Chengdu, Sumselupdate.com – Atlet panjat tebing nomor speed empat lintasan (four lanes) putra dari China, Long Jianguo, mencetak rekor nasional baru dengan catatan waktu 4,74 detik untuk memenangi gelar juara nomor speed empat lintasan putra di Chengdu World Games 2025 pada Jumat (15/8/2025), sementara Desak Made Rita Kusuma Dewi dari Indonesia meraih gelar juara putri dengan catatan waktu 6,35 detik.
Ini merupakan kali pertama format empat lintasan digunakan dalam panjat tebing di ajang multicabang.
Berbeda dengan standar dua lintasan di ajang Olimpiade, World Games kali ini menampilkan empat lintasan paralel dengan empat pemanjat yang berlomba secara bersamaan. Babak perebutan medali emas diikuti oleh keempat finalis sekaligus, alih-alih laga head-to-head.
“Saya merasa format ini sangat menyenangkan setelah putaran pertama,” kata Long yang meraih medali emas.
“Ada banyak ketidakpastian dalam format baru ini. Dalam satu putaran hari ini, saya dan rekan setim sama-sama membuat kesalahan. Semua orang merasakan tekanannya, tetapi ini tentang siapa yang bisa bertahan.”
Long, yang pernah memboyong Piala Dunia panjat tebing, memuncaki babak kualifikasi sebelum melaju ke babak gugur yang diikuti 16 peserta.
Dia nyaris tereliminasi di perempat final, tetapi kemudian menjadi satu-satunya pemanjat China dalam babak perebutan medali emas yang diikuti empat orang tersebut.
“Saat pertandingan diikuti oleh empat orang, Anda tidak akan merasakan banyak hal. Anda fokus, dan Anda tidak tahu posisi Anda sampai menyentuh pad di puncak,” kata Long.
Mengucapkan terima kasih kepada timnya atas bantuan mereka dalam persiapan, Long berkata, “Kemarin saya tidak mendapatkan medali emas untuk pertandingan standar dua lintasan yang saya inginkan. Hari ini, tim saya membantu dalam banyak hal di luar laga sehingga saya bisa fokus sepenuhnya pada pertandingan.”
Mantan pemegang rekor dunia asal Indonesia, Kiromal Katibin, meraih perak dengan raihan waktu 4,81 detik, disusul oleh Rishat Khaibullin asal Kazakhstan yang berada di posisi ketiga dengan selisih waktu 0,02 detik.
Di final putri, keempat pemanjat tebing mencatatkan waktu bersih. Desak menjadi yang tercepat, diikuti oleh pendatang baru China, Qin Yumei, dengan catatan waktu 6,42 detik.
Pemanjat tebing Indonesia lainnya, Rajiah Sallsabillah, mencatat waktu 6,951 detik sehingga merebut medali perunggu dengan selisih hanya 0,005 detik dari pemanjat tebing Polandia, Natalia Kalucka.
Banyak atlet menyambut baik diperkenalkannya format baru ini.
“Format empat lintasan ini sangat menyenangkan. Olahraganya sama saja, tetapi menambahkan sentuhan baru,” kata Logan Schlecht dari Amerika Serikat. Dia menambahkan bahwa masing-masing pemanjat berlaga empat kali, yang memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di babak kualifikasi berformat empat lintasan.
Toru Kobinata, wakil presiden Federasi Panjat Tebing Internasional (International Federation of Sport Climbing/IFSC), mengatakan bahwa sebagai olahraga yang terbilang masih muda, panjat tebing.
“Selalu menjajaki berbagai kemungkinan untuk naik ke level berikutnya.” Dia menggambarkan World Games sebagai platform utama untuk menguji format baru dan berinteraksi dengan olahraga lain. Format empat lintasan ini menjadi salah satu uji cobanya.
“Bagi penonton, melihat empat pemanjat berlomba sekaligus jelas lebih seru,” ujar Kobinata.
Dia menyebut bahwa format ini menambahkan faktor ketidakpastian pada panjat tebing nomor speed, “tidak ada yang pasti sampai momen terakhir.” Kobinata juga mengatakan bahwa babak kualifikasi yang dilakukan dalam beberapa kali laga memberi para atlet kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya.
Namun, dia mengakui adanya peningkatan tuntutan fisik dan mengatakan IFSC akan terus mempelajari cara terbaik untuk menyajikan format-format baru, seperti format empat lintasan dan estafet speed.
(**)











