Pengamat UMP: Rupiah Melemah ke Rp17.600 per Dolar AS Tetap Berdampak hingga ke Desa

Writer: - Senin, 18 Mei 2026
Nilai tukar Rupiah yang melemah dinilai dapat menekan keuntungan petani akibat meningkatnya biaya produksi pertanian. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh kisaran Rp17.600 per USD dinilai tetap akan berdampak terhadap masyarakat pedesaan, terutama pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya produksi pertanian.

Bahkan, kantor berita internasional Reuters melaporkan Rupiah sempat menyentuh rekor terendah di level Rp17.668 per dolar AS pada perdagangan pagi hari. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap dampaknya pada perekonomian nasional, termasuk di daerah pedesaan.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP, Sri Rahayu, mengatakan melemahnya Rupiah menyebabkan daya beli mata uang nasional menurun sehingga harga barang-barang cenderung mengalami kenaikan.

“Rupiah melemah artinya daya beli Rupiah turun. Akibatnya harga-harga sebenarnya naik. Ini akan berdampak juga ke masyarakat desa,” ujar Sri Rahayu kepada Sumselupdate.com, Senin (18/5/2026).

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyebut masyarakat pedesaan tidak akan terlalu terdampak langsung oleh pelemahan Rupiah karena aktivitas transaksi sehari-hari tetap menggunakan mata uang Rupiah, bukan dolar AS.

Namun menurut Sri Rahayu, dampak pelemahan Rupiah tetap akan terasa secara tidak langsung karena banyak kebutuhan produksi dan distribusi di Indonesia masih bergantung pada impor dan harga global.

Ia menjelaskan sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak. Sebab, kebutuhan produksi seperti pupuk dan pestisida sebagian besar masih menggunakan bahan baku impor.

“Kondisi ini membuat modal tanam petani meningkat karena harga pupuk dan pestisida ikut naik. Otomatis pengeluaran petani juga bertambah,” katanya.

Selain itu, tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah juga dinilai menjadi faktor lain yang memperbesar dampak pelemahan Rupiah.

Kenaikan kurs dolar AS diperkirakan dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk bensin eceran dan solar di wilayah pedesaan.

Akibatnya, biaya operasional alat pertanian seperti traktor dan pompa air ikut meningkat. Ongkos distribusi hasil panen juga berpotensi mengalami kenaikan sehingga menekan keuntungan petani.

“Kalau harga BBM naik, ongkos angkut hasil panen juga naik. Itu pasti berpengaruh sampai ke desa,” ungkapnya.

Sri Rahayu juga menyoroti kemungkinan naiknya harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan telur akibat meningkatnya biaya produksi serta distribusi barang.

Bahkan, ia mengaku telah menerima informasi dari sejumlah peternak ayam di Palembang terkait menurunnya permintaan pasar luar daerah karena ongkos pengiriman yang semakin mahal.

“Sekarang saja beberapa peternak ayam di Palembang sudah menyampaikan bahwa permintaan dari luar menurun karena ongkos angkut naik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa meskipun masyarakat melakukan transaksi sehari-hari menggunakan Rupiah, dampak pelemahan kurs dolar tetap memiliki efek berantai terhadap perekonomian nasional hingga ke tingkat desa.

“Jadi kesimpulannya, meskipun 100 persen transaksi kita menggunakan Rupiah, dampaknya tetap terasa karena banyak kebutuhan produksi dan distribusi masih berkaitan dengan impor dan harga global,” tandasnya.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts