Laporan: Novrico Saputra
Pagaralam, Sumselupdate.com – Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan sangat berpotensi terjadinya bencana alam seperti tanah longsor, banjir bandang, puting beliung, kebakaran hutan hingga gempa.
Besarnya potensi terjadi bencana alam ini dikarenakan Pagaralam berada di dataran tinggi dan letaknya di kelilingi sungai.
Mirisnya, meski potensi bencana alam sangat besar terjadi, hingga saat ini Pagaralam belum memiliki peta mitigasi yang sangat dibutuhkan untuk langkah antisipasi.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pagaralam Hardensi kepada Sumselupdate.com, Senin (14/12/2020), mengatakan, untuk membuat peta mitigasi membutuhkan dana besar dan waktu yang lama.
Menurutnya, untuk membuat mitigasi paling tidak membutuhkan waktu empat bulan dengan alat-alat canggih.
Dengan besarnya dana dan waktu pembuatan peta mitigasi yang cukup panjang, pihaknya sudah mengajukan ke Pemprov Sumsel dan pemerintah pusat.
Diakuinya, penyusunan peta mitigasi memang sangat dibutuhkan sekali, karena bertujuan agar masyarakat paham betul yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri bila terjadi bencana.
“Pemetaan tersebut diharapkan bisa membantu masyarakat di wilayah dengan status rawan bencana untuk siap siaga dalam melakukan langkah mitigasi,” jelasnya.
“Sebenarnya hampir semua kawasan di Indonesia ini rawan bencana. Tapi memang Pagaralam karena ada di kaki Gunung Dempo memiliki potensi bencana erupsi Gunung Merapi,” tambahnya.
Hardensi mengatakan, selain Pagaralam, daerah yang rawan terjadi bencana alam yakni di Kabupaten Lahat dan Empat Lawang, karena berada di bawah kaki Gunung Dempo.
Dikatakan Hardensi lagi, meski belum memiliki peta mitigasi, pihaknya sudah membuat jalur evakuasi dan kawasan titik pengungsian jika terjadi erupsi di Gunung Dempo.
“Jalur evakuasi sudah ada, bahkan kawasan-kawasan titik aman jika terjadi erupsi Gunung empo sudah kita tetapkan,” pungkasnya. (**)











