Palembang, Sumselupdate.com – Kepala Disbudpar Sumsel Irene Camelyn Sinaga mengatakan kalau kunjungan wisatawan ke Sumsel tahun 2015 meningkat dari 2014.
“Kalau tahun ini datanya kami belum tahu, tapi 2015 meningkat 48 ribu sedangkan 2014 hanya 32 ribu,” katanya, Senin (12/12/2016).
Pihaknya optimis, tahun 2016 ini, kunjungan wisatawan baik mancanaegara dan nusantara ke Sumsel akan meningkat dengan menjual banyak detinasi wisata di Sumsel.
“Yang menjual wisata itu bukan dinas tapi industri, apakah industrinya inovatif, kalau tidak inovatif maka komunitas komunitas sudah berjualan, meskipun komunitas ini harus dibimbing dan diberikan penyuluhan agar menjual paket yang benar supaya wisatawan aman,” katanya.
Apalagi dia memastikan anggaran untuk Festival Sriwijaya tahun depan hanya Rp200 juta , pihaknya berharap yang lainnya pihak Kementrian terkait bisa membantu.
“Kita masih terus follow up ke depan untuk mengejar, karena dana APBD kita terbatas, “ katanya.
Karena itu untuk melaksanakan even di Sumsel pihaknya sangat membutuhkan dana dari APBN dan sumbangan yang lain.
Sedangkan Anggota Komisi V DPRD Sumsel Rizal Kenedi menilai pengelolaan pariwisata di Sumsel karena keterbatasan anggaran.
“Pengelolaan pariwisata di Sumsel minim, karena terkait dengan anggaran,” kata Rizal.
Dia mencontohkan beberapa kegiatan tingkat nasional belum mampu mengajak wisatawan ke daerah ini seperti di Medan orang belum merasa ke sana kalau belum ke Danau Toba, kemudian Padang dengan Jam Gadangnya.
Sedangkan Sumsel sendiri potensinya seperti memiliki Danau Ranau, tetapi anggaran untuk obyek wisata itu sendiri pada tahun ini hanya Rp50 juta. Kemudian di Lubuklinggau dengan Bukit Sulap yang sekarang ini satu-satunya digalakan oleh wali kota Lubuk Linggau bisa menikmati keseluruhan Kota Lubuklinggau dari atas bukit dengan naik melalui jalur rel kereta api dan ini baru ada di Bali.
“Bagaimana potensi pariwisata yang ada ini bisa dijual, seperti Palembang dengan kain songketnya, hanya saja terkadang orang tidak mengetahui bagaimana cara membuat songket, sementara di Yogyakarta saat di bandara saja orang sudah bisa melihat orang membatik. Oleh karena itu, kita berharap ke depan pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel supaya meminta tempat di Bandara SMB II Palembang ada orang yang sedang menenun kain songket,” katanya. (ery)











