KEBAKARAN hutan dan lahan atau karhutla sering dipahami sebagai persoalan lingkungan yang menimbulkan kabut asap. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas masyarakat ikut terganggu, termasuk kegiatan pendidikan.
Di Sumatera Selatan, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) juga dapat merasakan dampaknya melalui perubahan perkuliahan, tertundanya praktik lapangan, dan berkurangnya kenyamanan saat belajar.
Kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan menyebutkan bahwa ancaman asap berkaitan dengan kesehatan pernapasan dan kelancaran aktivitas harian masyarakat.
Bagi mahasiswa PGSD, persoalan ini menjadi semakin penting karena mereka sedang dipersiapkan untuk menjadi guru yang kelak bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keberlangsungan belajar anak-anak sekolah dasar.
Dampak pertama yang paling mudah dirasakan adalah terganggunya kesehatan dan konsentrasi. Mata perih, batuk, sesak, serta rasa tidak nyaman ketika beraktivitas di luar ruangan dapat membuat mahasiswa kesulitan mengikuti perkuliahan.
Tugas yang biasanya dapat diselesaikan dengan baik bisa terasa lebih berat ketika tubuh harus beradaptasi dengan udara yang tidak sehat. Dalam kondisi seperti ini, menjaga kesehatan seharusnya menjadi prioritas, bukan dianggap sebagai alasan untuk mengabaikan perkuliahan (Haryanto dkk., 2026) .
Karhutla juga berpotensi menghambat kegiatan praktik mahasiswa PGSD. Pendidikan calon guru tidak hanya berlangsung di ruang kuliah. Mahasiswa perlu melakukan observasi sekolah, microteaching, praktik mengajar, dan interaksi langsung dengan siswa.
Jika kondisi udara memburuk atau sekolah harus menyesuaikan kegiatan, jadwal praktik dapat ditunda atau dialihkan ke pembelajaran jarak jauh. Akibatnya, kesempatan mahasiswa untuk memperoleh pengalaman nyata dalam mengelola kelas menjadi berkurang.
Pembelajaran daring dapat menjadi pilihan sementara, tetapi bukan solusi yang otomatis menyelesaikan semua persoalan. Tidak semua mahasiswa memiliki kualitas jaringan, perangkat, kuota, dan suasana belajar di rumah yang sama.
Perubahan mendadak dari tatap muka ke daring juga menuntut dosen dan mahasiswa untuk menyesuaikan metode, jadwal, serta bentuk penilaian. Karena itu, kebijakan pembelajaran di tengah karhutla perlu mempertimbangkan kesehatan sekaligus kondisi nyata yang dihadapi mahasiswa.
Keadaan ini memberikan pelajaran penting bagi mahasiswa PGSD. Calon guru perlu belajar merancang pembelajaran yang fleksibel ketika kondisi normal tidak dapat dipertahankan. Mereka dapat berlatih membuat bahan ajar sederhana, menyusun aktivitas yang dapat dilakukan dari rumah, dan menjaga komunikasi dengan orang tua siswa. Kemampuan tersebut akan berguna bukan hanya saat terjadi karhutla, tetapi juga ketika sekolah menghadapi banjir, wabah, atau keadaan darurat lainnya.
Karhutla juga dapat menjadi bahan pendidikan lingkungan di sekolah dasar. Mahasiswa PGSD dapat mengajarkan kepada anak tentang penyebab kebakaran, bahaya membakar sampah sembarangan, pentingnya menjaga hutan, serta cara melindungi diri ketika udara berasap.
Materi tersebut sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan pengalaman anak. Tujuannya bukan menakut-nakuti, melainkan menumbuhkan kepedulian dan kebiasaan menjaga lingkungan.
Dalam situasi darurat, guru perlu mampu menempatkan keselamatan siswa di atas target pembelajaran yang kaku. Calon guru harus memahami bahwa pembelajaran yang baik bukan hanya pembelajaran yang menyelesaikan banyak materi, tetapi pembelajaran yang memperhatikan kondisi peserta didik.
Jika anak sedang mengalami gangguan kesehatan atau sekolah berada di wilayah dengan kualitas udara buruk, guru perlu menyesuaikan beban tugas, metode, dan waktu belajar.
Perguruan tinggi juga memiliki peran penting. Program studi PGSD dapat memasukkan pendidikan kebencanaan dan pembelajaran pada situasi krisis ke dalam kegiatan perkuliahan.
Mahasiswa dapat diajak menyusun rencana pembelajaran darurat, mengembangkan media edukasi tentang lingkungan, dan melakukan simulasi komunikasi dengan orang tua. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan mengajar dalam keadaan normal, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi persoalan yang muncul di lapangan.
Karhutla menunjukkan bahwa gangguan terhadap pendidikan tidak selalu datang dari dalam sekolah. Masalah lingkungan dan kesehatan dapat memengaruhi proses belajar secara langsung.
Karena itu, penanganan karhutla harus dipandang sebagai upaya melindungi masyarakat sekaligus menjaga hak anak dan mahasiswa untuk memperoleh pendidikan yang aman (Sekretariat SPAB, 2025).
Bagi mahasiswa PGSD, kondisi ini merupakan tantangan sekaligus pelajaran. Mereka perlu menjadi calon guru yang adaptif, peka terhadap lingkungan, dan mampu memilih cara belajar yang sesuai dengan keadaan.
Pendidikan tidak boleh mengabaikan keselamatan, tetapi juga tidak boleh berhenti tanpa strategi. Di tengah kabut asap, pendidikan harus tetap menyala melalui pembelajaran yang aman, fleksibel, dan manusiawi. (**)
Penulis: Maharani Eka Wahyuni, Siti Nur Alizah, Sella Selvia, Alinie Agustin, Mazilah Ramni, Devi Tebay sebagai Mahasiswa S1 di Universitas Sriwijaya; Mazda Leva Okta Safitri, M.Pd. dan Nurdin Kamil, M.Pd. sebagai dosen PGSD di Universitas Sriwijaya.
Daftar Pustaka:
BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan. (2026, 20 April). Kawal kesiagaan karhutla, BMKG perkuat koordinasi penanggulangan asap demi kenyamanan warga Ogan Ilir. https://staklim-sumsel.bmkg.go.id/kawal-kesiagaan-karhutla-bmkg-perkuat-koordinasi-penanggulangan-asap-demi-kenyamanan-warga-ogan-ilir/
Haryanto, B., Kurniasari, F., Trihandini, I., Nugraha, F., Widayana, N. G., & Winarni, N. L. (2026). Climate Change Adaptation to Smoke Haze for Improved Child Health in Southeast Asia: Analysis Situation in Palembang, Indonesia. Annals of Global Health, 92(1), 1–8.
Sekretariat Satuan Pendidikan Aman Bencana. (2025, 5 Agustus). Sekolah aman bencana. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. https://spab.kemendikdasmen.go.id/web/berita-sekolah-aman-bencana.html







