Laporan Azwar Anas
Muaraenim, Sumselupdate.com – Dua pekan sudah peristiwa jebol dan longsornya tanggul air di Tambang Air Laya Barat PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Namun hingga kini keberadaan Federik Hansen Sagala, operator alat berat PT PAMA Persada Nusantara yang diduga tertimbun material lumpur, belum juga ditemukan.
Berbagai pihak pun menaruh perhatian terhadap peristiwa ini, salah satunya dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Provinsi Sumatera Selatan.
Direktur Eksekutif Walhi Sumsel Hairul Sobri saat dihubungi Sumselupdate.com, Rabu (14/10/2020) menyebut, penting untuk dilakukan penggalian informasi mendalam baik adminstrasi maupun fakta-fakta di lapangan.
Ia pun meminta pihak terkait segera melakukan review perizinan dan pemulihan baik lokasi tambang maupun areal terdampak.
Hairul Sobri melanjutkan, peristiwa jebol dan longsornya tanggul di areal tambang ini adalah bukti bahwa eksploitasi SDA yang rakus dan serakah akan memunculkan bencana ekologis.
“Jika kajian lingkungan hidup terus diabaikan, dan izin terus melegalkan aktivitas pertambangan maka ini sama saja dengan dukungan terhadap meningkatnya intensitas bencana ekologis yang akhirnya akan membebani rakyat,” pungkasnya.
Terpisah, Direktur Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Dirjen Minerba Kemen ESDM, Lana Saria mengatakan, pihaknya masih melakukan proses investigasi terhadap peristiwa longsornya tanggul air di area tambang PTBA tersebut.
“Kejadian tersebut masih dilakukan proses investigasi. Kami belum bisa memberikan keterangan apa-apa,” ungkapnya, saat dikonfirmasi, Kamis (8/10/2020) via WhatsApp.
Sebelumya, Manajer Humas, Komunikasi dan Administrasi Korporat PTBA Iko Gusman saat dikonfirmasi Sumselupdate.com mengatakan, saat ini perusahaan masih fokus melakukan evakuasi akibat kejadian longsor di Tambang Air Laya Barat.
“Selain itu juga perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi tambang guna memastikan keamanan operasional tambang karena keselamatan dan keamanan para pekerja adalah prioritas utama perusahaan,” kata Iko, Rabu (7/10/2020).
Iko melanjutkan, Emergency Rescue Team (ERT) baik dari PTBA maupun PAMA, Tim BASARNAS serta Tim Pendukung lainnya terus berupaya bekerja keras dan fokus siang dan malam dalam proses evakuasi.
Selain menggunakan alat berat, tambahnya, proses evakuasi juga memanfaatkan peralatan dengan teknologi untuk mempercepat proses pencarian.
“Beberapa teknologi yang digunakan di antaranya metal detector milik PTBA, Echo Sounder dari Unsri, GPR (Ground Penetration Radar) dari Basarnas dan peralatan pendukung lainnya,” pungkas Iko.
Sebagaimana diketahui, tanggul air yang berada di Tambang Air Laya Barat PT Bukit Asam (PTBA) Tbk pada galian PT PAMA Persada, mendadak jebol pada 1 Oktober 2020, sekitar pukul 5.15 wib.
Tak pelak peristiwa ini mengakibatkan excavator dan dozer yang ada di area tambang terendam banjir.
Tak hanya itu, akibat peristiwa mengenaskan ini satu orang operator karyawan PT PAMA hingga kini belum ditemukan. (**)











