Palembang, Sumselupdate.com – Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya menerima kunjungan Tim Kajian Daerah (Kajida) Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional yang diketuai Mayjend TNI Afanti Suloli, di Ruang Rapat Gubernur, Senin (4/11/2019).
Mayjend TNI Afanti Suloli mengatakan kedatangan tim Kajida ke Palembang guna mengkaji dan mendapatkan data-data akurat terkait berbagai hal, seperti bidang Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), lingkungan hidup dan kehutanan, karhutla, pengelolaan sampah, serta budaya.
“Hasil kajian tersebut nantinya akan dijadikan sebagai bahan rujukan dan rekomendasi serta dilaporkan kepada Presiden Jokowi,” ujar Mayjend TNI Afanti saat bertemu Mawardi.
Sementara itu Wakil Gubernur Sumsel kepada tim Kajida menyampaikan sejumlah hal sebagai bahan masukan untuk dikaji. Adapun berbicara ketahanan nasional pada akhirnya menuju satu muara, yaitu NKRI yang dipengaruhi banyak faktor.
“Pertama, secara geografis Sumsel masih banyak daerah terisolir atau rawa yang mengakibatkan timbulnya karhutla. Ini menjadi momok tersendiri, utamanya saat musim kemarau. Upaya pemadaman telah dilakukan, namun sangat sulit sehingga mengganggu aktivitas di segala bidang yang berdampak pada perekonomian,” jelas Mawardi.
Kemudian secara demografi kondisi Sumsel tergolong aman, kondusif dan damai. Masyarakat dapat hidup berdampingan dengan beragam suku, agama dan ras. Namun sektor sumber daya alam perlu menjadi perhatian. Sejauh ini masyarakat di daerah penghasil tambang, dan migas justru tingkat kemiskinannya paling tinggi, seperti Muratara, Muba dan Lahat.
“Masukan bagi pemerintah pusat, bagaimana pengelolaan dana bagi hasil migas ini dapat dikaji lebih lanjut dan dibuat rumusannya, agar tingkat kesejahteraan hidup masyarakat dapat berbanding lurus dengan daerahnya sebagai sumber tambang dan migas,” tegasnya.
Dilanjutkan Mawardi, terkait masalah terorisme dan hukum situasi di Sumsel tergolong kondusif. Seperti disampaikannya beberapa waktu lalu, tidak ada simpul-simpul terorisme di Sumsel, namun tidak menutup kemungkinan sebagai wilayah perlintasan (transit). (rel)











