Jakarta, Sumselupdate.com – Skandal asmara bercampur korupsi kembali mengguncang panggung politik.
Anggota DPRD Gorontalo dari Fraksi PDIP, Wahyudin Moridu, yang videonya viral mengajak ‘merampok uang negara’, kini terseret drama cinta penuh pengkhianatan.
Tak disangka, dalang di balik tersebarnya video memalukan itu adalah kekasih gelapnya sendiri. Intrik ini pun menjadi tontonan nasional yang sarat drama dan ironi.
Berikut lima fakta terbaru dari kasus Wahyudin Moridu:
1. Blunder Fatal: Ajakan ‘Rampok Uang Negara’
Skandal bermula dari video di mana Wahyudin, saat perjalanan ke Makassar bersama kekasih gelap, dengan pongah menyebut menggunakan uang negara.
Kalimatnya yang arogan kini jadi kutipan viral: “Kita rampok saja uang negara ini, kita habiskan saja biar negara ini semakin miskin.”
2. Dalang Terbongkar: Kekasih Gelap ‘D’
Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Gorontalo, Fikram Salilama, mengungkap bahwa wanita berinisial ‘D’, yang tampak duduk di samping Wahyudin dalam video, adalah sosok yang menyebarkannya ke publik.
Video itu direkam sejak Juli 2025 dan sengaja disimpan sebagai ‘senjata rahasia’.
3. Motif Balas Dendam: Ditolak Dinikahi
Motif di balik penyebaran video ini sungguh dramatis. Wanita ‘D’ kecewa lantaran permintaannya untuk dinikahi ditolak Wahyudin dengan alasan sudah beristri.
Merasa cintanya dikhianati, ia pun melampiaskan sakit hatinya dengan menghancurkan karier sang politisi.
4. Bukti Baru: Video di Kabin Pesawat
Kasus makin panas setelah beredar video lain di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan Wahyudin duduk santai di kabin pesawat bersama wanita ‘D’.
Bukti tambahan ini semakin menguatkan dugaan perjalanan terlarang yang dibiayai dari uang rakyat.
5. Klimaks Ironis: Minta Maaf di Samping Istri Sah
Karier dan citra politiknya hancur lebur. Wahyudin akhirnya muncul dalam video permintaan maaf. Ironisnya, ia tidak sendirian, melainkan ditemani oleh istri sahnya.
Dalam pernyataannya, ia mengakui kesalahan dan menyatakan siap menanggung segala konsekuensi—akhir yang tragis sekaligus memalukan dari perselingkuhan berbalut uang rakyat.
(**)











