Mamuju, Sumselupdate. com- Kedepankan eksistensi perempuan dan pelestarian kearifan lokal dalam proses pembangunan nasional. Peran pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk mewujudkan itu.
“Jika kita melupakan eksistensi kearifan lokal, maka ada proses peradaban yang terputus. Sehingga generasi penerus akan terputus secara historis dengan generasi sebelumnya,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat berkunjung ke Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Selasa (31/10).
Pada kesempatan itu, Lestari bertatap muka dengan para pemerhati budaya dan komunitas masyarakat dalam rangka menyerap aspirasi yang berkembang di Sulawesi Barat.
Hadir pula pada pertemuan itu, Safaruddin Sanusi (Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Barat), Hj. Sitti Suraidah Suhardi (Ketua DPRD Sulawesi Barat), dan Hj. Sitti Sutinah Suhardi (Bupati Mamuju).
Menurut Lestari, yang tidak bisa dilepaskan bagaimana perempuan berperan penting mempertahankan sebuah tatanan kebudayaan.
Meski perempuan dianggap konco wingking, tegas Rerie, sapaan akrab Lestari, sejatinya memiliki peran sebagai tiang utama dalam keluarga. Jika tiang utama goyah, maka goyah juga keluarga itu.
Sebaliknya, jika tiang utama kuat, keluarga kuat, komunitas di lingkungan keluarga menjadi kuat hingga di wilayah lebih luas lagi negara dan bangsa menjadi kuat.
Dikatakan, mengedepankan eksistensi perempuan dan melestarikan kearifan lokal merupakan langkah penting dalam proses pembangunan.
Salah satu contoh peran kearifan lokal ketika terjadi bencana tsunami di Aceh, di mana ada satu pulau kecil bernama Simeleu yang dikhawatirkan populasinya akan musnah karena tsunami, ternyata tidak terjadi.
Kondisi korban tsunami di Pulau Simeleu tidak separah yang diperkirakan, karena masyarakat Simeleu masih menjalankan pepatah kuno ‘Jika kamu melihat air laut tiba-tiba surut, maka segeralah lari ke atas bukit.’
Dia juga mendengar keluhan masyarakat adat Desa Kalumpang yang terancam akibat rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di kawasan mereka.
Padahal di kawasan Desa Kalumpang dan sekitarnya banyak terdapat situs bersejarah, peninggalan arkeologi yang harus dilestarikan dan menjadi warisan bagi generasi penerus bangsa.
Belum lagi, potensi budaya dan tradisi yang khas di kawasan itu, seperti Tenun Sekomandi yang merupakan tenun ikat khas Kalumpang.
Bahkan, di kawasan tersebut juga bermukim suku Bunggu yang masih menjalankan tradisi dan kepercayaan animisme, sebagai salah satu kekayaan budaya yang kita miliki.
Di sektor ekonomi, Rerie juga menerima masukan agar Ikan Penja, ikan endemik di Desa Kalumpang, untuk dikemas di dalam kaleng. Ikan Penja di Desa Kalumpang biasanya dipanen setiap terang bulan, yang selama ini dibeli oleh pengusaha Gorontalo untuk diekspor ke Tiongkok.
Pada kesempatan itu Rerie juga berpesan agar generasi muda menjadi generasi pembelajar agar mampu membangun jejaring, terhubung dengan dunia dan meningkatkan keterampilan dalam menghadapi sejumlah tantangan di masa depan.
Rerie sangat berharap, para pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah mengedepankan pertimbangan pelestarian budaya, eksistensi perempuan dan kearifan lokal dalam setiap proses pembangunan.(duk)











