predikat buruk itu.

Akibatnya, sejumlah LSM dan penggiat sosial selalu menjadikan Matliluk sebagai sasaran tembak. Namun Matliluk seakan tak memperdulikan teriakan para LSM itu. Bak anjing menggonggong khafilah jalan terus.

“Silahkan mareka mengkritik, toh yang memegang remote dan kendali adalah saya,” ujar Matliluk dalam suatu kesempatan.

Dengan mengadopsi gaya Nicholas Engelhard yang menjadikan upeti sebagai simbol bagi birokrat yang ingin naik pangkat dan jabatan, Matliluk mulai berpetualang dengan amanah rakyat.

Mengembara dengan amanah rakyat untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Matliluk masih ingat ketika seorang birokrat yang berprestasi harus dibuangnya saat tak mampu menjawab tantangannya.

“Bapak orang pintar. Cerdas. Berprestasi kalau Bapak saya jadikan kepala dinas, apa yang akan Bapak berikan?” tanya Matliluk pada suatu hari di ruangan kantornya yang asri.

“Insya Allah, Pak. Saya akan memberikan kontribusi pemikiran dan karya saya untuk daerah ini,” ujar sang birokrat.

Matliluk hanya manggut-manggut. Manggut-manggut seribu arti. Dan birokrat itu terkejut ketika bawahanya yang tak bisa bekerja, justru tiba-tiba diangkat Matliluk sebagai kepala dinas. Bawahannya dengan tegas menyebut dalam rapat bahwa dirinya harus mengeluarkan segepok angpao untuk jabatan itu.

”Saudara semua di dinas ini harus paham, bahwa untuk menjadi pimpinan kalian, saya harus berjibaku dulu dengan ini,” ujarnya sambil menggesekkan jari jempolnya dengan jari telunjuk sebagai sebuah tanda. Dan birokrat bawahannya hanya terdiam. Membisu.

Dan tak heran dimasa kepemimpinan Matliluk sebagai penguasa daerah, kompetensi dan prestasi bukan parameter dalam mengangkat pejabat. Yang penting wani piro.

Dan itu sudah menjadi rahasia umum dan narasi di masyarakat. Tak pelak penghormatan dari masyarakat terhadap para kepala SKPD pun tak ada. Hambar. Di otak dan benak masyarakat para kepala SKPD itu diangkat Matliluk karena angpao. Bukan karena prestasi kerja mereka.

Pengadaan peralatan alat-alat telekomunikasi di salah satu kantor dinas adalah sumber malapetaka bagi Matliluk. Pemotongan anggaran yang dilakukan bawahannya untuk kepentingan dirinya, tercium KPK. Dan Matliluk tak berkutik ketika penyidik KPK menangkapnya pada suatu malam di salah satu kamar hotel di ibukota negara.

Dan kehebohan melanda daerah ketika Matliluk ditangkap. Menyaksikan Matliluk ditangkap aparat hukum, berbagai perilaku masyarakat terumbarkan. Ada rasa bahagia yang tak terperikan. Laksana bebas dari beban yang begitu berat.

Ada masyarakat yang membuang beras kunyit sebagai tanda kegembiraannya. Ada yang salat sebagai tanda syukur. Dan sejumlah atraksi lainnya dari masyarakat dalam menyikapi tertangkapnya Matliluk pemimpin mareka yang dipilih lima tahun silam.

Adzan subuh sudah terdengar. Para penghuni rutan sudah mulai berdatangan memenuhi panggilan agung dari Sang Pencipta. Beberapa orang dalam masjid rutan tampak melihat ke kanan ke kiri.

Tampaknya ada sesuatu yang ganjil. Ada sesuatu yang kurang lengkap. Ada sesuatu yang hilang. Tak tampak wajah Matliluk yang selama seminggu ini selalu menjadi imam saat salat berjamaah di masjid rutan.

”Kok Pak Matliluk ndak subuh. Biasanya kan beliau yang jadi imam. Apa beliau sakit?” tanya salah satu jemaah.
“Semalam saya lihat beliau asyik berbincang dengan sesama tahanan di kamarnya. Apa usai salat kita ke kamarnya. Siapa tahu beliau kurang sehat,” jawab jemaah yang lain.

Usai menunaikan Salat Shubuh, para jemaah masjid rutan bersama-sama menuju kamar Matliluk. Di kamar ukuran kecil itu tak ada tanda-tanda aktivitas manusia. Semuanya lelap dalam mimpinya masing-masing.

”Kok Pak Matliluk tak ada,” ujar salah satu jemaah sambil mengintip dari luar kamar.
”Coba hidupkan lampu penerangan dalam kamar biar terang sehingga kita bisa meihatnya,” saran jemaah yang lain.

Dan betapa kagetnya para jemaah Shubuh yang mayoritas penghuni rutan, saat lampu dalam kamar Matliluk dihidupkan, mereka melihat tubuh Matliluk terbaring kaku diantara dengkuran para tahanan lainnya yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Dan ketika salah satu penghuni rutan mendekat, dan memeriksa degup nadi Matliluk. Terhenti.

”Beliau sudah meninggal,” ujarnya.

Dan narasi sakral Innalillahi Wainnalillahi Rojiun pun bergema di semesta alam. Mentari tersenyum. Sinarnya menyinari penghuni bumi. Awan berarak-arak di langit nan biru. Tebarkan cahayanya yang amat indah dan sangat dirindui manusia di bumi. (**)

Toboali, Bangka Selatan

Karya: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali.
Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.