Palembang, Sumselupdate.com – Sederet hasil negatif yang diraih Sriwijaya FC dalam lima laga terakhir kompetisi Liga 1 membuat klub kebanggaan masyarakat Sumsel ini terus mendekati zona merah.
Dengan mengoleksi 27 poin dari 23 laga yang dijalani, Laskar Wong Kito kini menempati posisi ke 14 atau hanya berjarak tiga poin dari Perseru Serui yang menempati batas akhir zona degradasi.
Dari lima laga terakhir, peraih gelar double winner edisi musim 2007 itu hanya mampu mengumpulkan satu poin, saat menahan imbang Persebaya Surabaya 3-3 di laga kandang, 16 September.
Sedangkan empat laga lainnya berujung dengan kekalahan. Terakhir, Sriwijaya FC harus mengakui keunggulan PSM Makassar 0-2, di Stadion Matoangin Andi Mattalatta Makassar. Kekalahan ini merupakan yang ke-10 sepanjang musim.
Miris, Sriwijaya FC yang berpredikat sebagai salah satu tim papan atas tanah air sejauh ini harus berjuang untuk tidak terlempar dari kasta tertinggi sepakbola tanah air. Situasi Sriwijaya FC sendiri mengundang prihatin dari sejumlah pihak.
Salah satu yang menyoroti performa Sriwijaya FC ialah Hendri Zainuddin. Mantan manajer Sriwijaya FC itu mengaku prihatin karena klub dengan reputasi besar kesulitan bersaing di kompetisi Liga 1.
Dia meminta kepada PT Sriwijaya Optimis Mandiri selaku manajemen klub, agar lebih fokus memperbaiki performa tim dan segera mengambil langkah strategis untuk menyelamatkan Sriwijaya FC.
Dia juga meminta agar manajemen tidak hanya sibuk melakukan pencitraan, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat Sumatera Selatan maupun suporter Sriwijaya FC.
“Dengan mengumbar janji akan mendatangkan investor, dan dalih menjadikan Sriwijaya FC lebih profesional ini tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik mereka memikirkan, bagaimana agar Sriwijaya FC jangan sampai degradasi,” kata Hendri, Senin (24/9/2018).
“Kenapa baru sekarang PT SOM memikirkan untuk menjadi manajemen klub yang profesional dan kenapa tidak dari dulu. Disaat tim dalam kondisi terpuruk, sebagai dampak dari evaluasi besar-besaran yang dilakukan di tengah kompetisi,” terangnya.
Menurut Hendri, evaluasi itu dilakukan untuk memperbaiki performa tim yang tidak maksimal. Tapi ini justru sebaliknya, evaluasi dilakukan dengan melepas delapan pemain inti dan seluruh jajaran pelatih.
Padahal, performa Sriwijaya FC saat itu terbilang cukup stabil. Sriwijaya FC berada di jalur yang benar dalam persaingan memperebutkan trofi juara Liga 1. Hendri mengaku, dirinya sama sekali tidak mengerti dengan keputusan tersebut.
Apalagi sejak awal musim kompetisi, manajemen menyebut kondisi keuangan klub cukup stabil, sehingga berani mendatangkan pemain bintang serta pelatih berkualitas dan menargetkan juara.
“Tapi tiba-tiba manajemen klub beralasan, mereka melepas pemain dan pelatih untuk menghemat pengeluaran tim. Ini kan aneh,” ujar anggota DPD RI Dapil Sumsel itu. (tra)











