Cerpen: Karma

Minggu, 5 Desember 2021
Ilustrasi

Wanita setengah baya itu berjalan menembus malam yang pekat. Cahaya buram rembulan iringi gaya berjalannya bak peragawati di panggung catwalk. Setiap lelaki yang melihatnya, pasti akan bersiul usil. Maklum wanita setengah baya itu masih terlihat cantik diusianya yang mulai menua. Sisa-sisa kecantikan masa lalu masih terpatri dalam guratan wajahnya yang mirip artis sinetron terkenal.

Mbak Lola adalah panggilan akrab warga kampung untuk wanita yang tinggal diujung Kampung. Semua warga Kampung sangat mengenal Mbak Lola. Bukan hanya soal kecantikan dan keyahudan bodinya yang sering digambarkan bak bodinya gitar Spanyol, tapi perilaku wanita itu mengurus suaminya yang mengidap sakit bertahun-tahun, yang membuat semua warga berdecap kagum akan kesetiaan seorang istri.

Read More

“Ketabahan Mbak Lola sebagai istri patut diteladani para istri kita,” kata seorang warga yang mendengar kabar tentang Mbak Lola yang mengurus sakit suaminya yang sudah menahun.

“Semoga beliau tabah dan sabar menghadapi semua cobaan ini,” sela warga yang lainnya dengan penuh rasa simpati yang tinggi.

Setidaknya sudah hampir tiga tahun, semenjak berdiam di Kampung, suami Mbak Lola sudah sakit. Tak heran bila suami Mbak Lola jarang bersosialisasi dengan warga. Termasuk jarang datang ke acara hajatan warga. Apalagi ke masjid. Sangat jarang terlihat.

Hanya Mbak Lola yang aktif bersosialisasi dengan warga Kampung. Warga pun jarang datang ke rumah Mbak Lola. Maklum Mbak Lola hanya tinggal bersama suaminya.

Kalaupun ada yang datang berkunjung ke rumah itu, kebanyakan para lelaki dari luar Kota yang konon kabarnya sahabat dari suami Mbak Lola saat mereka masih tinggal di Kota. Para tamu suami Mbak Lola, biasanya menginap hingga tiga malam. Mereka datang ke rumah Mbak Lola dengan menggunakan mobil mewah merek terkini.

Dan kalau ada tamu dari luar Kota, biasanya Mbak Lola sangat sibuk berbelanja ke Pasar Kampung. Banyak sekali bahan keperluan rumah tangga yang dibelinya. Mulai dari sembako hingga minuman kaleng. Sementara di dompetnya tergumpal uang pecahan seratusan ribu yang menggunung. Penuhi dompetnya yang berharga sangat mahal.

Cahaya mentari mulai meredup menahan rasa lelah yang tak terperikan. Sejuta pelangi yang mengibar di ujung langit seolah tak mampu diredamnya dengan sinarnya yang makin menua itu. Sebuah pertanda senja telah tiba. Sebuah mobil merek terkenal melintasi jalanan Kampung yang mulai berwarna hitam. Arahnya jelas. Ya, mobil mewah itu menuju rumah Mbak Lola. Kesumringahan membalut wajah cantik Mbak Lola saat menyambut kehadiran tamunya. Sebuah ciuman mendarat di pipi kanan dan kiri lelaki setengah baya itu dari Mbak Lola. Keduanya pun langsung masuk ke dalam rumah dengan saling berpelukan.

Sementara, suami Mbak Lola tampak gusar dengan kehadiran tamu itu. Wajahnya tak bersahabat. Ada kesan perlawanan. Tapi apa daya. Tak mungkin di atas kursi roda itu dirinya mampu melawan lelaki setengah baya yang masih tampak gagah itu masuk ke dalam kamar istrinya.

“Dasar wanita terkutuk,” teriak suami Mbak Lola

Teriakan suaminya tak menyurutkan langkah Mbak Lola masuk ke dalam kamarnya bersama sang tamu. Sang suami hanya bengong menyaksikan adegan itu. Dari dalam kamar terdengar suara derit guncangan ranjang dan suara desahan istrinya. Lelaki tua itu hanya terpejam mendengar suara lenguhan istrinya yang menyapa kuping tuanya. Air matanya menetes membasahi ubin rumah mereka.

Di dalam kamar Mbak Lola asyik memacu syahwatnya bersama lelaki yang sering dikatakannya sebagai tamu suaminya. Tamu suaminya tampaknya mampu menebarkan air kebahagiaan di jiwanya yang kering kerontang. Air kebahagiaan yang mampu memuaskan jiwa dan rohaninya sebagai wanita dewasa. Ada rasa bahagia yang muncrat dari wajah cantik Mbak Lola.

Sementara sang tamunya tampak sumringah atas pelayanan Mbak Lola di peraduan. Ada rasa kenikmatan yang belum pernah dirasakannya selama ini.

“Terima kasih, Jeng. Aksimu malam ini sangat hebat dan memuaskan aku. Dan aku akan kembali lagi minggu depan,” ujar sang tamu dengan nada gembira.

Mbak Lola tersipu dengan pujian dari lelaki itu. Sebuah ciuman didaratkannya di kening lelaki itu. Segepok uang lembaran seratus ribu dititipkan lelaki itu di atas ranjang yang masih kusut sepreinya. Tepat di atas noda yang masih basah.

Sudah hampir tiga minggu tak ada kunjungan tamu ke rumah Mbak Lola. Ada rasa kegelisahan di nurani wanita itu. Seribu tanya menggelayut dalam jiwanya yang kering kerontang dimakan usia. Sementara uang dalam dompetnya mulai menipis. Tadi siang saja, untuk membeli beras, dirinya harus mengutang dulu kepada Wak Jon, pemilik warung langganannya.

Wanita setengah tua itu terus melangkah dengan langkah kaki bergegas menembus malam yang makin pekat. Jalannya tergesa-gesa. Bak koruptor yang ingin menghindari dari jepretan para fotografer. Langkah Mbak Lola terhenti seketika, saat terdengar klakson mobil berbunyi diujung jalanan Kampung yang mulai mulus.
Dari dalam mobil tampak seorang lelaki yang dikenalnya tersenyum seolah memberikan kode tertentu. Mbak Lola pun tersenyum. Ada rasa bahagia yang mengalir dalam sekujur tubuhnya yang mulai menua. Keduanya pun menembus malam yang pekat dengan kepekatan jiwa yang berselimutkan syahwati.

Wajah Mbak Lola tampak lusuh. Tak ada lagi guratan kebahagiaan yang selama ini menjadi ciri khasnya sebagai seorang wanita. Tak ada lagi. hanya sebuah penyesalan yang kini muncrat dalam aliran nuraninya yang kelam. Setidaknya, usai pulang dari Puskesmas tadi pagi, wanita setengah tua itu dilanda perang batin yang amat menggurita dalam jiwanya. Bagaimana tidak. Vonis dirinya mengidap penyakit HIV membuatnya terkulai.

“Berdasarkan pengecekan sampel darah dari laboratorium kami, Ibu mengidap penyakit HIV,” terang Dokter Puskesmas.

Mbak Lola pun terkaget-kaget mendengar penjelasan dokter. Jantungnya hampir copot. Kakinya gemetaran. Hampir copot dari engsel pergelangan kakinya.

“Ha ! Betul Dokter? Apa tidak salah?,” tanya Mbak Lola dengan nada setengah berteriak diliputi wajah setengah tidak percaya atas penjelasan dokter.

” Tidak Bu. Kami tidak salah. Itu hasil tes dari laboratorium,” ujar sang Dokter.

Wanita setengah baya itu hanya bisa menatapi hari dengan rasa berdosa yang tak terperikan. Rasa berdosa kepada suaminya yang dibiarkannya bak seonggok patung hiasan rumah. Rasa bersalah atas segala perbuatannya. Dan rasa bersalah kepada semua penghuni Kampung yang telah dibohonginya bertahun-tahun.

Kini bersama doa-doa yang terus digemakannya dengan air mata dosa menjadi diorama kehidupan Mbak Lola yang baru. Sebuah kehidupan babak kedua yang dijalaninya menuju waktu ajal tiba. Sebelum Izrail tiba.
Sementara di kejauhan terdengar lirik lagu lawas yang dinyanyikan Kiki Maria yang berjudul Karma.

Karma…karma…
t’lah menimpa hidupmu…
Uh.. karma.. karma…
haruskah dipercaya ?
karma.. karma… mestikah diterima ?

Karma… mungkin…
tak menggoyahkanmu jua..
Uh.. karma… karma…Uh….

Toboali, Minggu pagi, 5 Desember 2021

Karya : Rusmin Toboali

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts