Palembang, Sumselupdate.com – Bulog Divre Sumsel-Babel mencatat ada sebanyak 35.000 ton beras masih tersimpan di gudang Bulog. Hal itu disebabkan rendahnya serapan beras Bulog pada program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Sumatera Selatan dan Bangka Belitung menyebabkan stok beras di gudang Bulog menumpuk.
Kepala Bulog Divisi Regional Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, Yusuf Salahuddin, kamis (29/11/2018) mengungkapkan, untuk tahun ini serapan beras Bulog yang terserap dari program BPNT sangat rendah dengan kisaran sebanyak 350 ton.
Dijelaskan Yusuf lebih lanjut, hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat menerima beras yang berasal bukan dari Bulog atau dari agen-agen beras lainnya. Kondisi ini tidak bisa dihindari karena pedoman umum program BPNT yang menyebutkan Bulog sebagai penyalur komoditi beras justru berbeda dengan prakteknya di lapangan.
“Program kebijakan BPNT dalam pedoman umumnya sudah menyebutkan bahwa penyedia komoditinya (beras-red) adalah Bulog tapi kenyataannya vendor lain masih bisa masuk ke program ini,” ujar Yusuf.
Yusuf mengaku saat ini Bulog menghadapi kondisi yang dilematis. Dengan jumlah cadangan beras Pemerintah yang menumpuk, Bulog juga dituntut menyerap hasil panen dari petani. Belum lagi target serapan beras dari petani yang jauh dari target yang diharapkan.
“Untuk tahun ini kami baru hanya mampu menyerap 20 persen hasil panen petani atau sekitar 15.800 ton sementara beras yang ada digudang sudah menumpuk. Apakah mungkin kami menyerap lagi beras dari petani sementara tidak ada jaminan pasar dari Pemerintah?” keluh Yusuf.
Lebih lanjut Yusuf berharap Pemerintah dapat segera mencarikan jalan keluar dari masalah yang dihadapi mengingat semakin bertumpuknya cadangan beras di gudang berpotensi akan menimbulkan masalah alinnya seperti ancaman penurunan kualitas beras yang tersimpan cukup lama. (adi)











