Arab Saudi Merapat ke Blok Cina-Rusia, Mulai Berani Tinggalkan AS?

Jumat, 31 Maret 2023
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman.

Riyadh, Sumselupdate.com – Arab Saudi, negeri Raja Salman, kini mulai terang-terangan menunjukan kedekatan ke China dan Rusia. Awal pekan ini, Kabinet Arab Saudi menyetujui keputusan untuk bergabung dengan blok keamanan yang dipimpin China, Organisasi Kerjasama Shanghai (SOC).

SOC sendiri merupakan aliansi politik, keamanan dan perdagangan. Bukan hanya China, lawan Washington lain yakni Rusia juga menjadi anggota penuh, selain sejumlah negara seperti India, Pakistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, dan Tajikistan.

Melansir CNBC International yang mengutip badan pers kerajaan melaporkan bahwa dalam rapat kabinet yang dipimpin Raja, pemerintah menyetujui sebuah memorandum khusus, memberi Riyadh status “mitra” di SOC. Kedudukan ini sama seperti Turki, Qatar, Mesir dan Iran di aliansi itu.

Langkah ini menjadi tamparan untuk Amerika Serikat (AS). Perlu diketahui, Arab Saudi secara tradisional adalah sekutu dekat AS di jazirah Arab.

China dan Rusia saat ini dipandang sebagai rival Paman Sam. AS bermasalah dengan China dari banyak sisi mulai dari hak asasi manusia (HAM), perdagangan, teknologi, Covid-19 dan Taiwan sementara Rusia terkait NATO, hingga perang di Ukraina.

AS sendiri tak banyak bicara soal ini. Namun melalui juru bicara Departemen Luar Negeri Vedant Patel mengecilkan dampak SOC.

“Setiap negara memiliki hubungan sendiri-sendiri,” kata Patel.

Hubungan yang Memburuk

Sebenarnya, hubungan antara Arab Saudi dan AS mulai memburuk pada era administrasi Presiden Joe Biden. Selama masa kampanyenya pada 2020 lalu, Biden telah menyudutkan kerajaan dengan menyebutnya negara ‘pariah’ karena isu HAM.

Tak hanya itu, Gedung Putih juga terus mengalamatkan tuduhan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi kepada Putra Mahkota Saudi, Mohammed Bin Salman (MBS). MBS adalah pemimpin de facto Arab Saudi.

Torbjorn Soltvedt, analis utama MENA di Verisk Maplecroft, dalam sebuah catatan email tahun 2021 lalu mengatakan bahwa ini merupakan penghinaan. Tidak selesai sampai di situ, Biden juga sempat menilai bahwa dukungan AS kepada Arab Saudi sehubungan dengan perang di Yaman harus dihentikan.

Langkah ini pun mulai mengundang reaksi dari Riyadh. Saudi pun mulai mengambil jalan yang berbeda dengan apa yang dipikirkan Washington. (adm3/cnbci)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts