Jakarta, Sumselupdate.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada awal perdagangan, Jumat (24/7/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.974 per dolar AS, semakin mendekati angka psikologis Rp18.000.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 11 poin atau 0,06 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.963 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen domestik setelah Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengumumkan pengunduran dirinya.
“Pengunduran diri Gubernur BI juga bisa memberikan sentimen negatif pada rupiah. Rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS,” ujar Lukman kepada Suara.com, jaringan Sumselupdate.com.
Menurutnya, secara fundamental rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk menguat seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran menghentikan aksi saling serang.
Namun, potensi penguatan tersebut diperkirakan masih terbatas karena pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
“Penguatan mungkin akan terbatas, dengan investor cenderung wait and see terhadap serentetan rilis data ekonomi penting AS, di antaranya produk domestik bruto (PDB), inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), serta hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC),” jelasnya.
Sementara itu, pergerakan mata uang di kawasan Asia didominasi penguatan terhadap dolar AS. Baht Thailand mencatat kenaikan terbesar dengan menguat 0,5 persen.
Peso Filipina dan yen Jepang sama-sama naik 0,21 persen, disusul ringgit Malaysia yang menguat 0,18 persen. Dolar Singapura turut terapresiasi 0,15 persen, yuan China naik 0,09 persen, sedangkan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,5 persen. Dolar Taiwan juga terkoreksi tipis sebesar 0,04 persen terhadap dolar AS.
(**)











