Begini Pengakuan Mahasiswa Pembunuh Sopir Taksi Online

Senin, 2 April 2018
Palembang, Sumselupdate.com – Meski Polda Sumsel mengancam akan menembak mati para buronan yang terlibat perampokan dan pembunuhan sopir taksi online, Tri Widiantoro (44). Namun hal itu tak menciutkan nyali Hengki, salah satu pelaku.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengatakan, saat ini sudah tiga dari empat tersangka yang tertangkap.

Berdasarkan informasi, meski pihaknya telah mengancam menembak mati para DPO. Namun, Hengki malah menantang. “Kata dia (Hengki) menantang polisi. Jadi silakan saja,” katanya saat ditemui di Polda Sumsel, Senin (2/4/2018).

Read More

Ia mengaku saat ini pihaknya sudah mengetahui keberadaan Hengki ini. Karena itu, pihaknya memastikan akan menyikat habis DPO Hengki ini. Karena, dia sangat kejam kepada korban.

Meski begitu, jika Hengki menyerahkan diri, tentunya sebagai pihak kepolisian akan menjunjung Hak Azasi Manusia (HAM) dan akan melindunginya. “Karena itu, lebih baik serahkan diri saja, jika tidak kami sikat betul,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi orangtua Tyas Dryantama, salah satu pelaku karena telah menyerahkan anaknya ke Polda Sumsel. Karena itu, pihaknya memastikan hukum akan ditegakkan dan akan melindungi, meski sebagai tersangka.

“Ayahnya menyerahkan anaknya setelah kami mengancam akan menghabisi para pelaku sehingga ayahnya menyerahkan anaknya langsung ke Jatanras,” ujarnya.

Keterlibatan Tyas sendiri yakni memegang tangan dari korban serta ikut dalam membuang mayat korban di semak-semak. “Nantinya kami akan membimbing pelaku ini agar ke depan lebih baik,” tutupnya.

Sementara itu, tersangka Tyas Dryantama (19), mengaku tidak mengetahui kemana keberadaan dari Hengki. Selain itu, dirinya juga mengaku kalau yang merencanakan pembunuhan ini yakni Bayu Irmansyah, Poniman, dan Hengki sedangkan dirinya hanya ikut-ikutan saja.

“Saya hanya ikut memegang tangannya saja dan ikut membuang korban,” katanya saat ditemui di Polda Sumsel.

Ia juga mengaku dari hasil perampokan tersebut dirinya pun tidak mengambil sepeser uang pun. “Saya memang ditawari hasilnya tapi saya tidak mau dan saya takut karena masih memikirkan kuliah saya,” terangnya.

Kejadian itu berawal Senin (11/2), ketiga temannya tersebut sudah merencanakan pembunuhan. Kemudian, pada Kamis (15/2) saat baru pulang kuliah ketiga temannya datang ke kosannya dan menanyakan tali tambang dan ia mengambilkannya.

Dirinya mengaku tidak tahu tali tambang ini digunakan untuk menjerat korban.  Kemudian, Bayu disuruh memesan Go-Car oleh Poniman dari belakang kantor Gubernur ke kawasan Kenten Laut, Kabupaten Banyuasin. Dirinya pun mengaku diajak ketiga temannya tersebut untuk ikut.

Sesampainya di Kenten Laut ketiga temannya melakukan aksi ini dan dirinya hanya memegang tangan kiri korban. Setelah korban tewas ia pun disuruh membantu membuang korban di semak-semak.

“Saya ingin melaporkan kejadian ini tapi saya takut karena kata Hengki jika saya melapor, saya juga akan ditangkap. Jadi saya takut,” jelasnya. (tra)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts