Gaza City, Sumselupdate.com — Dua warga Palestina tewas dan 13 lainnya mengalami luka-luka setelah sebuah kendaraan menjadi sasaran serangan udara Israel di kawasan Tal al-Hawa, Gaza City bagian barat, Minggu (13/9).
Menurut sumber-sumber setempat dan saksi mata, sebuah drone Israel menembakkan rudal ke kendaraan yang sedang melintas di kawasan tersebut. Serangan itu menyebabkan ledakan dan kendaraan terbakar.
Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina dalam pernyataan singkat menyebutkan dua orang meninggal dunia dalam insiden tersebut. Sementara 13 orang lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang berbeda.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi adanya serangan tersebut. Namun, IDF menyatakan bahwa dua orang yang menjadi sasaran serangan merupakan militan Hamas.
IDF mengidentifikasi keduanya sebagai Hassan Ali Abu Nada dan Abd al-Rahim Ahmad Khalil Khawa. Menurut IDF, keduanya merupakan anggota unit teknik di sayap militer Hamas.
IDF juga mengeklaim kedua orang tersebut baru-baru ini terlibat dalam produksi dan pengembangan senjata serta serangan terhadap tentara dan warga sipil Israel.
Sementara itu, serangan tersebut terjadi di tengah kondisi gencatan senjata di Jalur Gaza yang masih rapuh. Operasi dan insiden militer dilaporkan masih menimbulkan korban di pihak Palestina.
Otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza menyebut sedikitnya 1.369 warga Palestina tewas dan 4.627 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025.
Di tengah situasi tersebut, kondisi layanan kesehatan di Gaza juga menghadapi persoalan serius terkait ketersediaan bahan bakar dan pasokan medis.
Mohammed Abu Afash, direktur bantuan medis di Gaza City, mengatakan pada Minggu bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberitahukan 13 rumah sakit dan tujuh pusat kesehatan mengenai rencana penghentian pasokan bahan bakar setelah 19 September akibat keterbatasan pendanaan.
Menurut Abu Afash, penghentian pasokan tersebut berpotensi semakin memperburuk kondisi sistem layanan kesehatan di Gaza yang saat ini menghadapi kekurangan bahan bakar untuk generator, obat-obatan, serta berbagai kebutuhan medis.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi fasilitas kesehatan di Gaza yang masih harus menangani korban akibat konflik yang berlangsung.
(**)











