Palembang, Sumselupdate.com – Konflik dualisme kepemimpinan dengan munculnya dua pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Palembang membuat cabang olahraga ini dicoret dari Pekan Olahraga Kota (Porkot) X pada 11-18 November 2018.
Ketua KONI Kota Palembang Suparman Romans mengatakan, pembatalan tersebut lantaran tidak ada titik terang antara dua belah pihak yang berseteru di IPSI Kota Palembang, versi Azhari dan Wira.
Sebelum terjadi pembatalan, tadinya sudah ada kesepakatan bahwa urusan internal tidak dikaitkan dengan Porkot.
Artinya pihaknya mengedepankan kepentingan atlet, jadi dari versi manapun seluruh atlet yang ada itu diakomodir diberikan kesempatan mereka bertanding. Karena KONI pada prinsipnya, menginginkan atlet terbaik buka atlet dari perguruan mana.
“Jadi pembatalan tidak dipertandingkannya di Porkot sudah sudah melalui proses panjang seperti, mediasi, kompromi, musyawarah antar kedua belah pihak. Waktu itu sudah diadakan pertemuan dan mendapatkan hasil sepakat,” ujar Suparman, Jumat (9/11/2018).
Suparman menjelaskan, keputusan Koni untuk tidak dipertandingan pada Porkot, karena kemarin pada saat technical meeting (TM) pada saat itu penyelenggaraannya dari pihak pak Azhari, ternyata membuat kebijakan bahwa atlet-atlet yang disinyalir adalah perguruan dibawah naungan Wira tidak diperkenankan untuk itu dalam Porkot atau dicoret.
Oleh sebab itu, seluruh kontingen komplen dan melaporkan ke Koni Kota Palembang.
“Mendapatkan laporan tersebut, akhirnya kita memanggil kedua pihak yang berseteru, maka KONI harus mengambil langkah cepat dengan memutuskan yang mana terbaik. Nah, karena pada saat dirapatkan tidak ada jalan keluar yang baik atau kesepakatan, maka kita (KONI Kota Palembang-red) mengambil keputusan membatalkan pertandingan untuk cabor pencak silat,” ujarnya.
Lebih lanjut Suparman menjelaskan, pertimbangan tersebut diambil, karena kalaupun diputuskan tetap akan dipertandingkan, dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan di lapangan. Bukan tidak mungkin terjadi kontak fisik, karena ini juga olahraga yang memang kontak fisik, jadi lebih baik dibatalkan.
“Bukan saja cabor pencak silat yang terjadi kisruh internal yakni, cabor Sepatu Roda. Tetapi mereka memahami serta ada klarifikasi dari kedua belah pihak bahwa diputuskan semua atlet sepatu roda akan diakomodir dan tetap akan dipertandingkan, jadi hari ini ada dua keputusan yang berbeda,” bebernya.
Ia menambahkan, karena Porkot ini menjadi ajang evaluasi KONI, bahwa ke depan akan lebih ekstra hati-hati sebelum mengakomodir cabor apa saja yang akan dipertandingkan. Agar tidak kembali terulang kejadian serupa, kisruh di ujung. Tinggal persiapan pertandingan di lapangan akhirnya kisruh, kalau di awal-awal bisa ganti cabor lain.
“Kita berharap bahwa dengan adanya Porkot ini menjadi ajang selektivitas atlet yang benar-benar memiliki peluang peraih medali emas di Porprov. Kejadian ini sangat disayangkan padahal atlet sudah siap dengan melakukan latihan selama ini,” pungkasnya. (sbw)











