Di ufuk timur, mentari terbangun dari mimpi panjangnya. Selembar baju putih lengan panjang itu telah hadir menghiasi jemuran di samping rumah itu. Baju putih lengan panjang itu bak menunggu siraman hangatnya sinar matahari yang hadir mencerahkan bumi dengan ikhlas.
Dan setiap mentari mulai menyinari alam raya, pemilik rumah selalu melihat baju putih lengan panjang itu telah tergantung dijemuran samping rumahnya.Awalnya, sebagai pemilik rumah, perempuan tua kaget. Lama-lama sang pemilik rumah jadi terbiasa. Sudah amat terbiasa.
Demikian pula dengan para tetangga pemilik rumah. Awalnya selalu menanyakan asal usul baju putih itu. Tapi lama kelamaan, mereka seolah paham dan tidak pernah bertanya lagi tentang asal usul baju putih yang selalu hadir setiap mentari tiba. Warga Kampung seakan-akan mahfum atas kehadiran baju putih lengan panjang yang selalu setia tergantung di jemuran rumah yang kini ditempati oleh perempuan tua itu.
Sebelum ditempati perempuan tua dari Kota itu, rumah itu adalah milik seorang tokoh Parpol yang amat terkenal namanya di seantero jagad dunia politik negeri ini. Wajahnya sudah tak asing lagi bagi publik. Hampir setiap hari wajahnya dapat dilihat di televisi. Demikian juga dengan komentar cerdasnya, dapat dibaca di koran. Hampir setiap hari pula. Dan masyarakat sekitar rumahnya memanggilnya dengan sebutan Pak Politisi.
Sebagai warga Kampung, Pak Politisi dikenal amat akrab dengan warga. Hampir setiap waktu, dia selalu berkumpul dengan masyarakat, walaupun durasinya cuma dalam temo 15 sampai 30 menit. Dan biasanya selalu saja ada buah tangan yang dia berikan kepada warga yang ditemuinya. Apakah di warung, atau pos ronda. Selalu ada-ada saja buah tangan yang dibawakannya untuk warga yang sedang berkumpul. Mulai dari kopi, rokok hingga kue untuk dinikmati warga. Warga selalu merindui kehadirannya saat para warga sedang berkumpul bersama.
Sungguh tak heran pula, bila warga Kampung merasa sangat terayomi dengan kehadiran Pak Politisi di Kampung mereka. Jalan menuju Kampung mereka pun mulus. Di hotmix. Demikian pula dengan bantuan untuk masyarakat lemah selalu ada untuk masyarakat.
Kehadiran Pak Politisi di kampung membuat bangunan sekolah menjadi apik. Puskesmas Kampung kini dilengkapi ruang rawat inap sehingga para warga tak perlu harus ke Rumah Sakit di Kecamatan. Semuanya berkat Pak Politisi.
“Alhamdulillah. Berkat kehadiran Pak Politisi disini, di kampung kita , sekarang terlihat banyak kemajuan di daerah kita,” ungkap seorang warga saat mereka berkumpul di Pos Ronda di ujung Kampung.
“Itu baru benar-benar politisi. Berjuang untuk rakyat. Bukan cuma sekedar cuap-cuap di telepisi tapi rakyat tak merasakan narasinya,” jawab seorang warga yang lain.
“Seandainya, beliau jadi pemimpin, barangkali kita sebagai rakyat makmur, ya?,” celetuk warga yang lain.
Malam makin menjauh. Sejauh pikiran warga Kampung yang menginginkan Pak Politisi menjadi pemimpin. Pemimpin sejati mereka, para kaum kecil. Desis angin malam mulai menerjang tubuh warga yang sedang patroli di Pos Ronda. Titik-titik embun mulai berjatuhan. Membasahi dedaunan.
Warga Kampung geger. Mereka tak menyangka kelakar mereka di Pos Ronda malam itu seolah akan menjadi kenyataan. Lewat televisi, mereka mendengar nama Pak Politisi digadang-gadang sebagai Calon Wakil Presiden. Semua warga Kampung menyambut berita gembira di telepisi itu dengan sukacita. Mereka bersyukur. Sejuta kebahagian terhampar di jiwa masyarakat kecil ini. Bahkan ada warga yang sujud syukur setelah mendengar langsung berita itu lewat layar kaca.
“Semoga berita itu jadi kenyataan,” ujar warga Kampung dengan nada suara penuh kegembiraan.
“Kita berdoa saja. Memohon kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Semoga Pak Politisi benar-benar menjadi calon Wakil Presiden,” kata seorang pemuka agama.
Malam itu kesibukan di rumah Pak Politisi mulai terlihat ramai bahkan sangat ramai sekali. Sejak sore, para warga secara gotong royong sudah memasang tenda di halaman rumahnya yang asri. Kursi-kursi sudah tertata rapi. Berbagai mobil berklas dan berharga mahal hilir mudik menuju rumah Pak Politisi Mereka adalah elite Parpol yang akan mengusung Pak Politisi sebagai Capres.. Maklum menjelang masa pendaftaran Presiden dan Wakil Presiden, nama Pak Politisi terus disebut oleh para petinggi Parpol sebagai kandidat kuat pendamping Calon Presiden.
“Insya Allah, kami dari Parpol pengusung secara resmi sudah menyampaikan nama Pak Politisi sebagai Wakil Presiden kepada Calon Presiden,” ujar Sekretaris Parpol kepada para jurnalis yang menunggu di halaman rumah Pak Politisi.
“Nama calon Wakil Presiden sudah mengerucut kepada dua nama. Salah satunya nama Pak Politisi,” sambung Elite Parpol yang lain.
“Soal siapa yang akan dipilih sebagai Calon Wakil Presiden, semuanya tergantung kepada Calon Presiden. Karena untuk menentukan Calon Wakil Presiden ada ditangan Calon Presiden. Nama Calon Wakil Presiden adalah hak prerogatif Calon Presiden,” ungkap Pengurus Parpol lainnya dengan narasi penuh teka teki.
Masyarakat Kampung pun kecipratan rezeki. Penjualan makanan di warung laku keras. Maklum mereka yang datang ke rumah Pak Politisi hingga dinihari. Kampung mereka bak pasar malam. Kampung yang dulunya tak ada dalam peta, kini mendadak menjadi buah bibir masyarakat. Bahkan sebuah media televisi membuat reportase tentang Kampung mereka.
Beberapa jam menjelang masa pendaftaran Presiden dan Wakil Presiden, tiba-tiba rumah Pak Politisi mendadak sepi. Lampu tak menyala. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah itu. Sepi. Sunyi. Tak berpenghuni. Pak Politisi dan keluarganya pun tak terlihat lagi batang hidungnya. Entah kemana.
Demikian pula ketika masa pendaftaran Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden telah berakhir. Rumah itu kembali sunyi. Tak ada sama sekali aktivitas kehidupan di dalam rumah yang megah itu. Apalagi sejak nama Pak Politisi hilang dalam bursa Calon Wakil Presiden. Rumah itu seolah tak berpenghuni.
Warga sekitar hanya melihat selembar baju putih lengan panjang yang selalu tergantung di jemuran yang terletak samping rumah Pak Politisi.
Karya : Rusmin Toboali
Pengirim : Rusmin Toboali











