Harga Karet Tak Kunjung Naik, Petani Makin Menjerit

Kamis, 29 Juli 2021
Petani saat hendak menjual karetnya.

Laporan: M Alparizi

Empat Lawang, Sumselupdate.com –Beberapa bulan terakhir, harga komoditi karet di Kecamatan Tebing Tinggi, semakin anjlok dan tak kunjung naik. Saat ini salah satu hasil komoditi unggulan di Kabupaten Empat Lawang itu, hanya dihargai Rp6000 perkilogram.

Kondisi ini membuat petani menjerit, apalagi disusul juga dengan lonjakan harga kebutuhan bahan pokok (sembako, red).

“Pengepul cuma sanggup membeli Rp6000 perkilogram. Kalau kita bawa hasil sadapan ke touke di pasar, terkendala biaya angkut cukup mahal,” keluh Effendi (36), petani karet di Desa Pancurmas Kecamatan Tebing Tinggi.

Kata Effendi, meskipun harga karet anjlok drastis, petani tidak bisa menghentikan aktivitas penyadapan, karena desakan kebutuhan ekonomi.

Seyogyanya jika harga karet normal di kisaran Rp9000 perkilogram, dalam dua hari petani bisa mendapatkan sekitar Rp180.000 untuk 20 kilogram karet.

Itupun jika punya kebun karet sendiri dengan rata-rata hasil sadapan 20 kilogram. Lebih miris lagi, kata Effendi, sebagian besar petani adalah buruh sadap yang harus membagi tiga hasil panen.

“Dua hari di sadap harus libur satu hari, agar kondisi pohon karet tetap stabil,” jelas Effendi menambahkan, kalau di sadap tiap hari maka pohon karet akan stress dan  kuantitas getah pun berkurang.

Sementara itu, Bur (43), petani lainnya mengatakan, anjloknya harga karet membuat petani kian sulit. Dijelaskannya, harga karet di pengepul keliling hanya Rp6000 perkilogram, tapi kalau dibawa ke touke besar hanya mencapai kisaran Rp8000-9000 perkilogram.

“Harapannya harga karet bisa normal lagi, apalagi sekarang kebutuhan ekonomi meningkat akibat kenaikan harga BBM,” ungkapnya.

Sementara itu Sul, touke karet mengakui, anjloknya harga karet terjadi beberapa bulan terakhir. Untuk jenis kualitas baik atau tatal jarang (TJ) masih dalam kisaran Rp9000 perkilogram.

Sedangkan jenis tatal sedang (TS) bisa jadi tembus Rp6500 atau di bawah lagi perkilogramnya. Tergantung juga harga dari pengepul keliling, karena sebagian besar petani lebih memilih menjual di kebun langsung dijemput.

“Kita belum tahu kenapa harga karet turun, tapi pengaruh kualitas juga sangat penting,” katanya.

Ia menambahkan, hingga saat ini kualitas produksi karet dari Tebing Tinggi, belum begitu diminati, jadi wajar saja kalau harga jual berbeda jauh dengan di daerah lain seperti Musirawas.

Mengenai anjloknya harga touke juga tidak bisa berbuat banyak. Karena yang mematok harga itu pengumpul besar dan perusahaan pengepresan (remiling). Namun ya itu tadi, jika kualitas karet lebih baik tentu harga jual akan lebih meningkat.

“Kita harus perbaiki kualitas hasil produksi dulu, nah ini perlu dukungan semua pihak termasuk pemerintah daerah,” imbuhnya. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts