Pagaralam, Sumselupdate.com – Di antara hamparan perkebunan kopi masyarakat di sekitar Gunung Dempo, Kelurahan Pematang Bange, Kecamatan Pagar Alam Selatan, kehadiran polisi tidak hanya menjadi simbol keamanan.
Patroli yang dilakukan Satuan Samapta Polres Pagar Alam menjadi benteng ganda: menjaga hasil perkebunan petani dari potensi pencurian sekaligus mencegah api kecil berubah menjadi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Pada Kamis (27/8/2026) siang, ketika aktivitas masyarakat masih berlangsung di kawasan perkebunan, personel Satuan Samapta menyusuri sejumlah titik yang dinilai memiliki potensi kerawanan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Patroli berlangsung sejak pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Kawasan perkebunan kopi masyarakat di sekitar Gunung Dempo menjadi salah satu sasaran utama, mengingat area perkebunan tidak hanya menjadi ruang produksi bagi petani, tetapi juga kawasan yang membutuhkan pengawasan terhadap potensi gangguan keamanan dan ancaman kebakaran.
Di lapangan, polisi tidak sekadar berkeliling. Personel berinteraksi langsung dengan masyarakat dan petani kopi. Dialog menjadi bagian penting dari patroli, sebab informasi mengenai kondisi lingkungan justru kerap muncul dari masyarakat yang setiap hari beraktivitas di kawasan tersebut.
Baca juga: Pemkot Palembang Respon Karhutlah dan Kekeringan di Tiga Kecamatan
Petugas mengingatkan para petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan pencurian buah kopi. Masyarakat juga diminta tidak ragu melaporkan aktivitas yang mencurigakan kepada kepolisian melalui Call Center 110 Polres Pagaralam.
Pesan itu menjadi penting karena keamanan perkebunan tidak sepenuhnya dapat dibangun hanya melalui kehadiran polisi. Mata dan telinga masyarakat yang berada di lokasi setiap hari menjadi bagian penting dalam mendeteksi lebih awal setiap potensi gangguan. Namun, patroli hari itu menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius.
Di tengah kawasan perkebunan, personel menemukan potensi Karhutla. Polisi kemudian memberikan teguran kepada masyarakat terkait bahaya aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Bahkan, personel bersama salah seorang warga turut melakukan upaya pemadaman api agar tidak berkembang dan meluas ke area perkebunan maupun kawasan lainnya.
Baca juga: BPBD Sumsel Gandeng Mahasiswa Beri Edukasi Pencegahan Karhutlah di Sumsel
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa ancaman di kawasan perkebunan tidak selalu datang dalam bentuk tindak kriminal. Api yang dibiarkan menyala juga dapat menjadi ancaman besar bagi lingkungan, lahan pertanian, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Karena itu, patroli kepolisian diarahkan tidak hanya untuk merespons gangguan setelah terjadi, tetapi juga melakukan pencegahan sejak dini.
Kapolres Pagaralam AKBP Adam Purbantoro S.Ik mengatakan, patroli di kawasan perkebunan merupakan bagian dari strategi kepolisian untuk memastikan masyarakat merasa aman sekaligus mengantisipasi dua potensi kerawanan, yakni gangguan Kamtibmas dan Karhutla.
“Kami mengajak seluruh masyarakat, khususnya para petani, untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan dan lahan perkebunan. Apabila melihat adanya aktivitas yang mencurigakan maupun potensi kebakaran, segera laporkan kepada pihak Kepolisian agar dapat ditindaklanjuti dengan cepat,” ujar Kapolres.
Menurut Adam, kehadiran personel di tengah masyarakat memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan rutin. Patroli menjadi sarana membangun komunikasi, menyerap informasi sekaligus menghadirkan rasa aman bagi warga yang beraktivitas di kawasan perkebunan.
Bagi petani kopi, keamanan menjadi bagian tak terpisahkan dari keberlangsungan aktivitas mereka. Tanaman yang dirawat berbulan-bulan hingga memasuki masa panen memiliki nilai ekonomi bagi keluarga. Karena itu, potensi pencurian buah kopi maupun gangguan lain di kawasan perkebunan perlu diantisipasi bersama.
Di sisi lain, kondisi lahan dan aktivitas masyarakat juga membutuhkan kewaspadaan terhadap api. Pencegahan Karhutla tidak dapat menunggu hingga api membesar. Ketika titik api ditemukan lebih awal, langkah sederhana berupa pemadaman dapat menjadi pembatas antara insiden kecil dan kebakaran yang sulit dikendalikan.
Kapolres menegaskan, peningkatan kehadiran personel akan terus dilakukan, terutama di lokasi-lokasi yang memiliki potensi kerawanan.
“Menjaga Kamtibmas bukan hanya tugas Polri. Dibutuhkan kepedulian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Kami akan terus meningkatkan kehadiran personel di lapangan, khususnya di lokasi yang memiliki potensi kerawanan,” tegas Adam.
Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai pihak yang menerima pengamanan, melainkan sebagai mitra kepolisian dalam menjaga lingkungan. Di kawasan perkebunan kopi Gunung Dempo, sinergi itu menjadi semakin penting. Sebab keamanan dan keselamatan lahan berjalan beriringan.
Ketika petani ikut mengawasi lingkungan, potensi pencurian dapat lebih cepat diketahui. Ketika warga peduli terhadap sumber api, ancaman Karhutla dapat ditekan sejak awal.
Patroli Satuan Samapta Polres Pagar Alam pun menjadi pengingat bahwa menjaga keamanan di wilayah perkebunan bukan hanya tentang menghadirkan polisi di tengah kebun. Lebih jauh, patroli adalah upaya membangun kewaspadaan bersama agar hasil pertanian masyarakat tetap terlindungi dan kawasan Gunung Dempo terhindar dari ancaman kebakaran yang dapat merugikan masyarakat dan lingkungan.
Kalau ingin, saya juga bisa membuat versi yang lebih tajam dan “berat” ala media online nasional, dengan pembuka yang lebih kuat dan human interest petani kopi. (**)











