Lampung, Sumselupdate.com – Kisah haru bertemunya Andre Kuik, anak yang diadopsi warga Belanda sejak 40 tahun lalu dengan ibu kandungnya, Kartini, warga Pringsewu, Lampung, menjadi berita viral di dunia maya dua hari terakhir.
Seperti dilansir BBCIndonesia, Sabtu (4/5/2018), Andre Kuik tak dapat menahan tangis ketika bertemu Kartini pasca 40 tahun terpisah. Andre yang diadopsi warga Belanda sejak berusia lima bulan dan tinggal di Belanda ini pun tak menghiraukan rasa lelahnya usai menempuh perjalanan dari Belanda ke Pringsewu, Lampung, begitu bertemu dengan ibu kandung, kakak laki-laki dan adik perempuannya untuk pertama kalinya.
Perjalanan Andre Kuik dan pasangannya, Marjolein Wissink, ke Lampung pada pertengahan April lalu ini merupakan yang ketiga kalinya. Namun berbeda dengan sebelumnya, pada perjalanan kali ini dia bisa bertemu dengan ibu kandungnya, Kartini (65 tahun) serta saudara kandungnya.
“Sangat bahagia, gugup dan saya sangat merasakan mereka sangat dekat,” ujar Andre ketika tiba di Pringsewu, beberapa kilometer dari rumah ibunya.
Kegelisahan nampak di wajah Andre dan matanya melihat ke setiap sudut kampung dari jendela mobil ketika dia kian mendekati kediaman ibu kandungnya. Dari balik jendela mobil, puluhan warga desa tampak berkerumun dan tampak penasaran menanti kedatangan ‘si anak hilang’ ini.
Andre mempercepat langkahnya begitu melihat sosok perempuan kecil berkerudung hitam yang berdiri di depan rumah menyambut kedatangannya.
Keduanya berpelukan erat dan menangis, seluruh keluarga dan juga tetangga ibunya mengelilingi mereka dan ikut menangis.
“Saya merasa ini tidak nyata, ” kata Andre.
“Seneng banget, anak hilang iso ketemu meneh (bisa bertemu kembali), iso balik meneh(bisa kembali lagi), anak lanang bisa balik (anak laki-lakiku bisa kembali), ” kata Kartini dalam bahasa Indonesia dan Jawa.
Kartini Hanya Sempat Menyusui Empat Hari
Kartini hanya sempat menggendong dan menyusui Andre ketika baru lahir sampai berusia empat hari pada Februari 1978 lalu. Ayah Andre, Theo Kohler, yang diperkirakan memiliki darah campuran Jawa dan Eropa, mendesak Kartini untuk meninggalkan anak laki-laki ketiganya di rumah sakit Panti Secanti, Gisting Lampung.
Kartini sempat kembali lagi ke rumah sakit bersama dua anaknya Wely dan Untung, namun tidak dapat menemui anaknya.
“Katanya udah nggak bisa ketemu, sampai di rumah saya ngomong sama suami, marahlah kok ibu ga boleh ketemu anaknya, suami diam saja,” ungkap Kartini.
Setelah itu dia tak pernah mendengar kabar bayinya yang tak sempat diberi nama. ” Sempat ingin mencari tapi ke mana, saya sempat sakit mikirin anak hilang,” ujar Kartini.
Dia terus bertanya kepada suaminya mengenai keberadaan Andre, namun tak pernah mendapatkan jawaban. Ketika hamil anak keempat, Theo meninggalkan Kartini dan tak terdengar kabarnya sampai sekarang.
Pada usia lebih dari empat bulan, Andre diadopsi warga Belanda Jan Kuik dan Mieke Kuik. Dalam dokumen adopsi dan akta notaris, orang tua angkat Andre mendapatkan anak angkatnya dari Yayasan Pangkuan si Cilik di Jakarta yang dipimpin oleh Lies Darmadji pada 23 Juni 1976.
