Palembang, Sumselupdate.com – Antusiasme masyarakat terhadap investasi di pasar modal terus meningkat. Hal itu terlihat dari membludaknya peserta yang mengikuti Sekolah Pasar Modal (SPM) yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Sumatera Selatan bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan Provinsi Sumatera Selatan, Kamis (9/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas Perpustakaan Sumsel tersebut dibuka langsung oleh Kepala Dinas Perpustakaan Sumsel, Fitriana, dan diikuti ratusan peserta yang didominasi kalangan mahasiswa serta masyarakat umum.
Fitriana berharap program edukasi mengenai pasar modal dapat terus berlanjut karena dinilai mampu meningkatkan literasi keuangan sekaligus mendorong masyarakat mulai berinvestasi secara bijak.
“Meski waktu pembelajarannya singkat, kami berharap kegiatan coaching clinic ini dapat membuka minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Kegiatan seperti ini juga diharapkan memberikan kontribusi positif bagi peningkatan literasi keuangan di Sumatera Selatan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Selatan, Hari Mulyono, mengatakan Sekolah Pasar Modal merupakan program edukasi yang rutin digelar untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai investasi di pasar modal.
Menurutnya, kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi mengenai investasi saham, mekanisme menjadi investor, teori dasar memilih saham, hingga mengenalkan berbagai lembaga di pasar modal yang memberikan fasilitas serta perlindungan kepada investor.
“Kami ingin meningkatkan awareness masyarakat bahwa investasi saham itu mudah, legal, dan dapat dimulai dengan modal yang terjangkau,” katanya.
Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan BEI Sumsel, Sundari Ningsih, mengungkapkan saat ini terdapat 957 emiten atau perusahaan tercatat di pasar modal yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar membeli saham sesuai kemampuan finansial serta memperhatikan fundamental perusahaan sebelum berinvestasi.
“Calon investor harus membeli saham sesuai kemampuan dan memahami kondisi perusahaan yang dipilih,” ujarnya.
Sundari juga memberikan ilustrasi mengenai potensi keuntungan investasi jangka panjang. Ia mencontohkan saham Astra yang pada 1993 diperdagangkan sekitar Rp16.000 per lembar.
Jika saat itu seseorang membeli 500 lembar saham senilai sekitar Rp8 juta, maka pada 2024 nilainya telah meningkat menjadi sekitar Rp251 juta dengan harga saham sekitar Rp502.000 per lembar.
Dalam kesempatan yang sama, Equity Research Analyst KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, mengingatkan bahwa waktu terbaik untuk mulai berinvestasi adalah sekarang.
“Jangan menunda investasi jika ingin memperoleh manfaat dan keuntungan di masa depan,” katanya.
Salah seorang peserta, Aldi, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru setelah mengikuti Sekolah Pasar Modal.
“Saya ingin mengetahui lebih detail bagaimana meningkatkan nilai uang melalui investasi saham, sekaligus memahami cara memilih perusahaan yang sehat untuk dijadikan tempat berinvestasi,” ujarnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut para kepala dinas perpustakaan kabupaten dan kota se-Sumatera Selatan, Kepala Bidang Layanan, Otomasi dan Kerja Sama Dinas Perpustakaan Sumsel Khoiriyyah, Kepala Seksi Kerja Sama Hapriani, serta Kepala Seksi Layanan Otomasi Siti Amalia.
(**)











