Indralaya, Sumselupdate.com – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap sektor pertanian di Sumatera Selatan. Sejumlah lahan sawah di Desa Pematang Bangsal, Kecamatan Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, terlihat mengering akibat berkurangnya curah hujan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya ancaman kekeringan di wilayah Sumsel seiring memasuki puncak musim kemarau 2026.
Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, fenomena El Nino saat ini berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Meski demikian, BMKG menilai musim kemarau tahun ini diperkirakan tidak akan sekering saat terjadi El Nino ekstrem pada 1997 maupun 2015.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Sumatera Selatan akan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Pada periode tersebut, potensi kekeringan diprediksi semakin meluas, sehingga dapat memengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian, terutama lahan sawah yang mengandalkan curah hujan.
Selain berdampak pada sektor pertanian, kondisi cuaca kering juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah rawan di Sumatera Selatan.
Mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau.
Langkah antisipasi yang dilakukan meliputi penguatan patroli pencegahan karhutla, pemantauan titik panas (hotspot), serta penyiapan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan sumber daya pemadaman apabila kondisi darurat terjadi.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha di kawasan rawan, untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya air selama musim kemarau berlangsung.
Dengan prakiraan puncak kemarau yang masih akan berlangsung hingga September, masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak pada aktivitas pertanian, kesehatan, dan lingkungan di Sumatera Selatan.
(**)