Tak jelas bagaimana Andre bisa berada di Yayasan tersebut ketika masih bayi.
Dari Jakarta, Andre dibawa pasangan Kuik ke Den Ham Belanda. Di sana Andre dibesarkan bersama kakak angkat laki-laki dan perempuan asal Thailand dan adik angkat dari Indonesia.
“Di rumah dibicarakan secara terbuka mengenai masalah adopsi, orang tua saya selalu mengatakan kalau kamu mau kembali ke tanah air kamu, kami akan mendukung,” jelas Andre.
Namun semasa kecil, Andre mengaku tak pernah terlalu mempermasalahkan tentang statusnya sebagai anak adopsi.
“Saya selalu (hidup) bahagia dan tidak mempermasalahkan tentang adopsi, tapi saya penasaran mengenai asal saya, wajah saya mirip siapa apakah ayah atau ibu saya, apakah saya punya saudara laki-laki dan perempuan” ungkap Andre.
Saat ini Andre telah mengetahui bahwa dia memiliki dua kakak laki-laki Wely dan Untung serta seorang adik perempuan Dewi Agustina. Salah satu kakaknya, Untung telah meninggal saat masih kecil karena sakit.
“Kalau wajahnya mirip sama ayahnya,” kata Kartini sambil menatap wajah anaknya yang ketiga itu.
Andre mengaku lega ketika mengetahui Kartini tidak berniat menyerahkan dirinya dan pernah menyusuinya selama empat hari. “Saya tahu ia tidak berniat menyerahkan saya,” kata Andre.
Dalam kunjungan yang berlangsung selama satu pekan, Andre ingin lebih jauh mengenal keluarganya, melalui makanan, kebiasaan dan pekerjaan mereka, antara lain ikut ke sawah dan melihat pembuatan batu bata, yang menjadi pekerjaan sehari-hari kakak dan adiknya.
“Saya akan belajar bahasa Indonesia, sehingga bisa berkomunikasi secara langsung ketika saya kembali lagi (ke sini) tahun depan,” kata Andre.
Pada 2013 lalu, Andre dan Marjolein sebenarnya telah berkunjung ke Indonesia dan menyempatkan diri ke Lampung. Kunjungan pertama ke negara asalnya itu meninggalkan kesan mendalam.
Setahun berikutnya, Andre dan Marjolein sempat mencari orang tuanya lewat para suster di Rumah Sakit Panti Secanti tempat dia lahir. Meski sempat bertemu dengan seseorang yang mengenal ayahnya, dia tak berhasil menemukan keluarganya.
“Suster di klinik tempat saya lahir, menawarkan diri untuk ikut mencari, kebetulan ada kenalan dari orangtua saya di Gisting, Lampung, dia bisa sedikit cerita tentang orang tua saya,” jelas Andre.
Namun pertemuan dengan kenalan ayahnya di masa muda tak memberinya petunjuk berarti untuk dapat menemukan orang tuanya. Meski begitu, Andre tetap menyimpan keinginan bertemu dengan orang tua kandungnya, terutama setelah kelahiran putranya yang kini berusia 1,5 tahun.
Dengan bantuan Yayasan Mijn Roots, akhirnya pada medio April 2018 dan setelah memastikan bahwa Kartini merupakan orang tua Andre melalui tes DNA, maka Andre Kuik berhasil menemukan ibu kandung dan saudara-saudaranya di Peringsewu, Lampung.
Diketahui, Yayasan Mijn Roots didirikan oleh Christine Verhaagen dan Ana van Keulen tiga tahun lalu untuk membantu anak-anak adopsi menemukan orang tua kandung mereka.
Melalui berbagai sumber Yayasan Mijn Roots menemukan sekitar 3.000 anak Indonesia diadopsi pada kurun waktu 1974-1983, kebanyakan oleh warga Belanda, beberapa oleh WN Swedia, Prancis, Islandia, Jerman dan negara Eropa lainnya. (shn)











