Perang
Bumi bergetar riak gemeretak
Kulitnya mengelupas berbercak darah
Penuh lobang terhantam meteor besi dan api
Meluncur ria membabi buta
Yang dibuat dalam genggaman dalih kedamaian
Tanpa mata…
Tanpa nurani…
Menyiksa nyawa terburai lepas
Peneguhan hegemoni
Menghancurkan peradaban
Jangan peduli siapa pemicu dan siapa terpicu
Saat manusia makin elusif
Makin menjauh dari kata prasaja
Menunggu musnah sebelum waktunya
Bandung, 10 Maret 2022
Bermain Minyak Nan Lebay
Carut marut membaca bahasa
Terbaca namun tidak kumengerti
Bukan langka jika tidak ada
Sekilas nampak sekilas sembunyi
Licin tak tersentuh jemari jelata
Cukup terlihat pada pandangan pertama
Di langit mendung memetik hujan
Dingin menyergap udara basah
Aku tak pernah peduli menikmati gorengan jadi
Dari basuhan wajan minyak jelantah
Berkipas-kipas di gerobak buruk kayu tua
Menanti berita esok pagi
Mungkin ada yang lebih menggelikan lagi
Bandung, 11 Maret 2022
Crazy Nan Lebay
Saat hedonisme mekar harum semerbak di seputar jiwa
Kesombongan tiba mengambil tuahnya
Keglamoran meledak membutakan mata
Menafikan semua bibit bobot dan bebet
Lenyap sekejab
Gelap…
Secepat dia datang
Begitu pun ketika menghilang
Bandung, 11 Maret 2022
Pengirim:
Heddy Wsalam
Lahir di Palembang berdomisili di Kota Cimahi, Jawa Barat.
Penulis Buku Antology Puisi ‘Wajah Angan-Angan’ dan Antologi Cerpen ‘Panorama Hati’











