Perajin kain jumputan menggantungkan hidup dari melestarikan khas budaya Palembang. Di tengah lesunya penjualan, Bank BRI hadir menawarkan solusi untuk kembali bangkit.
SINAR matahari tertutup mendung. Hari itu, Sabtu, 8 November 2025, jarum jam menunjukkan pukul 08.50 WIB, namun hawa masih terasa dingin menyusul rintik hujan.
Namun suasana itu tak menyurutkan semangat Zainal Abidin (32) melakukan aktivitas mengaduk kain putih di air panas yang mendidih dalam wajan berukuran besar.
Dengan tongkat kayu panjang, Zainal Abidin terus membolak-balikan puluhan kain putih yang telah diikat kecil-kecil mengunakan tali rapiah.
Aktivitas itu sudah dilakoni Zainal Abidin hampir setiap hari. Ayah satu anak itu, merupakan satu dari puluhan perajin kain jumputan yang secara turun temurun melestarikan warisan budaya khas Palembang.
Di rumah sederhana yang terletak di Jalan Aiptu A Wahab, Lr. Kebon Pisang, Kelurahan Tuan Kentang Kecamatan Jakabaring Palembang, Zainal Abidin merajut harapan dan menyandarkan hidupnya dari membuat kain jumputan.
“Dasar kain sengaja diikat kecil-kecil dengan tali rapiah. Tujuannya untuk membentuk motif dan pola warna tertentu,” kata suami Badri Miyanti (29) mengawali pembicaraan dengan Sumselupdate.com.
Menurutnya, aktivitas merendam dan mengaduk kain putih dengan air panas di atas 150 derajat itu, tujuannya untuk membersihkan kain dari kotoran seperti noda tepung.
Setelah beberapa jam direndam dan diaduk di air panas, puluhan kain itu, selanjutnya direndam dengan air yang telah diisi cairan anti luntur sekitar 15 menit.
Kemudian, puluhan kain tersebut dilakukan pemrosesan pewarnaan menggunakan getah gambir. Selanjutnya kain yang sudah diberi warna, dilakukan penjemuran yang waktu keringnya tergantung kondisi cuaca.
Zainal Abidin menuturkan kain jumputan dijual dengan cara dititipkan ke pedagang yang ada di Pasar Suroo yang terletak di Jalan Ki Gede Ing Suro, 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang maupun Pasar Kito di Jalan Radial, Kompleks Ilir Barat Permai yang merupakan pusat perdagangan kain tradisional dan oleh-oleh di Palembang
Zainal menceritakan usaha kerajinan kain jumputan ini digelutinya sejak tahun 2019. Keahliannya dalam membuat kain jumputan didapatnya secara turun temurun.
Orangtuanya yang asli Serang, Provinsi Banten, dahulunya merantau ke Sumsel dan ikut bekerja dari orang asli Palembang.
Setelah dianggap cukup pandai, orangtuanya kemudian memberanikan diri membuka usaha sendiri dan kini diteruskannya untuk melestarikan warisan budaya khas Palembang.
“Kain dasar untuk pembuatan kain jumputan khas Palembang ini saya beli dalam bentuk roll. Kemudian dipotong-potong per 3 meter. Kemudian dibuat pola atau mal. Cara buat pola yakni kita meminta bantuan warga untuk melakukan proses ikat rajut menggunakan tali rapiah dan selanjutnya dilakukan pemodaran atau direndam dengan air panas untuk menghilangkan kotoran kain seperti tepung, yang tujuannya saat diberi warna bisa merata,” tuturnya panjang lebar.
Usaha kain jumputan menurut ayah Shanum Nazwa Azhara (3) ini, mengalami pasang surut. Saat ini, tingkat penjualan merosot tajam.
Jika lima tahun sebelum pandemi Covid-19 melanda, dalam satu bulan bisa terjual 500 potong kain jumputan.
Namun sejak pandemi virus Corona tahun 2020 dan ditambah lagi, membanjirnya produk batik printing yang menawarkan harga lebih murah, jumlah penjualan menurun menjadi 100 potong per bulan.
Beruntungnya, di tengah ‘badai’ tersebut, Zainal Abidin merasakan manfaat hadirnya program pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan UMi (Ultra Mikro) yang digalakkan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Selain dipermudah untuk mendapatkan bantuan pinjaman modal, usaha kain jumputannya, juga dibantu Bank BRI dengan pelatihan penjualan secara online dan bantuan peralatan yang diberikan secara cuma-cuma.
Pentingnya bantuan modal dari pihak perbankan juga dirasakan Baharuddin (52). Perajin kain jumputan yang mulai melakoni profesi ini sejak tahun 1993, merasakan manfaat setelah menjadi mitra Bank BRI.
Usahanya perlahan mulai bangkit, meski masih terkendala dengan ketersediaan bahan kain dan sulitnya mendapatkan pekerja lepas bagian mengikat kecil-kecil kain dasar jumputan untuk dibuat pola.
Ketua Forum Jumputan Muda (Forjuma) Tuan Kentang, Muhammad Siddik (42) mengapreasi langkah perbankan, salah satunya Bank BRI yang membantu UMKM untuk bangkit di tengah moderanisasi produk kain.
Pria yang memulai usaha kain jumputan tahun 2018 berharap pihak perbankan merambah membantu komunitas Forjuma yang baru terbentuk satu tahun ini, dalam melestarikan kain jumputan.
“Selama ini bantuan perbankan, salah satunya Bank BRI menyasar usaha kain jumputan secara personal. Nah, melalui Forjuma ini, kita berharap perbankan menyalurkan bantuan untuk menggerakan program kerja komunitas ini. Sebab anggota dari Forjuma terdiri dari berbagai wirausaha lokal di Palembang, mulai dari perajin tradisional, desainer, hingga pelaku usaha muda yang memiliki visi untuk mengembangkan kain jumputan sebagai produk lokal unggulan,” harapnya.
BRI Mesti Tingkatkan Pendampingan
Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Dr Emi Yulia Siska, SE, MSi mengapresiasi program pemberdayaan UMKM dan UMi yang telah dijalankan Bank BRI.
Namun Emi Yulia Siska menyarankan agar Bank BRI meningkatkan program pendampingan terhadap UMKM dengan menggalakkan pelatihan penjualan, peningkatan kemampuan produksi, kualitas dan inovasi produk, literasi keuangan, serta membantu akses pasar.
Tujuan dari peningkatan program pendampingan secara kontinyu ini, agar UMKM bisa naik kelas dan muaranya, yakni kemampuan untuk membayar pinjaman dapat meningkat.
“Tidak dapat dipungkiri, UMi tetap merupakan program paling strategis dalam menghubungkan kelompok subsisten ke sistem keuangan formal. Namun agar tidak berubah menjadi generator utang massal, kebijakan harus bergeser dari credit-led growth menuju capability-led growth. Caranya, dengan menguatkan pelatihan usaha, konsolidasi pasar, digitalisasi produksi, dan perlindungan konsumen mikro akan membuat kredit UMi benar-benar menjadi pendorong, bukan penumpuk utang,” jelasnya.
Akademisi dari Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri), Dr Hadi Jauhari, SE, MSi menilai UMKM memiliki kontribusi vital terhadap penguatan ekonomi lokal hingga nasional.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika perekonomian nasional, UMKM tetap menjadi tulang punggung yang menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
Peran perbankan khususnya Bank BRI, Hadi melihat bukan hanya menyediakan akses pembiayaan, akan tetapi juga menjaga keberlanjutan usaha melalui skema kredit yang adaptif.
Dari literatur-nya, peran Bank BRI dalam mengangkat UMKM terlihat dari kapasitasnya sebagai penyalur pembiayaan terbesar di segmen mikro hingga ultra mikro.
Melalui holding UMi, Bank BRI berhasil melayani lebih dari 34,7 juta debitur aktif dengan total penyaluran kredit mencapai Rp 631,9 triliun pada kuartal II/2025. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan sejak 2024.
Dr Hadi menilai pendampingan yang dilakukan Bank BRI sangat relevan, terutama bagi UMKM di Sumatera Selatan.
“Banyak pelaku usaha di daerah masih bertumpu pada pengetahuan turun-temurun. Pendampingan menjadi jembatan menuju modernisasi usaha,” jelas dosen jurusan Administrasi Bisnis Polsri ini.
Junior Manager Ultra Micro Departemen Bank BRI RO Palembang, Hendra Yahya mengatakan, Bank BRI di Kota Palembang saat ini sudah memberdayakan 19.172 UMKM.
Pemberdayaan ini, UMKM tidak hanya diberikan pinjaman lunak melalui program UMi dengan bunga rendah, namun juga dilakukan pendampingan dan bantuan peralatan.
“Kredit UMi Bank BRI tidak hanya menyasar UMKM, namun juga pedagangan dan pertanian,” kata Hendra Yahya yang didampingi rekannya Indra Saputra, Junior Manager Ultra Micro Departemen Bank BRI RO Palembang.
Khusus UMKM kain jumputan di Jalan Aiptu A Wahab, Lr. Kebon Pisang, Kelurahan Tuan Kentang Kecamatan Jakabaring Palembang, Bank BRI memberikan label sebagai klaster usaha.
“Kenapa kita bagi sebagai klaster, karena di kawasan Tuan Kentang itu UMKM-nya lebih dari 50-an dengan jenis bisnis yang sama. Dengan klaster ini, tentu lebih memudahkan Bank BRI menyalurkan bantuan permodalan, pendampingan, dan bantuan peralatan bagi perajin kain jumputan,” jelasnya.
(**)











