Alarm Iklim Asia Berbunyi Keras: Banjir Dahsyat Runtuhkan Ribuan Kehidupan

Writer: - Sabtu, 6 Desember 2025
Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 2 Desember 2025 ini memperlihatkan pemandangan area yang tertutup lumpur di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. (Xinhua/Fachrul Reza)

Jakarta, Sumselupdate.com – Sejumlah wilayah di Asia Selatan dan Asia Tenggara dilanda banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir akibat hujan deras berkepanjangan yang dipicu siklon tropis. Indonesia, Sri Lanka, dan Thailand melaporkan total korban jiwa melampaui 1.400 orang, sementara hampir 900 orang masih dinyatakan hilang.

Kerentanan akibat aktivitas manusia disebut memperburuk dampak banjir, meski curah hujan yang turun sangat tinggi. Kondisi ini mendorong para pakar untuk menyerukan penguatan sistem peringatan dini, pembangunan fasilitas penampungan, dan penyusunan rencana mitigasi bencana yang lebih efektif.

Jatuhnya Banyak Korban Jiwa
Hingga Rabu (3/12/2025), sebanyak 770 orang dilaporkan tewas dan 463 lainnya hilang akibat banjir dan tanah longsor di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.

Di Sri Lanka, jumlah korban tewas akibat cuaca ekstrem yang dipicu Siklon Ditwah meningkat menjadi 479 orang, sementara 350 orang lainnya masih hilang. Lebih dari 1,6 juta warga dari 455.405 keluarga terdampak di seluruh negeri.

Thailand juga mengalami hujan ekstrem yang disebut belum pernah terjadi dalam berabad-abad, terutama di Distrik Hat Yai, Provinsi Songkhla. Citra satelit menunjukkan wilayah tersebut sempat terendam banjir setinggi 2 hingga 3 meter.

Foto yang diabadikan pada 1 Desember 2025 ini menunjukkan area yang terendam banjir di Colombo, Sri Lanka. (Xinhua/Gayan Sameera)

Hingga Selasa (2/12), sedikitnya 180 orang tewas, dengan 142 korban berasal dari Hat Yai. Kerugian materi akibat bencana ini diperkirakan mencapai 40 miliar baht.

Di Indonesia dan Sri Lanka, banjir merendam jalan dan memutus jembatan sehingga akses menuju desa-desa terpencil terputus. Cuaca buruk turut memperlambat upaya evakuasi. Organisasi Meteorologi Dunia mencatat kawasan Asia mengalami pemanasan hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global, memicu cuaca ekstrem yang lebih sering serta berdampak besar bagi perekonomian, ekosistem, dan masyarakat.

Bantuan Mulai Mengalir
Dalam pidatonya pada Minggu (30/11) malam waktu setempat, Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake menyerukan solidaritas internasional. Sementara itu, di Indonesia, pihak berwenang melaporkan kelangkaan bahan bakar dan keterbatasan akses transportasi yang menghambat proses evakuasi.

Bantuan mulai berdatangan dari berbagai negara. Bank Pembangunan Asia menyetujui hibah bantuan bencana senilai 3 juta dolar AS untuk Sri Lanka.

Pemerintah China juga memberikan bantuan kemanusiaan berupa uang tunai serta pasokan seperti jaket pelampung, tenda, selimut, dan seprai. Palang Merah China turut menyalurkan bantuan uang tunai kepada Palang Merah Sri Lanka.

Di Thailand, komunitas dan perusahaan China menggalang dana dan pasokan untuk membantu korban banjir. Kamar Dagang Zhejiang di Thailand menyalurkan bantuan berupa barang kebutuhan serta uang tunai ke wilayah terdampak.

Sistem Peringatan Dini Dipertanyakan
Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jazaul Ikhsan, menyebut rentetan banjir yang terjadi hampir bersamaan ini sebagai kombinasi cuaca ekstrem dan intervensi manusia dalam perencanaan ruang. Kerusakan daerah aliran sungai, sistem drainase yang tidak memadai, dan perubahan penggunaan lahan memperburuk dampak bencana.

Dosen Manajemen Bencana Universitas Airlangga, Hijrah Saputra, menambahkan bahwa sistem peringatan dini belum menjangkau desa-desa terpencil. Ia menilai perencanaan ruang masih semrawut dan rehabilitasi lingkungan belum berjalan optimal.

Menurutnya, ketahanan bencana harus dibangun melalui penguatan ekologi daerah aliran sungai dan sistem peringatan dini yang terintegrasi secara regional.

Pakar lingkungan Thailand, Sonthi Kotchawat, menyoroti kurangnya pelatihan publik dan panduan pelaksanaan rencana darurat. Seorang ilmuwan dari Universitas Kasetsart juga menilai peringatan potensi banjir terlambat dikeluarkan, sehingga tidak memberi waktu cukup bagi pemerintah daerah mempersiapkan mitigasi.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts