Bangka Selatan, Sumselupdate.com – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan (Basel) telah mencatat adanya peningkatan kasus infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), selama enam bulan pertama terhitung sejak bulan Januari sampai Juni 2025.
Kepala DKPPKB Basel, dr Agus Pranawa, menyebutkan, ada enam kasus baru yang ditemukan hingga Juni 2025.
Kasus baru ini mencuat akibat praktik seks bebas, terutama yang melibatkan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), dengan laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) menjadi kategori dominan.
“Dari enam kasus tersebut, mayoritas adalah laki-laki, sedangkan sisanya adalah kaum perempuan yang di antaranya dua dari enam kasus baru ini berasal dari populasi LSL, dan empat lainnya dari populasi umum, termasuk wanita pekerja seks (WPS),” sebut dr Agus saat ditemui di kantornya, Jumat (18/7/2025).
dr Agus mengatakan mayoritas penderita berada dalam rentang usia produktif, yakni 20 hingga 40 tahun ke atas.
Baca Juga: Terungkap, Pelaku Pemukulan Anak Panti Asuhan Fisabilillah Al Amin Palembang Terjangkit HIV
DKPPKB Basel memprediksi jumlah kasus HIV akan terus bertambah seiring intensitas skrining HIV yang tengah dilakukan.
Pemerintah daerah mengkhawatirkan potensi penyebaran yang lebih luas jika tidak segera diantisipasi secara masif.
“Perlu diketahui bahwa HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, dan jika tidak ditangani, bisa berkembang menjadi AIDS, yang merupakan stadium akhir infeksi HIV. Pada tahap ini, tubuh sangat rentan terhadap infeksi dan penyakit lainnya,” katanya.
Ia menjelaskan hingga Juli 2025 terdapat total 52 orang yang menjalani pengobatan HIV secara rutin melalui fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah. Akan tetapi ada kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri masih rendah.
Baca Juga: Duh, Belasan Siswa SD di Cianjur Positif HIV/AIDS, Diduga Tertular dari Orangtuanya
“Padahal pemeriksaan HIV, dapat dilakukan secara gratis di puskesmas maupun rumah sakit dengan jaminan kerahasiaan. Namun, stigma sosial dan ketakutan masih menjadi penghalang utama masyarakat melakukan deteksi dini. Kami akan terus mendorong masyarakat, khususnya yang berisiko tinggi, untuk mengikuti sebuah program Voluntary Counseling and Testing (VCT),” jelas dr Agus.
“Program ini adalah langkah awal untuk mengetahui status kesehatan dan mencegah penyebaran HIV lebih luas. VCT disediakan secara gratis di sepuluh Puskesmas dan dua rumah sakit di Basel. Pemerintah berharap masyarakat dapat memanfaatkan layanan ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar,” lanjutnya.
Menurutnya, angka resmi kasus HIV yang tercatat saat ini ibarat fenomena gunung es, yang artinya, jumlah yang terdata hanya mencerminkan sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya terjadi di lingkup masyarakat saat ini.
“Maka dari itu, kami secara rutin melakukan skrining terhadap kelompok berisiko tinggi seperti ibu hamil, wanita pekerja seks, dan pengguna narkoba suntik. Namun sampai saat ini pengawasan terhadap komunitas LGBT masih sulit dilakukan karena sifatnya yang tertutup. Komunitas LGBT ini sulit dijangkau karena tidak terorganisir secara terbuka, inilah yang menjadi kendala dalam pengawasan dan skrining di lapangan,” tutur dr Agus.
Diungkapkan dr Agus,padahal, kelompok ini termasuk kategori dengan risiko tinggi penularan HIV. Sebenarnya sangat penting edukasi untuk mengurangi stigma terhadap tes HIV. Informasi yang jelas dan mudah dipahami diperlukan agar masyarakat tidak lagi takut untuk memeriksakan diri.
“Sebab, HIV bisa menular dari ibu ke anak, baik saat kehamilan, persalinan, maupun menyusui. Namun, dengan pengobatan tepat, risiko ini dapat ditekan secara signifikan kedepannya. Pelaksanaan VCT juga harus dilakukan dengan menjunjung tinggi kerahasiaan dan privasi individu. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih percaya dan berani memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” ungkap dia.
Ia berharap, program VCT dan layanan gratis pemeriksaan HIV bisa menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan peningkatan kesadaran dan partisipasi aktif.
“Pada intinya saya sangat optimis penyebaran HIV dapat ditekan dan tidak terus meningkat setiap tahun,” tutup dr Agus.
(**)











