Pasca-Tertangkapnya Harimau, Petani Kopi di Pagaralam Masih Waspada Saat Pergi dan Pulang ke Kebun

Jumat, 13 Maret 2020
Ilustrasi Harimau.

Pagaralam, Sumselupdate.com – Cerita serangan harimau Sumatera yang terjadi dari November 2019 hingga Januari 2020 hingga memakan banyak korban jiwa, masih membekas di ingatan petani kopi di Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan.

Teror serangan harimau sendiri mulai surut pasca-tertangkapnya seekor harimau Sumatera di Desa Plakat, Kecamatan Semendo, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan (Sumsel).

Read More

Hewan buas ini masuk dalam perangkap kerangkeng besi yang di dalamnya dipasang umpan seekor kambing oleh tim gabungan yang melibatkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) bersama TNI, polisi, dan  dibantu warga setempat pada Selasa (21/1/2020) lalu.

Dua bulan setelah tertangkapnya seekor harimau Sumatera ini, membuat warga khususnya petani kopi bisa bernafas lega.

Warga mulai berani untuk pergi ke kebun kopi yang selama ini memang menjadi sumber mata pencarian mereka.

Meski demikian kekhawatiran tetap ada, sebab warga masih traumatik lantaran korban dari keganasan hewan buas ini cukup banyak.

“Syukur alhamdulillah kami sangat bersyukur dan sedikit lega. Dengan tertangkapnya harimau di Desa Plakat kami bisa kembali mengolah lahan pertanian,” kata Wawan, seorang petani kopi di Pagaralam kepada Sumselupdate.com, Jumat (13/3/2020).

Kebun kopi warga di Desa Aur Duri, Kelurahan Karang Dalo, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam, Sumsel.

 

Wawan berharap harimau yang selama ini ditakutkan warga cuma satu ekor yang masuk perangkap di Desa Plakat, Kecamatan Semendo, Muaraenim dua bulan silam.

Dikatakan Wawan, meski warga sudah mulai berani pergi dan menginap di kebun kopi, akan tetapi mereka berharap petugas BKSDA atau pihak berwenang bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat terkait titik-titik keberadaan harimau yang saat ini masih hidup di habitatnya.

“Tentu kita masih takut karena ada harimau yang lain. Apalagi, saat heboh harimau dua bulan lalu, hewan buas ini melakukan serangan di beberapa lokasi yakni di Kota Pagaralam, Lahat, Muaraenim hingga kabarnya kabupaten lain,” ujarnya.

Berangkat dari rasa traumatik itu, Wawan mengaku, petani hingga kini masih meningkatkan kewaspadaan saat pergi dan pulang dari kebun kopi.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, serangan hewan buas ini terakhir menimpa Martam (56), warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah, Kabupaten Muaraenim, Sumatera Selatan.

Peristiwa ini terjadi saat korban hendak mencuci beras di pancuran Desa Muara Tenang, Semende Darat, Muaraenim, Kamis (9/1/2020), sekitar pukul 17.30.

Beruntung, Martam berhasil selamat dari maut setelah korban melakukan perlawanan dengan mengibaskan parang ke arah hewan buas ini.

Namun tak urung korban mengalami luka cukup serius di bagian paha kiri akibat cakaran harimau.

Sebelum peristiwa yang menimpa Martam, serangan harimau terlebih dahulu dialami Sulis (30), warga Talang Tinggi, Kecamatan Panangenim, Kabupaten Muaraenim.

Janda satu anak ini meninggal dunia dimangsa harimau saat mandi di tempat pemandian tak jauh dari kediamannya pada Jumat (27/12/2019) subuh.

Tak hanya Sulis, korban keganasan harimau Sumatera ini diduga kuat juga dialami Asfani alias Aswandi (57), warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Mulak Ulu, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan.

Korban ditemukan sudah tak bernyawa dengan kondisi sangat memilukan tergeletak tak jauh dari pondok kebun kopinya, Minggu (22/12/2019).

Saat ditemukan jasad korban sudah terpisah dan terpotong beberapa bagian. Hingga almarhum dibawa ke rumah sakit bagian dada korban belum ditemukan.

Sebelumnya hewan buas ini juga menewaskan Mustadi (55), warga Desa Pajar Bulan, Kecamatan Semendo Darat Ulu, Kabupaten Muaraenim.

Mustadi tewas dengan luka tercabik-cabik diterkam harimau saat berada di hutan wilayah Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan pada Kamis (12/12/2019).

Korban lainnya, Yudiansyah Haryanto (40), warga Dusun Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.

Korban ditemukan aparat dan masyarakat pada 5 Desember 2019 lalu dengan kondisi tubuh Yudiansyah Haryanto yang akrab disapa Yanto ini, sangat menggenaskan.

Selain isi perut sudah tidak ada lagi, paha dan kaki korban sudah kelihatan tulang. Pada tubuh korban juga kelihatan tulang rusuknya, dan kepala korban sudah dalam kondisi tak bisa dikenali lagi.

Sebelum Yanto, serangan harimau juga dialami Irfan (22), warga Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).

Irfan menderita luka berat dan cukup parah setelah diterkam harimau di dekat pemukiman warga yang tinggal di kawasan kebun teh Gunung Dempo Kota Pagaralam.

Harimau Sumatera yang meresahkan warga Kabupaten Muaraenim berhasil masuk perangkap.

 

Peristiwa yang menimpa warga Sekayu ini terjadi pada Jumat (15/11/2019), sekitar pukul 20.30 WIB.

Dua hari kemudian tepatnya pada 17 November 2019, serangan harimau kali ini dialami Kuswanto (28), warga Desa Pulau Panas, Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat.

Korban meninggal dunia diterkam saat sedang merumput (baca: menyiangi rumput) di kebun kopi. Kuswanto menemui ajal setelah lehernya diterkam harimau.

Sedangkan kejadian lainnya menimpa Marta Rulani (24) bin Alfian, warga Tebat Benawa, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam.

Korban diterkam harimau di bagian paha sebelah kanan dengan luka gigitan dan cakaran kuku hewan buas tersebut. Beruntung korban selamat dari maut.

Peristiwa menggegerkan warga Kota Pagaralam ini terjadi, Senin (2/12/2019) sekitar pukul 09 00. Serangan hewan buas ini saat korban sedang menyiangi rumput di kebun kopi. (ric)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts