Asyik Tanam Bibit Cabai, Warga Lahat Temukan Guci yang Diduga Benda Bersajarah di Dalam Tanah

Jumat, 1 Maret 2019
Alwindri mengangkat guci hasil temuannya di dalam tanah kebunnya di Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (1/3/2019).

Lahat, Sumselupdate.com – Asyik menanam bibit cabai di kebunnya, Alwindri (29), warga Desa Tanjung Bulan, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menemukan guci yang diduga benda bersejarah, Jumat (1/3/2019), sekitar pukul 07.00.

Guci kuno yang berwarna kekuning-kuningan itu berukuran diameternya sekitar 50 sentimeter dan tinggi 80 sentimeter.

Read More

“Waktu nyangkul di kebun cak biase, taunye ade yang nyangkut, kugali ketemu guci itu,” ujar Alwindri.

Diceritakan Alwindri, tak ada keanehan saat dia mencangkul di kebunnya. Saat itu dia membuat lubang-lubang untuk bibit cabai yang akan dimasukkan ke dalam tanah.

Namun saat asyik menggali, mata cangkulnya menyentuh benda aneh dan keras. Saat digali lebih dalam, menyebul benda menyerupai guci. Alwindri sendiri sekarang menyimpan guci tersebut di kediamannya.

Terpisah, Arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Kristantina Indri Astuti yang banyak meneliti peninggalan megalitik Bumi Paseumah mengaku, belum mengetahui tentang penemuan guci tersebut.

Hanya saja menurutnya, penemuan di kaki Gunung Dempo untuk guci yang terbuat dari gerabah tanah sudah ada sebelumnya.

Guci tersebut banyak ditemukan di Desa Gunung Kaye, Kecamatan Jarai, hingga ke Situs Tanjung Aro, Pagaralam, dan Desa Kotaraya Lembak, Kecamatan Pajar Bulan.

“Jika di Kecamatan Tanjung Sakti sendiri ada situs megalitik yakni batu tiang enam. Biasanya di sekitarnya berarti ada hunian megalitik,” jelas Tantin sapaan arkeolog Kristantina Indri Astuti.

Menurut Tantin dari temuan guci ini diperkirakan seusia megalith yang ada yakni sekitar 1.000 tahun sampai 600 tahun lalu, atau sekitar abad ke-10 sampai abad ke-14.

“Bisa jadi di sekitarnya masih ada temuan lain dari guci ini. Dari bentuk yang ada yang memiliki kuping dan goresan biasanya digunakan untuk keperluan sehari-hari,” ujar Tantin.

Sebab apabila guci gerabah itu lebih besar dan polos, biasanya merupakan guci kubur, seperti yang berada di Gunung Kaye.

Tantin mengimbau warga yang menemukan guci menyimpannya, hingga menunggu mereka melakukan penelitian, sebab benda tersebut adalah peninggalan bersejarah yang harus dijaga. (sofi)

 

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts