Jakarta, Sumselupdate.com – Unjuk rasa (Unras) pecah di berbagai daerah Indonesia dari akhir Agustus sampai awal September 2025.
Penyampaian aspirasi yang semula damai merujuk ke tindakan anarkistis. Penjarahan hingga perusakan berbagai fasilitas umum pun dilaporkan di berbagai tempat.
Anggota Komisi I DPR RI, Elita Budiati menyebut gerakan anarkis itu bukti kegagalan intelijen negara melakukan antisipasi eskalasi massa. Intelijen punya tugas untuk melakukan mitigasi dan deteksi dini ancaman keamanan negara.
“Tugas intelijen itu kan melakukan deteksi dini dan mitigasi. Ini gak ada, kalau ada minimal bisa diminimalkan. Ini kan kerusuhan yang hampir tidak bisa ditanggulangi. Artinya saya boleh dong bilang ini ada sedikit kegagalan di intelijen,” ujar Elita dalam Kunjungan Kerja Reses Komisi I DPR RI ke Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Selasa (7/10/2025).
Dia menyayangkan TNI dan Polri tidak berkoordinasi dengan baik menangani potensi amuk massa.
Elita mendorong agar kedua institusi ini bekerja sama saat ada gerakan yang bisa berujung mengganggu keamanan masyarakat.
Dikatakan, penyampaian aspirasi adalah hak dari warga negara. Sudah wajar penyampaian aspirasi tersebut juga dikawal supaya tetap berada dalam jalur kondusif dan kontekstual.
Setiap instrumen negara diharapkan bisa menghilangkan ego sektoral yang jadi penghambat jalur koordinasi antar institusi mengantisipasi potensi anarkis beberapa waktu lalu.
“Kita dengar sendiri dari Panglima TNI saat rapat, ada ego sektoral di antara institusi yang mempunyai bidang intelijen untuk satu suara. Itu harus kita garisbawahi. Tidak boleh ada miskoordinasi seperti itu apalagi ego sektoral karena itu berbahaya,” tegasnya.
(**)











