Baghdad, Sumselupdate.com — Berakhirnya misi militer koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) di Irak pada Rabu (30/9/2026) menandai babak baru dalam hubungan kedua negara setelah lebih dari dua dekade keterlibatan militer AS di negara tersebut.
Bagi sebagian warga Irak, berakhirnya misi tersebut bukan sekadar peristiwa militer. Kepergian pasukan asing juga dipandang sebagai momentum yang berkaitan dengan kedaulatan nasional dan pengalaman panjang masyarakat Irak menghadapi konflik.
Di tepi Sungai Tigris, Baghdad, seorang warga berusia 80-an tahun, Ismail Mohammed, mengungkapkan perasaannya atas berakhirnya kehadiran militer AS.
“Pasukan Amerika akhirnya pergi. Kami sudah begitu lama menantikan hari ini,” ujar Ismail kepada Xinhua.
Pemerintah Irak menetapkan libur nasional selama empat hari mulai Rabu untuk menandai apa yang disebut sebagai “Hari-Hari Kedaulatan”.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi mengatakan 1 Oktober menjadi awal era baru bagi negaranya, dengan Irak menjalankan kedaulatan penuh atas wilayahnya tanpa kehadiran pasukan militer asing.
Bagi masyarakat yang ditemui di Baghdad, istilah kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Kehadiran atau tidak adanya pasukan asing di wilayah Irak menjadi salah satu hal yang dirasakan secara langsung oleh warga.
“Sejujurnya, setiap warga Irak ingin melihat pasukan AS pergi. Tidak ada warga Irak yang ingin negaranya diduduki,” kata Ahmed Ali.
Warga lainnya, Mahdi Saleh, juga menyampaikan harapannya agar berakhirnya kehadiran pasukan asing dapat menjadi momentum bagi persatuan masyarakat Irak.
“Sungguh menyakitkan bagi rakyat Irak melihat pasukan Amerika berada di negara kami. Kini saya berharap rakyat Irak dapat bersatu dan mewujudkan solidaritas nasional,” ujarnya.
Jejak Panjang Konflik
Kehadiran militer AS di Irak tidak terlepas dari invasi yang dipimpin AS pada 2003. Saat itu, pemerintahan Presiden AS George W. Bush menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal. Namun, senjata tersebut tidak ditemukan setelah invasi.
Konflik tersebut kemudian diikuti periode panjang ketidakstabilan politik dan keamanan yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat Irak.
Hussein Ali, yang lahir sekitar masa invasi 2003, mengatakan keberadaan pasukan AS menjadi bagian dari pengalaman masa kecilnya.
“Ketika masih kecil, saya merasa takut setiap kali melihat tentara Amerika,” katanya. Ia menggambarkan masa tersebut sebagai periode yang diwarnai penderitaan, kekerasan, dan ketakutan bagi banyak keluarga Irak.
Pasukan AS sebelumnya menarik sebagian besar pasukannya dari Irak pada 2011. Namun, ketidakstabilan keamanan belum sepenuhnya berakhir.
Pada 2014, kelompok ISIS merebut Mosul dan menguasai wilayah luas di bagian utara serta barat Irak. AS kemudian kembali ke Irak sebagai bagian dari koalisi internasional untuk memerangi kelompok tersebut.
Irak menyatakan kemenangan teritorial atas ISIS pada 2017. Meski demikian, pasukan AS dan negara-negara koalisi tetap berada di Irak dalam peran yang secara resmi mencakup pemberian nasihat dan pelatihan kepada pasukan keamanan Irak.
Selama periode tersebut, Irak juga menghadapi serangkaian ketegangan antara kelompok bersenjata dan pasukan AS. Serangan terhadap fasilitas militer AS dan respons militer Amerika menjadi bagian dari dinamika keamanan yang turut memengaruhi situasi politik Irak.
Tantangan Setelah Pasukan Asing Pergi
Berakhirnya misi militer koalisi tidak secara otomatis menghapus berbagai persoalan yang masih dihadapi Irak.
Pemerintah Irak masih harus menghadapi tantangan politik dalam negeri, keberadaan kelompok bersenjata, persoalan ekonomi, serta risiko munculnya kembali kelompok ekstremis.
Karena itu, berakhirnya kehadiran militer asing menjadi salah satu tahap dalam perjalanan Irak, bukan akhir dari seluruh persoalan keamanan dan politik negara tersebut.
“Sekarang mereka akhirnya pergi, semua orang senang,” kata Hussein Ali.
Bagi masyarakat Irak, tantangan berikutnya adalah memastikan kedaulatan yang telah ditekankan pemerintah dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keamanan, pembangunan, stabilitas politik, dan kondisi ekonomi yang lebih baik.
Sungai Tigris, yang membelah Baghdad dan telah menjadi saksi berbagai konflik serta perubahan politik Irak, kini menjadi bagian dari lanskap sebuah babak baru dalam perjalanan negara tersebut.
(**)







